Langsung ke konten
News

Pengangguran Terdidik di Makassar Masih Tinggi, Lulusan Sarjana Sulit Terserap

Disnaker Makassar mencatat lulusan sarjana hanya 34 persen dari tenaga kerja yang ditempatkan. Pengangguran di Makassar masih mencapai 66.065 orang.

Nofisari Diperbarui
Kantor Disnaker Makassar (Dok: Sinta KabaMakassar)
Kantor Disnaker Makassar (Dok: Sinta KabaMakassar)

KabarMakassar.com — Lulusan perguruan tinggi di Kota Makassar masih menghadapi tantangan besar untuk masuk ke dunia kerja di Kota Makassar.

Data penempatan tenaga kerja Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Makassar menunjukkan, lulusan SMK dan sederajat lebih banyak terserap perusahaan dibandingkan lulusan sarjana.

Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnaker Makassar, Jusman Hattu, mengungkapkan, dari total 5.361 tenaga kerja yang tercatat ditempatkan melalui pendataan Disnaker, sebanyak 50,5 persen merupakan lulusan SMA, SMK, dan sederajat. Sementara lulusan perguruan tinggi atau sarjana hanya mencapai 34 persen dalam dunia kerja.

“Yang banyak diterima itu memang 50,5 persen dari SMK, SMA, dan SMK sederajat. Kalau sarjana hanya 34 persen,” kata Jusman, di ruangan di Kantor Disnaker Kota Makassar Jalan AP Pettarani, Senin (02/11).

Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari kebutuhan perusahaan di Makassar yang masih didominasi pekerjaan dengan kualifikasi pendidikan menengah.

Sejumlah sektor yang banyak membuka lowongan di antaranya keuangan, makanan cepat saji, serta tenaga penjualan dan pemasaran. Kebutuhan pada sektor industri, teknologi, kesehatan, dan pendidikan menyusul.

“Dunia usaha dan industri di Kota Makassar kelihatannya memang lebih banyak membutuhkan tenaga kerja dari SMK sederajat. Ini menjadi tantangan bagaimana sarjana bisa lebih banyak terserap di dunia kerja,” ujarnya.

Jusman menyebut, persoalan pengangguran terdidik menjadi salah satu karakteristik ketenagakerjaan di Makassar. Berdasarkan data BPS yang disampaikan Disnaker, angka pengangguran terdidik disebut berada di kisaran 8,90 persen.

Namun, ia mengakui belum tersedia data khusus yang menunjukkan persentase sarjana yang belum terserap di dunia kerja.

Di sisi lain, jumlah pengangguran di Makassar berdasarkan data masih mencapai 66.065 orang berdasarkan data BPS tahun 2025 yang dipublikasikan pada 2026.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat 9,56 persen atau sekitar 9,60 persen. Angka tersebut turun sekitar 0,11 poin dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi masih lebih tinggi daripada rata-rata provinsi dan nasional.

“Walaupun trennya mengalami penurunan, angka pengangguran ini masih cukup tinggi di Kota Makassar. Karena itu, tetap diperlukan intervensi yang kuat,” jelasnya.

Gambaran kesenjangan penyerapan juga terlihat dalam pelaksanaan job fair yang melibatkan 50 perusahaan. Kegiatan tersebut menyediakan sekitar 334 jenis jabatan dengan kebutuhan tenaga kerja sekitar 1.500 orang. Dari sekitar 6.000 pelamar, sebanyak 607 orang dinyatakan diterima.

Jusman menilai, persoalan ini membutuhkan kesesuaian antara kompetensi pencari kerja dan kebutuhan perusahaan atau business matching. Menurutnya, penyerapan lulusan sarjana juga membutuhkan pengembangan jenis industri dan usaha yang sesuai dengan kualifikasi pendidikan tinggi.

“Kalau saya melihatnya, ini memang perlu business matching. Harus ada kesesuaian antara kemampuan tenaga kerja dengan kebutuhan dunia usaha dan industri,” katanya.

Katanya untuk memperluas kesempatan kerja, Disnaker Makassar menjalankan sejumlah program, mulai dari pelatihan tata boga, menjahit, kerajinan tangan, penyediaan informasi lowongan melalui portal kerja, job fair hingga walk-in interview.

Disnaker juga mendorong peningkatan keterampilan melalui Makassar Creative Hub (MCH) yang juga menjadi program prioritas Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, termasuk pelatihan pengembangan dan branding produk.

Selain mendorong penempatan di perusahaan, Disnaker mengembangkan penciptaan usaha mandiri berbasis potensi wilayah.

Salah satunya di kawasan Tallo yang memiliki potensi perikanan, sehingga masyarakat dapat diarahkan mengembangkan usaha pengolahan hasil laut seperti abon ikan dan produk olahan lainnya.

"Tentu langkah ini diharapkan membuka peluang kerja baru sekaligus memperluas sumber penghasilan masyarakat," tukasnya.

 

Penulis: Nursinta

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua