KabarMakassar.com -- Sulawesi Selatan (Sulsel) memiliki potensi tenaga bayu hingga 400 megawatt (MW), tetapi baru sebagian kecil yang dimanfaatkan. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulsel kini mendorong investasi energi baru terbarukan (EBT) agar pasokan listrik daerah tidak bergantung pada pembangkit air.
Kepala DPMPTSP Sulsel, Asrul Sani, mengatakan minat investor asing terhadap EBT di Sulsel cukup besar. Sejumlah negara sudah menjajaki peluang tersebut.
"Banyak sekali negara, kalau negara-negara di Eropa, sudah ada beberapa yang penjajakan. Termasuk dari Korea, dari Jepang, dan segala macam," kata Asrul, Selasa (03/11).
Angka potensi 400 MW itu merujuk pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru. Menurut Asrul, kapasitas yang sudah berjalan masih jauh di bawah angka tersebut.
Di Kabupaten Sidrap, pembangkit tenaga bayu baru menghasilkan 60 MW. Di Kabupaten Jeneponto, kapasitasnya 70 MW.
"Kalau kita melihat di RUPTL potensinya 400, berarti masih besar potensi-potensi yang bisa kita dorong," ujarnya.
Potensi tenaga bayu tidak hanya ada di daratan. Asrul menyebut wilayah pesisir juga bisa menjadi lokasi pengembangan pembangkit di laut atau offshore.
"Itu sama potensinya antara onshore dan offshore. Jadi dari daerah yang punya pesisir laut itu punya potensi yang sama, kita bisa kita kembangkan energi tenaga bayu," katanya.
Meski peminatnya banyak, pemerintah daerah tidak bisa menentukan sendiri arah pengembangan EBT. Menurut Asrul, pengelolaan tenaga bayu berada di tangan pemerintah pusat melalui PT PLN. Realisasinya bergantung pada kuota listrik yang akan diserap PLN.
Hal serupa berlaku untuk panas bumi. Kewenangannya ada di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
"Tantangannya saat ini khusus untuk Sulawesi Selatan itu kan memang untuk seperti misalnya tenaga bayu, itu kan kewenangannya dari pusat, dari PLN, tergantung dari kuota yang akan diserap, kita hanya bagaimana memfasilitasi," ungkapnya.
Dengan kewenangan itu, peran DPMPTSP Sulsel terbatas pada fasilitasi bagi calon investor yang berminat menanamkan modal di sektor EBT.
Selain bayu dan panas bumi, Sulsel juga punya potensi tenaga air atau hidro. Namun, porsi hidro yang besar dalam bauran pembangkit listrik di Sulsel justru menimbulkan kerentanan.
Asrul menjelaskan, produksi listrik dari pembangkit hidro ikut turun saat debit air berkurang di musim kemarau. Kondisi itu berdampak pada pasokan listrik di daerah ini.
"Pembangkit listrik yang ada itu lebih besar persentasenya itu pembangkit listrik tenaga hidro. Jadi rentan ketika musim kemarau, debit air yang berkurang itu memengaruhi produksi listrik di Sulawesi Selatan," jelasnya.
Karena itu, DPMPTSP mendorong pengembangan sumber energi lain. Panas bumi dan tenaga bayu dinilai bisa menjadi penopang agar sistem kelistrikan Sulsel tidak bertumpu pada satu jenis pembangkit.
"Kami dari sisi penanaman modal, tetap mendorong selain hidro, tenaga panas bumi, kemudian tenaga bayu untuk bisa dikembangkan di Sulawesi Selatan," ucapnya.
Dalam dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, disebutkan bahwa Provinsi Sulawesi Selatan mempunyai banyak sumber energi primer terutama berupa tenaga air yang dapat dikembangkan menjadi PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) dan PLTM (Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro)
Selain itu, juga terdapat potensi gas alam di Kabupaten Wajo dengan cadangan terukur sebesar 470 BSCF. Potensi energi air yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik yang diperkirakan sekitar 1.409,9 MW yang tersebar di 34 lokasi.
Di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan terdapat potensi batubara, namun jumlah cadangan terukur hanya 37,3 juta ton. Potensi energi bayu yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik yang diperkirakan sekitar 400 MW yang tersebar di 7 lokasi.
Potensi energi hybrid yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik yang diperkirakan sekitar 18,84 MW yang tersebar di satu lokasi di Pulau Selayar dan Pulau Kaledupa. Potensi energi sampah yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik yang diperkirakan sekitar 20 MW yang tersebar di satu lokasi di Makassar.
Potensi energi biomassa yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik yang diperkirakan sekitar 29,6 MW yang tersebar di 3 lokasi. Potensi energi panas bumi yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik yang diperkirakan sekitar 85 MW yang tersebar di 3 lokasi.
Penulis: Syamsi Nur Fadhila