KabarMakassar.com — Bupati Toraja Utara Frederik Victor Palimbong mengajak masyarakat membangun budaya memilah sampah sejak dari rumah. Hal tersebut disampaikan saat menghadiri peringatan World Cleanup Day (WCD) 2026 di Alun-Alun Kota Rantepao, Jumat (02/10).
Kegiatan yang dirangkaikan dengan sosialisasi Palang Merah Remaja (PMR), Palang Merah Indonesia (PMI), dan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah.
Dalam sambutannya, Frederik menegaskan bahwa menjaga kebersihan lingkungan harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Masyarakat didorong membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah, terutama sampah organik, anorganik, dan residu.
“Yang kita lakukan adalah mulai mengedukasi dari rumah, dengan memilah sampah dan memastikan rumah serta lingkungan kita bersih. Pemisahan sampah organik, anorganik dan residu harus dimulai dari rumah,” ujar Frederik.
Menurutnya, gerakan menjaga kebersihan tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi perlu menjadi kebiasaan sehari-hari. Ia juga mengajak masyarakat menjadi contoh bagi lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan.
“Jadikan diri kita sebagai contoh yang baik. Jangan membuang sampah sembarangan. Hal-hal kecil harus kita mulai dari diri sendiri,” katanya.
Frederik juga mengajak masyarakat saling mengingatkan dengan cara yang baik apabila menemukan perilaku membuang sampah sembarangan.
Ia turut menyoroti kondisi sejumlah sungai di Toraja Utara yang dalam beberapa waktu terakhir ditemukan memiliki tumpukan sampah. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kebiasaan sebagian masyarakat membuang sampah ke sungai.
“Beberapa minggu terakhir kita melihat kondisi sungai yang kering, dan ketika air surut terlihat sampah. Artinya, masih ada masyarakat yang menjadikan sungai sebagai tempat sampah. Kebiasaan ini harus kita hentikan,” tegasnya.
Frederik mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam pelaksanaan WCD 2026, mulai dari pemerintah kecamatan, organisasi kepemudaan, komunitas lingkungan, TNI/Polri, PMI, organisasi masyarakat hingga pelajar.
Ia berharap semangat gotong royong dalam kegiatan tersebut dapat terus dilanjutkan dan menjadi budaya di tengah masyarakat Toraja Utara.
“Dimulai dari diri kita, dimulai dari keluarga kita, kemudian lingkungan kita. Mari kita tularkan kebiasaan baik ini kepada masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Panitia WCD 2026 Toraja Utara Veronika Sule mengatakan kegiatan tersebut juga diarahkan untuk membentuk karakter anak dan pelajar, termasuk di wilayah pedesaan, agar mampu menjadi pemimpin atau penggerak di lingkungannya.
“Sasaran utama kita untuk anak pelajar kita itu pembentukan karakter, bagi generasi muda mudi belajar untuk peduli lingkungan,” kata Veronika.
Ia menyebut terdapat tiga sasaran utama dalam kegiatan tersebut. Pertama, membentuk karakter generasi muda agar peduli terhadap lingkungan. Kedua, mengajak masyarakat Toraja Utara berpartisipasi dan bertanggung jawab terhadap sampah masing-masing. Ketiga, mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan.
Selain itu, pembersihan sampah diprioritaskan di kawasan sungai karena masih banyak laporan mengenai kebiasaan masyarakat membuang sampah ke sungai.
“Harapannya semoga Toraja Utara lebih maju dan bersih, dan sasaran kita semoga ke depan Toraja Utara bisa menjadi kota Adipura,” harap Veronika.
WCD 2026 di Toraja Utara melibatkan sejumlah unsur, di antaranya organisasi perangkat daerah (OPD), TNI/Polri, SMK Nusantara, SMK Tagari, SMK Harapan, SMA Pelita, Remaja Kalpataru, pemerhati lingkungan, sejumlah puskesmas, pemerintah kecamatan, PWGT Jemaat Rantepao, serta berbagai organisasi, komunitas, dan sponsor.
Aksi bersih lingkungan dilaksanakan di tiga titik, yakni Jembatan Tagari, To' Saruran, dan Jembatan Malanggo.
Penulis: Jerni Bening