KabarMakassar.com -- Sekitar 30 kejadian kebakaran dilaporkan terjadi di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, dalam dua bulan terakhir di tengah kemarau panjang.
Dinas Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar) Sinjai mengingatkan warga agar tidak membakar sampah sembarangan karena api dapat merambat dan memicu kebakaran rumah maupun lahan.
Kepala Dinas Satpol PP dan Damkar Sinjai, Tamzil Binawan, menyampaikan hal tersebut saat ditemui di lokasi kebakaran di Desa Botolempangan, Senin (19/10).
Ia menyebut kondisi cuaca kering meningkatkan risiko kebakaran, sehingga kewaspadaan masyarakat diperlukan untuk mencegah munculnya sumber api di lingkungan permukiman maupun lahan terbuka.
“Untuk personel, jumlahnya cukup. Permasalahan yang kita hadapi saat ini adalah kondisi kemarau panjang yang membuat potensi kebakaran semakin tinggi,” ujarnya.
Damkar Sinjai saat ini menyiagakan 63 personel yang tersebar di tiga sektor pelayanan, yakni Sektor Kota, Sektor Barat, dan Sektor Selatan. Personel tersebut disiapkan untuk menangani laporan kebakaran di wilayah pelayanan masing-masing.
Meski jumlah personel dinilai mencukupi, upaya pencegahan tetap menjadi perhatian di tengah kondisi kemarau.
Tamzil meminta warga menghindari aktivitas yang dapat memicu api, termasuk membakar sampah tanpa pengawasan, membuang puntung rokok sembarangan, serta mengabaikan keamanan instalasi listrik dan penggunaan kompor.
Menurut dia, kebakaran lahan dapat bermula dari aktivitas sederhana yang tidak terkendali. Api dari pembakaran sampah, misalnya, bisa menjalar ke rumput kering atau vegetasi di sekitarnya ketika kondisi lingkungan mudah terbakar.
“Banyak kebakaran lahan bermula dari pembakaran sampah, termasuk puntung rokok yang dibuang sembarangan. Karena itu, kami mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh sumber api sekecil apa pun,” tegasnya.
Risiko tersebut turut menjadi perhatian menyusul kebakaran lahan di wilayah Sinjai Borong. Damkar mengingatkan masyarakat agar memastikan api benar-benar padam setelah melakukan aktivitas yang melibatkan pembakaran serta tidak meninggalkan sumber api di dekat bahan yang mudah terbakar.
Di sisi operasional, Tamzil mengungkapkan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar masih menjadi kendala bagi armada pemadam kebakaran. Solar dibutuhkan untuk mendukung mobilitas kendaraan saat petugas harus bergerak menangani laporan kebakaran di sejumlah wilayah.
“Kendala kita adalah sulitnya mendapatkan BBM jenis solar, tetapi itu bukan menjadi penghambat. Kami tetap mendorong teman-teman untuk semangat bekerja dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” jelasnya.
Selain menangani kebakaran, personel Damkar juga membantu masyarakat yang terdampak musim kemarau. Salah satu kegiatan yang dilakukan ialah menyalurkan air bagi petani yang membutuhkan pasokan untuk lahan persawahan yang mulai mengering.
Bantuan air tersebut dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah terbatasnya pasokan air akibat cuaca kering.
Namun, Tamzil tetap menekankan pentingnya keterlibatan warga dalam mencegah kebakaran agar dampaknya tidak meluas ke rumah, lahan pertanian, maupun keselamatan jiwa.
“Jangan menunggu kebakaran terjadi baru kita waspada. Mari bersama-sama mencegahnya dengan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan api,” pungkasnya.
Sebelumnya, Bupati Sinjai, Ratnawati Arif, juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama kemarau panjang. Ia meminta warga menghindari pembakaran sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di sembarang tempat, serta memeriksa keamanan instalasi listrik di rumah masing-masing.
“Saya mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mencegah kebakaran. Jangan anggap remeh sumber api sekecil apa pun, karena kelalaian dapat membahayakan keselamatan jiwa dan harta benda,” imbau Ratnawati.
Penulis: Syamsi Nur Fadhila