Langsung ke konten
News

Pupuk Subsidi di Konawe Selatan Dipastikan Aman, Zulhas: Harga Turun 20 Persen

Menko Pangan Zulkifli Hasan menyebut ketersediaan pupuk bersubsidi di Konawe Selatan berjalan lancar. Pupuk Indonesia mencatat penyerapan pupuk subsidi nasional mencapai 70 persen hingga 5 Oktober 2026.

ardiyanti Diperbarui
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Menko Zulhas) (Dok: Syamsi/KabarMakassar).
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Menko Zulhas) (Dok: Syamsi/KabarMakassar).

KabarMakassar.com - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Menko Zulhas) mengatakan PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi bagi petani di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (Sultra), berjalan lancar.

Hal tersebut disampaikan saat berdialog dengan ratusan petani dalam kegiatan Rembuk Tani di Konawe Selatan, Rabu (7/10).

Menko Zulhas menanyakan langsung kepada para petani mengenai kondisi ketersediaan pupuk bersubsidi di lapangan.

“Pupuk bagaimana pupuk?” tanya Zulhas yang kemudian dijawab serempak oleh ratusan petani, “Lancar.”

Tak hanya ketersediaan, Menko Zulhas juga mempertanyakan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi yang diterima petani. Pemerintah menetapkan HET pupuk subsidi turun sebesar 20 persen yang berlaku sejak akhir 2025.

“Harga pupuk bagaimana? Baru kali ini harga pupuk bersubsidi turun kan?” imbuhnya.

Menurutnya, kemudahan memperoleh pupuk bersubsidi menjadi salah satu kebijakan pemerintah dalam mendukung keberlangsungan usaha tani. Kebijakan tersebut juga dibarengi dengan peningkatan harga gabah untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi petani.

Ia pun mengungkapkan, berbagai kebijakan tersebut turut berdampak pada membaiknya nilai tukar petani yang saat ini.

“Ada kabar gembira, nilai tukar petani kita meningkat lagi 131, artinya petani padi, petani jagung alhamdulillah sepanjang sejarah nilai tukarnya paling tinggi sekarang ini, jadi termasuk makmur, berhasil,” ujar Menko Zulhas.

Ia juga menambahkan, kebijakan tersebut tidak hanya meningkatkan produktivitas pertanian nasional, di sisi lain kebijakan tersebut juga menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

“Kebijakan-kebijakan yang tepat terbukti bisa meningkatkan produktivitas, kita swasembada, tidak impor beras lagi,” tandas Menko Zulhas.

Sementara itu, Direktur Manajemen Risiko Pupuk Indonesia, Ninis K. Adriani menyampaikan terima kasih atas dukungan Pemerintah terhadap kinerja Pupuk Indonesia dalam menyalurkan pupuk bersubsidi lebih efisien. Kemudahan-kemudahan yang diberikan Pemerintah untuk petani, ungkapnya, menjadikan penyerapan pupuk bersubsidi lebih optimal.

Secara nasional, penyerapan pupuk bersubsidi hingga 5 Oktober 2026 mencapai 70 persen, atau sebanyak 6.934.553 ton dari alokasi sebesar 9.845.686 ton.

"Khusus di Sulawesi Tenggara, realisasi penebusannya mencapai 58 persen, atau 77.054 ton dari alokasi sebesar 133.541 ton,"

Dimana terdiri dari Urea 26.541 ton, NPK Phonska 6.899 ton, NPK Khusus Kakao 6.997 ton, pupuk organik 1.766 ton, dan SP-36 1.225 ton.

Untuk mendukung penyerapan lebih optimal, Pupuk Indonesia juga menyiapkan stok pupuk bersubsidi di Sulawesi Tenggara sebesar 18.208 ton.

"Stok per tanggal 6 Oktober 2026 tersebut terdiri dari pupuk Urea 4.969 ton, NPK Phonska 11.951 ton, NPK Kakao 882 ton, pupuk organik 44 ton,  ZA 156 ton dan SP-36 sebanyak 206 ton. Khusus stok di Kabupaten Konawe Selatan Pupuk Indonesia menyiapkan 985," tukasnya.
 

Penulis: Nursinta

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua