Langsung ke konten
News

Revitalisasi Trotoar, Arboris Minta Makassar Pilih Pohon dari Karakter Akar

Ahli arborikultur menilai pemilihan pohon dan ruang tumbuh akar perlu diperhatikan dalam revitalisasi pedestrian Kajaolalido-Thamrin Makassar.

Nofisari
Ahli arborikultur sekaligus praktisi arsitektur lanskap, Rully Wijaya (Dok: Sinta KabaMakassar)
Ahli arborikultur sekaligus praktisi arsitektur lanskap, Rully Wijaya (Dok: Sinta KabaMakassar)

KabarMakassar.com — Pemilihan jenis pohon harus menjadi salah satu hal yang perlu diperhitungkan dalam revitalisasi pedestrian Kajaolalido-Thamrin, Kota Makassar.

Ahli arborikultur menilai karakter sistem perakaran harus menjadi pertimbangan utama agar vegetasi tidak kembali merusak fasilitas pedestrian yang ada di Kota Makassar.

Ahli arborikultur sekaligus praktisi arsitektur lanskap, Rully Wijaya, mengatakan pemilihan pohon di kawasan pedestrian tidak cukup hanya berdasarkan bentuk tajuk maupun nilai estetika. Karakter akar dan kesesuaian dengan ruang tumbuh harus diperhitungkan sejak tahap perencanaan.

"Jenis pohonnya juga harus dipilih yang akarnya tidak agresif atau ekspansif. Dengan begitu, daya tahannya bisa lebih lama," kata Rully, Jumat (25/09).

Menurutnya, persoalan vegetasi di kawasan pedestrian tidak selalu disebabkan oleh jenis pohon. Karakter akar dapat menjadi masalah ketika pohon ditanam di ruang yang memiliki banyak infrastruktur dan utilitas.

Ia mencontohkan ketapang kencana yang memiliki sistem perakaran ekspansif.

"Ketapang kencana itu pohon yang akarnya ekspansif. Jadi sebenarnya pohonnya tidak salah karena itu merupakan karakter pertumbuhannya," ujarnya.

"Jadi, persoalannya adalah mengapa pohon tersebut dulu ditanam di lokasi yang memiliki banyak infrastruktur dan utilitas," lanjutnya.

Rully mengatakan, akar yang ekspansif berpotensi berkonflik dengan pedestrian apabila ruang tumbuhnya terbatas. Kondisi tersebut dapat menyebabkan akar kembali muncul dan merusak permukaan trotoar meski sebelumnya telah dilakukan perbaikan.

Karena itu, pemotongan akar dinilai bukan solusi jangka panjang.

"Kalau akarnya kita potong, kemudian trotoarnya kita perbaiki, dalam waktu tertentu akar itu akan tumbuh lagi dan kembali membongkar trotoar. Sehingga butuh strategi," jelasnya.

Dalam revitalisasi Kajaolalido-Thamrin, Rully mendorong penggunaan jenis pohon yang memiliki karakter perakaran lebih sesuai dengan kondisi kawasan perkotaan.

Ia juga menyarankan pohon pengganti mempertimbangkan spesies asli atau natif Sulawesi agar lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan setempat.

"Secara teknis, pohon itu harus dihilangkan, bukan sekadar dibuang, tetapi diganti dengan pohon lain yang akarnya lebih ramah. Sebisa mungkin kita memilih pohon asli atau pohon natif Sulawesi agar adaptasinya lebih cepat," katanya.

Menurut Rully, keberhasilan penanaman pohon juga bergantung pada tersedianya ruang tumbuh yang memadai. Lubang tanam saja tidak cukup apabila ruang bagi perkembangan akar tidak diperhitungkan.

"Yang dibutuhkan tanaman sebenarnya bukan sekadar lubang untuk menanam, tetapi ruang bagi akarnya untuk tumbuh. Kita sering tidak melihat bagian yang berada di bawah tanah," ungkapnya.

Ia menjelaskan, akar membutuhkan air dan oksigen untuk berkembang. Karena itu, konstruksi pedestrian perlu dirancang agar kedua unsur tersebut tetap dapat masuk ke dalam ruang tumbuh akar.

"Supaya pohon bisa tumbuh, tanah harus memiliki air dan oksigen. Kalau semuanya tertutup sehingga air dan oksigen tidak bisa masuk, akar akan mati," terangnya.

Salah satu konsep yang ditawarkan adalah menyediakan ruang tanah di bawah pedestrian dengan material perkerasan yang memungkinkan air meresap.

"Walaupun trotoarnya tidak terlalu besar, bagian dalamnya dapat diisi tanah dan bagian atasnya menggunakan perkerasan yang memungkinkan air masuk, misalnya beton berpori," tuturnya.

"Dengan begitu, akar dapat tumbuh di dalam ruang tersebut dan tidak cepat muncul ke permukaan," lanjut Rully.

Dalam proyek revitalisasi tersebut, terdapat 80 pohon ketapang serta sembilan pohon mahoni berukuran besar dan dua pohon berukuran kecil yang berada di area pekerjaan.

Rully menilai penanganan pohon di kawasan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing vegetasi, terutama untuk mencegah konflik antara pertumbuhan akar dan fasilitas pedestrian.

Menurutnya, pendekatan tersebut diperlukan agar persoalan kerusakan pedestrian akibat pertumbuhan akar tidak berulang setelah proyek selesai.

Penataan vegetasi, kata dia, harus menjadi bagian dari desain pedestrian sejak awal, bukan dilakukan setelah pembangunan berlangsung.

"Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pedestrian yang tidak hanya nyaman bagi pejalan kaki, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan perkotaan," tukasnya.

 

Penulis: Nursinta

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua