Langsung ke konten
News

Penataan Trotoar Kajaolalido-Thamrin, 91 Pohon Bakal Diganti Jenis Asli Sulsel

Penataan trotoar Kajaolalido-Thamrin Makassar mencakup asesmen 91 pohon yang berpotensi diganti dengan jenis asli Sulawesi Selatan.

Nofisari
Trotoar Jalan Kajaolalido (Dok: Sinta KabaMakassar)
Trotoar Jalan Kajaolalido (Dok: Sinta KabaMakassar)

KabarMakassar.com — Penataan trotoar di Jalan Kajaolalido dan Jalan Thamrin, Makassar, turut menyentuh keberadaan pohon di sepanjang area pekerjaan.

Sebanyak 91 pohon masuk dalam asesmen dan berpotensi diganti dengan jenis pohon asli Sulawesi Selatan (Sulsel) yang dinilai lebih adaptif terhadap kondisi infrastruktur dan utilitas di kawasan tersebut.

Pemerintah kota Makassar melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melibatkan tim ahli lembaga Arboris, dan Dinas PU untuk melihat arahan kebijakan yang tidak berdampak negatif pada semua pihak terutama masyarakat.

Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Makassar Muhammad Amin mengatakan, data pohon yang masuk dalam area pekerjaan terdiri atas 80 pohon ketapang, sembilan pohon mahoni besar, dan dua pohon berukuran kecil.

"Terus untuk penebangan pohon itu untuk pertama kisaran 80 pohon. Pohon kecil ada dua pohon," kata Amin dalam konferensi pers di lantai I Ballroom MGC Kota Makassar, Jumat (25/09).

Asesmen tersebut menjadi bagian dari penataan trotoar pada dua ruas jalan. Panjang pekerjaan trotoar di Jalan Kajaolalido mencapai 427,9 meter, sedangkan Jalan Thamrin sepanjang 225 meter.

Selain penataan vegetasi, proyek tersebut juga mencakup penataan utilitas. Dari 62 tiang fiber optik yang berada di area pekerjaan, direncanakan disederhanakan menjadi 17 tiang induk.

"Nantinya ini akan satu tiang untuk semua fiber optik supaya dilihat sesuai dengan view yang bagus. Dari 62 tiang ini menjadi 17 tiang," kata Amin.

Penataan trotoar Kajaolalido-Thamrin juga akan menggunakan stamp concrete dan material berpori yang dirancang untuk membantu penyerapan air pada permukaan trotoar.

Dalam proses asesmen, Ahli dari Lembaga Arboris turut melihat kondisi dan karakteristik pohon, termasuk potensi risiko terhadap pengguna jalan serta konflik akar dengan infrastruktur.

Tim ahli Arboris Rurry menjelaskan, terdapat pohon yang secara kondisi sudah mengalami kemiringan hingga sekitar 40 derajat dengan akar yang terangkat dan diduga telah mengalami kerusakan.

"Jadi, pohon sebesar ini miringnya sudah 40 derajat lebih, akarnya sudah terangkat dan putus," ujar Rurry.

Menurut dia, kondisi tersebut perlu menjadi pertimbangan karena perubahan kondisi tanah saat musim hujan dapat meningkatkan risiko pohon tumbang.

"Kalau ini tumbang, dia tidak pilih-pilih korban. Siapa saja bisa lewat," katanya.

Karena itu, keputusan terhadap pohon tidak semata-mata dilakukan untuk kepentingan pekerjaan trotoar. Rury menyebut setiap tindakan, baik pemangkasan, penggantian maupun penanganan lainnya, perlu mempertimbangkan kondisi pohon dan keselamatan masyarakat.

"Dengan pertimbangan yang hati-hatilah, kami dan DLH mengambil keputusan bagaimana sebuah pohon itu harus ditumbangkan, digantikan, dipangkaskan. Itu semua ada pertimbangannya dan pertimbangannya sangat hati-hati," ujarnya.

Sementara itu, Tim  Lembaga Arboris Farid menyebut penggantian pohon dapat diarahkan pada jenis yang lebih adaptif dan merupakan pohon asli Indonesia, termasuk jenis yang berasal dari Sulawesi.

Salah satu jenis yang diusulkan adalah pohon Bitti atau Vitex cofassus. Pohon tersebut disebut merupakan jenis natif bahkan endemik Sulawesi dan memiliki nilai kultural di Sulawesi Selatan.

"Bitti adalah pohon natif bahkan endemik di Sulawesi," kata Farid.

Selain Bitti, Farid menyebut Padiasa atau Kleinhovia hospita dan Jati Tri atau Elaeocarpus juga Natif sebagai beberapa alternatif pohon yang dapat dipertimbangkan.

Farid menjelaskan, pemilihan jenis pohon juga berkaitan dengan karakter akar. Jenis yang diusulkan dinilai lebih memungkinkan untuk dikendalikan agar tidak mengganggu drainase maupun utilitas di sekitar trotoar.

"Rencananya yang saya inginkan adalah bukannya pohonnya ditebang dan dihilangkan, tidak, tetapi diganti dengan jenis pohon yang baru yang kebetulan juga adalah pohon natif Sulawesi," tukasnya.

 

Penulis: Nursinta

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua