Langsung ke konten
News

Perusahaan Makassar Lebih Banyak Rekrut SMK Sederajat, Sarjana Hanya 34 Persen

BPS mencatat 66.065 pengangguran di Makassar dengan TPT 9,56 persen. Disnaker soroti sulitnya lulusan sarjana terserap dunia kerja dibanding lulusan SMA dan SMK.

ardiyanti Diperbarui
Ilustrasi Pencarian Kerja (Dok: Ist).
Ilustrasi Pencarian Kerja (Dok: Ist).

KabarMakassar.com — Berdasarkan data badan pusat statistik (BPS) angka pengangguran di Kota Makassar cukup tinggi dan menjadi pekerjaan rumah bagi Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Makassar.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian serius adalah sulitnya lulusan perguruan tinggi atau sarjana terserap ke dunia kerja, sementara kebutuhan perusahaan lebih banyak mengarah pada tenaga kerja lulusan SMA dan SMK sederajat.

Berdasarkan data BPS tahun 2025 yang dipublikasikan pada 2026, jumlah pengangguran di Makassar mencapai 66.065 orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 9,56 persen atau sekitar 9,60 persen. Angka tersebut mengalami penurunan sekitar 0,11 poin dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi masih lebih tinggi daripada rata-rata provinsi dan nasional.

Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnaker Makassar, Jusman, mengakui persoalan pengangguran terdidik masih menjadi tantangan.

Menurutnya, lulusan sarjana belum terserap secara optimal karena kebutuhan tenaga kerja di sejumlah sektor usaha lebih banyak menyasar lulusan SMK dan SMA sederajat.

“PR berat kita adalah bagaimana sarjana ini banyak yang terserap di dunia kerja. Artinya, ini membutuhkan jenis industri atau jenis usaha yang memang cocok untuk teman-teman kita di tingkat sarjana,” ujar Jusman, Senin (02/11).

Gambaran tersebut terlihat dari data penempatan tenaga kerja yang dihimpun Disnaker hingga September. Dari total 5.361 orang yang tercatat mendapatkan pekerjaan melalui berbagai jalur, sebanyak 50,5 persen merupakan lulusan SMA dan SMK sederajat. Sementara lulusan perguruan tinggi hanya mencapai 34 persen.

Jusman menjelaskan, kebutuhan perusahaan di Makassar saat ini masih didominasi sektor keuangan, restoran cepat saji, serta pekerjaan sales dan pemasaran.

Setelah itu, peluang kerja tersedia di sektor industri, teknologi, kesehatan, dan pendidikan. Kondisi tersebut membuat lulusan SMK lebih banyak terserap karena dinilai sesuai dengan kebutuhan sejumlah posisi yang tersedia.

Menurutnya, persoalan penyerapan tenaga kerja tidak cukup diselesaikan hanya dengan membuka lowongan atau menggelar bursa kerja saja. Diperlukan business matching untuk mempertemukan kompetensi lulusan dengan kebutuhan riil dunia usaha dan industri saat ini yang terus berkembang.

“Kalau saya melihatnya, ini memang perlu business matching. Keterampilan yang dimiliki lulusan kita harus sesuai dengan apa yang dibutuhkan dunia industri. Jangan sampai kebutuhan industri di sektor C, sementara lulusan kita disiapkan untuk sektor A dan B. Akhirnya tidak matching,” paparnya.

Disnaker Makassar juga menyoroti pentingnya penyesuaian pendidikan vokasi, terutama kurikulum SMK, dengan perkembangan kebutuhan industri.

Jusman menyebut masih terdapat tenaga pengajar yang belum tersertifikasi sehingga proses pembelajaran dinilai perlu diperkuat agar kompetensi lulusan lebih relevan dengan kebutuhan perusahaan.

Selain memperluas informasi lowongan kerja melalui portal daring, job fair, dan walk-in interview, Disnaker menjalankan pelatihan bagi tenaga kerja pemula, seperti tata boga, menjahit, dan kerajinan tangan.

Program Makassar Creative Hub juga didorong menjadi ruang peningkatan keterampilan masyarakat agar mampu memasuki dunia kerja maupun membangun usaha baru.

Jusman menegaskan penanganan pengangguran membutuhkan kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah, terutama Disnaker, Dinas Pendidikan, dan Dinas Sosial.

"Jadi intervensi harus dilakukan sejak peningkatan kualitas pendidikan hingga penempatan tenaga kerja agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dan peluang terserap di dunia industri semakin besar," tukasnya.

 

Penulis: Nursinta

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua