kabarbursa.com
kabarbursa.com
banner 728x250
News  

OPINI : Ketahanan Budaya Menuju Indonesia Emas 2045

banner 468x60

KabarMakassar.com — Gerakan Pemajuan Kebudayaan Sulawesi Selatan yang di lakukan dalam berbagai bentuk kegiatan, akhirnya sampai pada kongres kebudayaan yang kita laksanakan hari ini. Kongres Kebudayaan dimaksudkan untuk merumuskan pokok-pokok pikiran pemajuan kebudayaan Sulawesi Selatan, tetapi ini bukan akhir dari kegiatan pemajuan kebudayaan.

Pokok-pokok pikiran tersebut selanjutnya akan disampaikan kepada Pemerintah, DPD RI, dan DPR RI sebagai aspirasi dalam penyusunan RPJPN atau PPHN 2025-2045 sebagai tahapan memantapkan kerangka menuju Indonesia emas 2045.

Pemprov Sulsel

RPJPN (PPHN) 2025-2045 tentunya akan menjadi dasar bagi Presiden dan kepala daerah (Gubernur dan Bupati) terpilih, hasil Pemilu dan Pilkada Serentak 2024, dalam menyusun RPJMN/RPJPD.

Kongres Kebudayaan juga diharapkan menghasilkan keputusan tentang perlunya gerakan bersama PEMAJUAN KEBUDAYAAN dan perlunya PERDA Pemajuan Kebudayaan di Sulawesi Selatan sebagai payung hukum yang kuat untuk perlindungan dan pemajuan budaya lokal sesuai amanat Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Budaya Religius

Budaya Religius sebagai kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan tumbuh dan berkembang melalui siklus tradisi kehidupan masyarakat yang dinamis, mampu bertransformasi dengan nilainilai baru tetapi tidak meninggalkan nilai religiusitasnya.

Ciri masyarakat Religius merupakan keunggulan masyarakat Sulawesi Selatan, yang menumbuhkan jiwa dan karakter unggul karena menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat, dalam pandangan kosmologi yakni hubungan Tuhan Sang Pencipta, alam dan manusia dalam menjaga kesimbangan yang harmoni.

Disayangkan memang karena kearifan lokal yang di jabarkan melalui kebijakan Pemerintah Daerah yang sifatnya masih parsial, dan sekedar sebagai aksesoris perencanaan yang belum didukung oleh Kelembagaan, Prioritas Program, apalagi Anggaran yang memadai dalam Pemajuan Kebudayaan

Ekologi Sosial Budaya Sulawesi Selatan

Kita memahami bahwa Ekologi Sosial dapat dimaksukdkan sebagai hubungan antara manusia dengan lingkungan alam dan teknologi di sekitarnya. Sementara itu Ekologi Budaya adalah kemampuan masyarakat untuk berinteraksi dengan lingkungan dengan berpedoman pada unsurunsur budaya.

Dengan demikian Ekologi Sosial Budaya adalah proses interaksi manusia dengan lingkungannya dengan berpegang pada nilai kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi.

Tantangan yang kita hadapi saat ini adalah belum tersusunnya kebijakan pengembangan Ekologi Sosial Budaya dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan manusia oleh dunia Pendidikan yang menitiberatkan pada Pendidikan karakter.

 “Pelaut Ulung dengan Mottonya Sekali Layar Terkembang Pantang Biduk Surut Kepantai”, menjadi prinsip hidup, karena memiliki kompotensi yang terbangun dari proses pendidikan yang pada masa itu dikenal dengan istilah “makkanreguru/tarekat (berguru)” yang sekarang diperankan oleh dunia pendidikan. Maka sektor pendidikan akan amat menentukan Ekologi sosial budaya Sulawesi Selatan dalam Pembentukan Ketahanan Budaya.

Ketahanan Budaya Sulsel Untuk Indonesia Emas 2045

Perjalanan sebuah bangsa membangun dirinya terutama yang melakukan reformasi dan transformasi yang tidak mengakar pada kearifan lokal, justru menjadi boomerang bagi dirinya. Bagi bangsa Indonesia apabila tidak dapat mengelola dengan baik kebhinekaan sebagai suatu keberagaman budaya lokalnnya, maka kita tidak dapat melihat wajah Indonesia Emas yang kita inginkan.

Indonesia Emas 2045 yang terbayangkan adalah akumulasi budaya-budaya lokal Nusantara. Budaya lokal tersebut membentuk peradaban Indonesia setelah 100 tahun merdeka.

Melalui kongres ini maka kita ingin memberikan kontribusi pemikiran melakukan Ketahanan Budaya, yang dimulai dari Ketahanan Keluarga, Masyarakat Adat serta penataan kehidupan Sosial Budaya yang mampu memunculkan keunggulan-keunggulannya dalam membentuk Ketahanan Budaya Indonesia.

Sulawesi Selatan dengan budaya religius yang menjadi keunggulan dalam membangun Kebudaayan Indonesia dapat dirumuskan nilai-nilainya dengan ciri masyarakat maritim, pasompe dan masyarakat pelaut, yang memang sayang sekali karena belum dilakukan perencanaan pembangunan yang fokus pada Pendidikan, Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakatnya.

Pembentukan Kecerdasan Buatan Berbasis Budaya Lokal

Kecerdasan buatan atau disebut Artificial Intelligence (AI) tanpa kita sadari ataupun dengan sadar telah menerjang kehiduan sosial kita karena tumbuh dan berkembang seiring perkembangan teknologi yang telah mengalami revolusi kelima. Kecerdasan buatan jelas dibuat oleh manusia dan dikendalikan oleh manusia, namun dalam tahapan ke-5 sudah menjadi ancaman manusia itu sediiri, karena dia bisa malampaui batas kemampuan pembuatnya.

Dalam pandangan budaya sulsel, apabila AI ini dicipatkan tanpa berdasarkan niai Macca (Cerdas) Lempu (Kejujuran), Getteng (Ketagasan) dan Temmappasilaingeng (Keadilan), terlebih tanpa niai siri na pace atau pesse sibawa siri’ dan tidak perpegang pada ajaran Sang Pencipta Tuhan yang Maha Esa pemilik alam semesta, maka bisa jadi kecerdasan buatan itu melahirkan manusia yang tidak manusiawi (dehumanisasi).

Oleh karena itu dibutuhkan kolaborasi Pentahelix ABCGM (Academic, Bussiness, Community, Government and Media) dalam menyusun suatu regulasi, menetapkan kerangka kebijakan yang mendukung pemajuan teknologi kecerdasan buatan, serta dilakukan secara terencana dan tetap menempatkan manusia sebagai subjek utama pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.

Profil Dr.H.Ajiep Padindang, SE.MM.

Dr. H. Ajiep Padindang, SE. MM, nama asli H. A. Jamaluddin. P, gelaran Petta Lolo, lahir di Bone, 30 September 1959. Memulai perjalanan karirnya didunia pers, juga aktif berkesenian. Pernah menjadi Sekum BKKNI Sulsel, Sekum Dewan Kesenian Sulsel.

Mendirikan dan membina YAYASAN SULAPA EPPAE yang bergerak dalam GERAKAN PEMAJUAN BUDAYA LOKAL melalui Sekolah Budaya Bugis dan Bugis Makassar. Mendirikan juga Lembaga Pengembangan Kesenian Kebudayaan Sulawesi Selatan (LAPAKSS).

Menggagas dan memfasilitasi Kongres Kebudayaan Sulawesi Selatan Tahun 2023. Pernah menjadi Ketua Karang Taruna Sulsel 10 selama tahun. Pernah menjadi Wakil Ketua AMPI Sulsel, Anggota Majelis Pertimbangan KNPI Sulsel. Selain itu juga aktif mendirikan dan membina Kelompok Tani dan Nelayan hingga mendirikan dan membina sejumlah KOPERASI yang mengantarkannya menjadi Wakil Ketua Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN) Sulsel, 2010-2015.

Mendirikan dan membina Majelis Taklim, Pengurus Masjid, hingga pernah menjadi pengurus LPTQ Sulsel, Pengurus MUI Sulsel Bidang Sosial Budaya. Ajiep Padindang, menjabat sebagai Anggota DPRD Sulsel, tahun 1997-2014 (Empat Periode). Anggota DPD RI/MPR RI Periode 2014-2019 dan 2019-2024 (Dua Periode). Pada Pemilu 2024 akan maju Calon Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Sul-Sel 1 (Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, dan Selayar).

PDAM Makassar