Langsung ke konten
News

Udara Makassar Kurang Sehat, BMKG: Bukan Kendaraan tapi Asap Karhutla

Kualitas udara Makassar masuk kategori kurang sehat akibat asap karhutla dari Kalimantan. BMKG menyebut PM2,5 meningkat pada malam hingga pagi hari.

Nofisari
Suasana Makassar (Dok: Ist)
Suasana Makassar (Dok: Ist)

KabarMakassar.com - Kualitas udara di Makassar memburuk akibat asap karhutla Kalimantan, BMKG mengungkap pemicunya.

Konsentrasi PM2,5 terpantau meningkat hingga membuat kualitas udara berada pada kategori kurang sehat dalam beberapa waktu.

Melihat kondisi yang tengah terjadi di Makassar dan sekitarnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menduga penurunan kualitas udara ini dipicu oleh sebaran partikel asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terbawa oleh angin dari luar wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel).

Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Asriani Idrus, menjelaskan bahwa berdasarkan pemantauan kualitas udara di Maros dan sekitarnya, termasuk Makassar, terjadi peningkatan konsentrasi Particulate Matter (PM2,5) yang signifikan.

"Beberapa hari ini terpantau kualitasnya untuk indikator PM2,5 Maros dan sekitarnya, termasuk Makassar, masuk dalam kategori kurang sehat hingga sedang," ujar Asriani dalam keterangannya pada Senin (05/10).

Berdasarkan catatan BMKG, Asrinani menybut bahwa peningkatan konsentrasi PM2,5 tidak terjadi sepanjang hari, melainkan fluktuatif pada jam-jam tertentu.

Lonjakan polusi udara paling tinggi umumnya terdeteksi mulai malam hari, dini hari, hingga pagi menjelang siang. Kondisi tersebut baru membaik ketika memasuki siang hingga sore hari.

"Kategori kurang sehat biasanya terjadi pada dini hari, tengah malam, hingga pagi hari. Hari ini terpantau sampai jam 11.00 WITA, dan pas jam 12.00 WITA sudah kembali membaik," terangnya.

Berdasarkan analisis dinamika atmosfer dan pergerakan angin, ia menangkan partikel debu halus dan asap berpotensi besar terintegrasi ke dalam aliran udara yang masuk ke Sulsel.

Asriani menyebutkan, pergerakan angin dari arah barat hingga barat laut menjadi koridor utama pembawa materi asap karhutla dari Pulau Kalimantan menuju Sulawesi Selatan.

Sebaliknya, apabila pola angin dominan bertiup dari arah timur, asap karhutla dari wilayah Papua dan Maluku juga memiliki potensi serupa untuk melintasi dan memengaruhi kualitas udara di Sulsel.

"Penyebab utamanya berasal dari asap kebakaran hutan. Melihat pola arah angin yang umumnya bertiup dari barat, besar kemungkinan partikel ini terbawa dari Kalimantan menuju wilayah Sulawesi Selatan," tuturnya.

Ia menepis anggapan bahwa peningkatan polusi ini disebabkan oleh lonjakan emisi transportasi lokal. Menurut penilaian BMKG, kontribusi kendaraan bermotor saat ini masih dalam batas normal dan belum menjadi faktor dominan.

"Kalau asap kendaraan kayaknya belum. Karena masih normal-normal saja. Jadi faktor utamanya asap," katanya.

BMKG memperingatkan bahwa ancaman penurunan kualitas udara di Makassar masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Hal ini disebabkan oleh masih tingginya aktivitas titik panas (hotspot) yang terdeteksi di Pulau Kalimantan.

"Kalau dilihat dari pantauan satelit, titik hotspot di Kalimantan masih sangat padat dan belum mereda. Jadi potensi masuknya partikel asap ke Sulsel masih ada untuk beberapa hari ke depan," ungkapnya.

Selain penurunan kualitas udara, masyarakat di Makassar dan sejumlah daerah di Sulsel juga mengeluhkan suhu udara yang terasa sangat terik.

Menanggapi hal tersebut, BMKG menyatakan kondisi cuaca panas ini masih berada pada taraf normal mengingat sebagian besar wilayah Sulsel masih menjalani periode puncak musim kemarau.

Suhu udara aktual di Sulawesi Selatan saat ini tercatat berada pada rentang 30 hingga 35 derajat Celsius. Namun, sensasi panas menyengat yang dirasakan tubuh manusia dipengaruhi oleh indeks rasa panas (heat index).

"Suhu terasa panas (heat index) merupakan parameter kondisi tubuh yang dipengaruhi oleh tekanan lingkungan. Hal ini dihitung dari kombinasi suhu udara aktual, tingkat kelembapan, kecepatan angin, hingga intensitas radiasi matahari," tuturnya.

 

Penulis: Nursinta

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua