KabarMakassar.com — Kantor Wilayah Perum Bulog Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat memetakan sejumlah wilayah produksi padi yang perlu diwaspadai menghadapi potensi dampak fenomena El Nino.
Pemetaan tersebut dilakukan berdasarkan luas wilayah produksi dan ketergantungan petani terhadap curah hujan.
Wilayah dengan produksi besar menjadi prioritas perhatian karena berpengaruh terhadap ketersediaan pasokan beras. Selain itu, daerah yang masih mengandalkan hujan sebagai sumber utama pengairan dinilai memiliki risiko lebih tinggi terhadap kekeringan.
“Kami kan lihatnya dari luasan wilayah produksi. Wilayah-wilayah produksi yang terbesar saat ini kan di Kabupaten Bone, Pinrang, Sidrap, sama di daerah Luwu. Di wilayah atas itu ada wilayah Bulukumba, dan Jeneponto, wilayah selatan itu kami terus antisipasi,” ucap Pemimpin Wilayah Bulog Kantor Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawsi Barat, Fahrurozi, Jumat (24/04).
Bulog mencatat beberapa wilayah utama produksi padi di Sulawesi Selatan memiliki tingkat kerentanan yang berbeda terhadap El Nino. Daerah dengan sistem irigasi yang baik dinilai lebih siap menghadapi potensi kemarau panjang.
Wilayah seperti Sidrap dan Pinrang, kata Fahrurozi, disebut relatif lebih aman karena didukung jaringan irigasi yang memadai. Sementara itu, daerah yang mengandalkan hujan sebagai faktor utama penanaman memiliki potensi risiko yang lebih besar.
“Dan yang kemungkinan dari luasan itu yang paling banyak menggunakan faktor hujan sebagai faktor utama untuk menanam itu wilayah Jeneponto dan Bulukumba. Karena kan kalau wilayah Sidrap, Pinrang, itu kan irigasinya bagus. Jadi even itu meskipun ada El Nino, sepanjang irigasinya masih bagus, masih oke, nggak ada masalah,” katanya.
Selain Jeneponto dan Bulukumba, Bulog juga mengidentifikasi beberapa wilayah lain yang perlu diantisipasi. Wilayah tersebut meliputi kawasan selatan Kabupaten Bone, khususnya Kecamatan Kajuara, serta sejumlah wilayah di Kabupaten Luwu.
Di wilayah Luwu, daerah yang menjadi perhatian utama berada di Luwu Utara dan Luwu Timur. Daerah-daerah tersebut umumnya masih mengandalkan sistem pertanian berbasis curah hujan.
“Jadi yang perlu diwaspadai adalah di wilayah selatan seperti wilayah Jeneponto, wilayah Bulukumba. Terus ada di wilayah Bone itu wilayah Kajuara, ada juga di wilayah Luwu. Di Luwu biasanya di wilayah Luwu Utara, Luwu Timur itu yang kami waspadai. Sepanjang daerah-daerah yang memang penanamannya masih model menggunakan faktor hujan sebagai penentu,” jelasnya.
Fahrurozi mengatakan, pemerintah pusat saat ini juga mendorong berbagai program untuk mengurangi dampak kekeringan akibat El Nino. Salah satu langkah yang dilakukan adalah penguatan sistem pompanisasi untuk membantu petani memperoleh sumber air tambahan.
Program tersebut diharapkan mampu menjaga produktivitas pertanian meskipun terjadi penurunan curah hujan. Dukungan pemerintah melalui Kementerian Pertanian dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas produksi pangan.
“Tapi dengan program pemerintah saat ini dengan adanya pompanisasi, kami berharap itu masih tetap dikendalikan karena memang saat ini kementerian pertanian sedang masif-masifnya membantu petani dalam rangka pompanisasi. Itu semoga bisa di-handle dengan baik,” pungkasnya.














