KabarMakassar.com — Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Selatan, Ni’matullah Erbe, menyoroti persepsi masyarakat yang kerap memandang politik sebagai sesuatu yang kotor, culas, licik, dan penuh tipu daya.
Menurut Ni’matullah, pandangan tersebut perlu diluruskan melalui pendidikan politik yang berkelanjutan agar masyarakat memahami fungsi politik secara tepat.
Hal itu disampaikan Ni’matullah saat memberikan sambutan dalam kegiatan pendidikan politik yang diikuti ratusan kader, pengurus, dan simpatisan Partai Demokrat di Hotel Claro Makassar, Kamis (08/10).
Ia mengatakan, pendidikan politik merupakan agenda rutin Demokrat Sulsel yang tidak hanya dilaksanakan menjelang pemilihan umum.
Bahkan, sepekan sebelumnya, Demokrat Sulsel menggelar pendidikan politik khusus bagi pelajar sekolah menengah atas (SMA).
Langkah tersebut dilakukan untuk menanamkan pemahaman politik kepada generasi muda sejak dini.
“Karena kita butuh ada lapis generasi yang mengerti politik secara benar, secara tepat,” ujar Ni’matullah.
Ia menilai, cara pandang masyarakat terhadap politik dalam sekitar 15 tahun terakhir cenderung bergeser dari fungsi politik yang sesungguhnya.
Menurutnya, politik kerap dikaitkan dengan praktik negatif sehingga masyarakat sulit melihat peran politik dalam memperjuangkan kepentingan publik.
“Kalau kita melakukan survei, hampir lebih dari setengah masyarakat kalau kita bicara politik selalu bilang itu kotor, itu culas, itu licik, tipu-tipu. Padahal politik tidak seburuk itu kalau dikelola secara tepat dan benar,” katanya.
Ni’matullah menjelaskan, fungsi utama politik adalah mengelola kekuasaan agar dapat digunakan untuk mendistribusikan keadilan kepada masyarakat.
Ia menegaskan, politik bukanlah pencipta keadilan, melainkan instrumen untuk memastikan keadilan dapat dirasakan secara merata.
“Fungsi utama politik adalah pengelolaan kekuasaan. Pengelolaan kekuasaan itu diharapkan bisa mendistribusikan keadilan,” jelasnya.
Karena itu, pendidikan politik perlu menjangkau lebih banyak kalangan, tidak hanya kader partai. Ni’matullah meminta pengurus Demokrat mengajak anggota keluarga maupun tetangga untuk mengikuti kegiatan serupa.
Ia berharap, pemahaman tentang politik tidak hanya berhenti di lingkungan internal partai, tetapi juga berkembang di tengah masyarakat.
“Para pengurus kita juga berharap membawa satu, dua sampai tiga orang keluarga atau tetangganya, supaya kita semua lebih memahami bagaimana sebenarnya politik seharusnya bekerja,” tuturnya.
Ni’matullah juga mengingatkan bahwa pendidikan politik harus menjadi ruang untuk menyegarkan kembali pemahaman kader tentang fungsi dasar partai politik.
Menurutnya, partai politik memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar menjadi kendaraan untuk memperoleh kekuasaan.
Ia menilai, tantangan partai politik saat ini adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat melalui peran yang lebih bermakna dalam memperbaiki keadaan.
“Ini menjadi beban berat kita sebagai politisi untuk membuat partai politik itu terasa lebih ada gunanya bagi rakyat,” katanya.
Melalui pendidikan politik tersebut, Ni’matullah berharap kader dan pengurus Demokrat dapat memperlihatkan praktik politik yang berbeda, dengan mengedepankan pemahaman, komunikasi, dan kepentingan masyarakat.
Ia menekankan bahwa dinamika dalam politik merupakan hal yang wajar. Karena itu, kader diminta tetap tenang menghadapi berbagai persoalan dan mencari jalan keluar melalui komunikasi.
“Jangan melihat politik dari sudut yang membuat kening kita berkerut. Bahwa politik itu ada dinamika, ada naik dan turun, itu biasa,” tukasnya.
Penulis: Nursinta