KabarMakassar.com -- Sekretaris Utama (Sestama) Badan Pangan Nasional (Bapanas), Mayjen TNI (Purn) Ito Hediarto mengungkapkan bahwa pemerintah masih mengejar swasembada untuk tiga komoditas pangan lagi, setelah capaian swasembada 11 komoditas yang dijaga bersama mencapai 95 persen,
Hal itu diungkap Ito, di sela-sela pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak dalam rangka peringatan Hari Pangan Nasional di Kota Makassar, Kamis (22/10/2026).
Ito menjelaskan, upaya itu menjadi kerja bersama lintas lembaga, mulai dari Bapanas, Kementerian Pertanian, hingga jajaran pemerintah di tingkat paling bawah yang bergerak di bawah arahan langsung Presiden. Tujuannya yakni memastikan masyarakat memperoleh pangan yang cukup.
Delapan komoditas yang telah mencapai swasembada meliputi beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit.
Sementara tiga komoditas lain yang masih dikejar adalah daging sapi, kedelai, dan bawang putih.
"Masih ada tiga lagi yang kita kejar untuk bisa swasembada, karena Bapak Presiden menginginkan swasembadanya, tidak ada impor sama sekali, kira-kira seperti itu," kata Ito.
Menurut Ito, target tersebut dikejar di tengah capaian yang sudah dinilai tinggi. Ukuran swasembada yang ia pakai merujuk pada standar Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO).
"Dan untuk pangan 11 komoditi, kita bisa swasembada pangan dengan catatan adalah kita sudah 95 persen. Catatan dari FAO mengatakan bahwa kalau 9 persen itu sudah dikatakan swasembada pangan," tuturnya.
Ia juga menyebut bahwa pemerintah menyatakan swasembada atas 11 komoditas yang dijaga bersama tersebut sudah terwujud secara keseluruhan.
"Sampai saat ini, dari 11 komoditi yang sama-sama kita jaga, kita sudah swasembada pangan secara keseluruhan," ujarnya.
Selain mengejar tiga komoditas yang tersisa, pemerintah juga menjaga kondisi impor beras. Ito menyebut pada 2025 tidak ada impor, dan kondisi itu diharapkan berlanjut tahun ini.
"Itu kita jaga, tapi alhamdulillah 2025 kemarin dan insyaallah 2026 ini kita tidak ada impor sama sekali, khususnya untuk beras," ucapnya.
Untuk mewujudkan target tersebut, Ito berharap produksi pangan dalam negeri, mulai dari beras, jagung, hingga komoditas lainnya, terus meningkat. Hasil produksi itu nantinya diserap Perum Bulog dan disalurkan ke masyarakat agar kebutuhan pokok warga tetap terpenuhi.
"Mudah-mudahan kita sama-sama mencetak beras, mencetak jagung, mencetak lain-lainnya, nanti diserap oleh Bulog, disalurkan, sehingga masyarakat kita pastikan terpenuhi, khususnya untuk kebutuhan pokoknya," pungkas Ito.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Presiden pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD, Jumat (14/8/2026) lalu, menyampaikan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pada delapan komoditas pangan strategis pada 2026.
Presiden Prabowo menyebut capaian tersebut bahkan terjadi jauh lebih cepat dari target awal pemerintah.
Capaian tersebut tercermin dalam neraca pangan 2026 yang menunjukkan kemampuan produksi nasional telah melampaui kebutuhan pada sejumlah komoditas strategis.
Pada komoditas pangan pokok, produksi beras diproyeksikan mencapai 34,77 juta ton, lebih tinggi dari kebutuhan nasional sebesar 31,10 juta ton.
Begitu pula dengan jagung yang produksinya diperkirakan mencapai 18 juta ton, sementara kebutuhan nasional berada di angka 16,44 juta ton.
Tidak hanya pada pangan pokok, peningkatan kapasitas produksi juga terlihat pada komoditas yang menopang kebutuhan konsumsi sehari-hari. Produksi gula konsumsi diproyeksikan mencapai 3,04 juta ton, melampaui kebutuhan nasional sebesar 2,84 juta ton.
Di sektor peternakan, produksi daging ayam ras diperkirakan mencapai 4,90 juta ton, dibandingkan kebutuhan sekitar 4,02 juta ton. Sementara produksi telur ayam ras mencapai sekitar 6,99 juta ton, lebih tinggi dari kebutuhan nasional sebesar 6,47 juta ton.
Gambaran serupa terlihat pada kelompok hortikultura yang selama ini turut menjadi penopang kebutuhan pangan masyarakat. Produksi cabai besar diproyeksikan mencapai 1,52 juta ton, jauh di atas kebutuhan nasional sebesar 929 ribu ton.
Cabai rawit juga mencatat produksi sekitar 1,51 juta ton, dibandingkan kebutuhan 914 ribu ton. Adapun produksi bawang merah diproyeksikan mencapai 1,32 juta ton, sedikit lebih tinggi dibandingkan kebutuhan nasional yang berada di kisaran 1,25 juta ton.
Secara agregat, delapan komoditas tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar 72,91 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional mencapai sekitar 68,22 juta ton. Dengan demikian, terdapat surplus sekitar 4,69 juta ton.
Penulis: Syamsi Nur Fadhila