KabarMakassar.com — Pohon bitti hingga padiasa diusulkan menjadi pengganti ketapang kencana dalam penataan kawasan pedestrian Jalan Kajaolalido-Thamrin, termasuk area depan Lapangan Karebosi, Makassar.
Diketahui, Pemerintah Kota Makassar, melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) mulai merevitalisasi kawasan pedestrian di Jalan Kajaolalido dan Jalan MH Thamrin sebagai bagian dari upaya membangun kawasan percontohan integrasi pedestrian di pusat kota. dua ruas pedestrian yang direvitalisasi tahun ini dengan total panjang pekerjaan sekitar 652,9 meter.
Perwakilan arborist, Faris, mengatakan penggantian vegetasi bukan berarti menghilangkan fungsi penghijauan di kawasan tersebut.
Pohon yang dipilih nantinya diarahkan pada jenis yang lebih adaptif dengan karakter ruang perkotaan serta memiliki keterkaitan dengan ekosistem dan budaya Sulawesi.
"Bukan pohonnya ditebang dan dihilangkan, tetapi diganti dengan jenis pohon yang baru yang kebetulan juga adalah pohon natif Sulawesi," kata Faris, Senin (28/09).
Menurut Faris, salah satu jenis yang dapat dipertimbangkan adalah pohon bitti atau Vitex cofassus. Pohon tersebut memiliki nilai kultural bagi masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel) dan dikenal sebagai salah satu jenis kayu yang digunakan dalam pembuatan kapal pinisi.
Selain bitti, terdapat padiasa atau Kleinhovia hospita serta jenis Elaeocarpus yang dikenal dengan nama jati tri atau jelatri.
"Jadi tiga pohon itu adalah salah satu dari beberapa jenis pohon yang asli Indonesia atau asli Sulawesi yang bisa digunakan sebagai pohon pengganti dari pohon ketapang kencana tersebut," ujarnya.
Faris menjelaskan, pemilihan jenis tersebut juga mempertimbangkan karakter sistem perakaran.
Menurutnya, akar tanaman yang lebih mudah dikendalikan dapat mengurangi potensi gangguan terhadap drainase maupun jaringan utilitas di sekitar pedestrian.
Pengendalian akar, kata dia, dapat dilakukan dengan penggunaan root barrier maupun pemangkasan akar secara berkala.
"Akarnya lebih mudah dikontrol menggunakan root barrier atau dengan pemangkasan rutin setiap dua tahun sekali berjarak 20 sampai 30 sentimeter dari batas drainase," jelasnya.
Ia menilai persoalan ketapang kencana di kawasan Karebosi bukan semata karena ukuran pohon. Beberapa pohon disebut memiliki kondisi fisik yang perlu diperhatikan, termasuk adanya rongga dan kemiringan sekitar 40,1 derajat.
Kondisi tersebut menjadi pertimbangan dari aspek keselamatan, mengingat kawasan tersebut digunakan masyarakat untuk beraktivitas dan berolahraga.
"Pohon tumbang itu tidak pernah bilang, tiba-tiba rubuh saja," kata Faris.
Selain kondisi pohon, Faris menyoroti potensi konflik antara sistem perakaran ketapang kencana dengan infrastruktur dan utilitas. Menurutnya, keberadaan sistem drainase baru dapat menyediakan air dan nutrisi yang mendorong pertumbuhan akar.
"Permasalahannya adalah konflik antara akar ketapang kencana dengan infrastruktur dan utilitas yang ada," ujarnya.
Jika akar berkembang masuk ke jaringan drainase, kata Faris, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan saluran tersumbat dan meningkatkan kebutuhan biaya pemeliharaan maupun perbaikan infrastruktur dalam jangka panjang.
Meski demikian, Faris mengatakan keputusan akhir mengenai jenis pohon yang akan ditanam tetap harus disesuaikan dengan rancangan kawasan. Tim arborist akan berkoordinasi dengan desainer lanskap agar vegetasi yang dipilih sesuai dengan bentuk, fungsi dan konsep pedestrian.
"Kalau dipilih tanaman tersebut, pertumbuhannya tergantung kepada arah atau intensi desain yang akan dilakukan oleh para desainer," katanya.
Dengan demikian, penataan vegetasi pada revitalisasi trotoar diarahkan bukan sekadar mengganti pohon, tetapi memilih jenis yang dinilai lebih sesuai dengan karakter kawasan, kebutuhan desain, serta keberadaan infrastruktur dan utilitas di bawah maupun sekitar pedestrian.
Penulis: Nursinta