kabarbursa.com
kabarbursa.com
banner 728x250

NasDem Punya Tiket Emas, DP-AIA Penantang Kuat

NasDem Punya Tiket Emas, DP-AIA Penantang Kuat
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan politik Universitas Hasanuddin Makassar Prof Sukri Tamma. Dok IST
banner 468x60

KabarMakassar.com — Pendaftaran bakal calon Gubernur dan bakal calon wakil Gubernur maupun kepala daerah 24 kabupaten/kota tak kurang dua bulan lagi. Terkhusus Pilgub Sulawesi Selatan, kandidat perseorangan hampir dipastikan tidak ada peminat.

Sedang, jalur kendaraan partai politik, hampir parpol pemilik kursi parlemen belum mengumumkan secara resmi paslon yang diusungnya. Meski demikian DPW NasDem Sulsel adalah partai pertai yang lebih awal mengumumkan jagoannya yakni Andi Sudirman Sulaiman berpasangan Fatmawati Rusdi.

Pemprov Sulsel

Dimana sebagai partai pemenang legislatif tingkat Sulsel, NasDem disebut punya tiket emas dengan meraih 17 kursi yang dianggap begitu pede mengusung jagoannya. Merekomendasikan lebih awal paslonnya meskipun dinamika politik saat ini masih menjajaki koalisi gemuk jelang kontestasi yang dihelat serentak pada 27 Nopember mendatang.

Menurut pengamat politik Sulsel Prof Sukri Tamma bahwa saat ini hampir semua parpol dalam Pilkada serengak 2024 intens dikontrol oleh DPP. Termasuk pasca DPW NasDem mengumumkan ASS-Fatma yang kemudian rekomendasi DPP belum diumumkan tentu ada pertimbangan lain atau berbagai alasan.

Lanjut Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan politik Unahs itu, soal DPW Nasdem Sulsel yang merekomendasikan ASS-Fatma namun DPP belum mengeluarkan rekomendasi karena mungkin juga tidak perlu terlalu terburu-buru.

Yang pertama kata Prof Sukri, bahwa mungkin ada juga alasan lain. Karena toh juga Nasdem adalah tiket emas siapa pun yang dipilih pasti akan maju. Sehingga daya tariknya juga sangat tinggi.

Kedua, masih ada alasan lain tentunya atau hal yang dipertimbangkan sehingga masih menunggu finalisasi. Ketiga, hal ini juga waktunya masih cukup panjang dan bagian dari strategi NasDem membuat kandidat lain merasa bingung.

“Artinya pengusung atau parpol lain melihat adanya keraguan dalam mengusung jagoan partai besutan Surya Paloh itu. Kalau belum diumumkan tentu masih ragu-ragu bisa ya atau tidak,”ucap Prof Sukri kepada kabarmakassar.com, Kamis (20/6).

Tapi yang jelas, ia menyebut bahwa pada akhirnya akan diumumkan di akhir bulan menjelang pendaftaran di KPU Sulsel. Nasdem tentu juga punya semua alasan dan hitung-hitungan termasuk potensi kandidat dalam artian sangat mungkin berubah seperti wacana disiapkan untuk Pilwali Makassar sehingga belum ada sikap DPP.

“Terutama ibu Fatmawati Rusdi masih juga diwacanakan sehingga menunggu detik-detik terakhir jelang pilkada serentak. Namun sekali lagi Nasdem punya tiket emas,”jelasnya.

Diketahui, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Sulawesi selatan saat ini telah merekomendasikan agar Dewan Pimpinan Pusat (DPP) mengusung pasangan Andi Sudirman Sulaiman (ASS)- Fatmawati Rusdi pada Pemilihan Gubernur Sulsel. Namun pasangan ini belum mendapatkan restu dari Surya Paloh.

“Belum (rekomendasi), kami menunggu petunjuk ketua umum (Surya Paloh) soal Pilgub,” kata Sekretaris DPW NasDem Sulsel, Syaharuddin Alrif kepada awak media, belum lama ini.

Simulai Kandidat Pilgub Sulsel

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan politik Unhas Prof Sukri Tamma juga menuturkan bahwa jelang kontestasi politik di Sulsel dianggap masih cair. Dimana belum terkunci siapa paslon yang diusung termasuk jagoan NasDem ASS-Fatma juga belum diumumkan oleh DPP.

Sehingga kemudian simulasi-simulasi Pilgub Sulsel 2024 siapa yang berpasangan semua bisa kemungkinan terjadi. Atau otak atik kandidat untuk menjadi paslon masih dinamis.

“Saya kira juga hal wacana paket IAS dan AIA saya sangat mungkin. Beberapa alasan kedua tokoh itu seperti IAS yang mewakili tokoh senior, AIA sudah malang melintang mewakili generasi muda Sulsel,”kata dia.

“Kedua, masing-masing kader partai sehingga kalau kedua parpol bersepakat yakni Golkar dan Gerindra adalah partai yang besar sehingga tentunya bisa mengusung di Pilgub Sulsel,”sambungnya.

Apalagi, kata Prof Sukri, bahwa kedua parpol memiliki kans suara yang cukup besar di Pilgub Sulsel kemarin. Dimana tentu masih merangkul parpol lain dalam koalisi sehingga bisa mengusung paket tersebut.

Ketiga, keduanya tokoh yang sudah cukup malang melintang seperti Andi Iwan Darmawan Aras atau AIA yang kembali sukses terpilih kembali sebagai anggota DPR RI 2024-2029. Senada juga IAS meski pun agak lama vakum di dunia politik namun ketokohannya masih digemari.

Apalagi melihat histori politik atau karier IAS dalam pertarungannya ketiga berhadap dengan Syahrul Yasin Limpo pada Pilgub 2013 silam. IAS sangat dikenal waktu itu meski sejak vakum karena ada musibah yang dialaminya.

Hal itu, sebutnya, bahwa tentu adanya perubahan di tengah berlangsungnya proses politik dalam kurung satu dekade ketika vakumnya IAS namun masih terlihat basis yang masih setia untuk mantan Walikota Makassar dua periode itu.

Dengan demikian hal itu menjadi modal atau masih digarap oleh IAS di sejumlah daerah. Cuman keduanya, dari sisi geopolitik adalah sama-sama orang Bone. Sekali lagi kedua masih terbuka atau cair untuk peluang berpasangan.

DP-AIA Penantang Kuat

“Potensi DP-AIA juga saya kira memungkinkan. Karena hitung-hitungannya kurang lebih dimana DP diyakini membawa PDI Perjuangan dan AIA adalah Gerindra,”ungkap Prof Sukri.

“Dalam konteks ini keduanya mumpuni apalagi DP adalah Walikota dua periode dan AIA anggota DPR RI,”tambahnya.

Masih kata dia, bahwa jita tahu bahwa Makassar itu punya pemilih terbesar di Sulsel dan kita melihat indikasi Pilwali kemarin bisa menjadi suatu ukuran sampai meraih kemenangan diatas 40 persen saat paket DP-Fatma. Meskipun itu juga tidak menapikan keberadaan ibu Fatma.

Hal itu dianggal salah satu ukuran DP yang bisa menjaga basisnya di Makassar yang kemudian dianggap punya modal besar. Hanya memang salah satu titik lemahnya DP sapaan Danny Pomanto kita tahu bukan orang Bugis-Makassar yang kadang-kadang yang juga sangat penting.

Kemudian akses DP ke beberapa wilayah di luar Makassar seperti bagian utara, dan bagian timur perlu dicermati. Kalau kemudian berpasangan AIA saya kira bisa mengisi bagian wilayah tersebut.

“Dan saya kira DP-AIA punya potensi besar apalagi keduanya saat ini dalam berada posisi di eksekutif dan legislatif sehingga cukup baik dalam mengakses dengan baik,”tuturnya.

“Sekali lagi tentu paket ini jadi salah satu penantang yang kuat kepada siapa pun rivalnya nanti di Pilgub. Termasuk keduanya punya yang besar,”tandas Prof Sukri.

Sementara itu, Direktur Eksekutif PT IPI, Suwadi Idris Amir melihat dinamika Pilgub Sulsel 2024, Nasdem pasti hati-hati jika ingin bermain-main dengan ASS-Fatma sebab kedua pasangan ini punya orang-orang berpengaruh dibelakang mereka.

“Kedua pendaftaran pasangan calon msh lama krn nnt bulan agustus, jadi terlalu dini keluar rekomendasi dari partai,”kata Suwadi kepada kabarmakassar.com.

“Menurut saya, tidak susah bagi ASS meyakinkan parpol, sebab survei nya cukup bagus, dan dua tokoh besar dibelakangnya unya akses jaringan kuat di pusat keseluruh parpol,”tambahnya.

IPI : Sudirman-Fatmawati Unggul Jika Head to Head

Jelang kontestasi Pilgub Sulsel 2024, pasangan bakal calon gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Andi Sudirman Sulaiman-Fatmawati Rusdi memiliki elektabilitas tertinggi menurut hasil survei yang dirilis PT Indeks Politica Indonesia (IPI).

Dimana survei IPI itu dilakukan pada 3 sampai 8 Juni 2024 menunjukkan, Sudirman-Fatma unggul di angka 50 persen dibanding kandidat lain jika Pilgub Sulsel 2024 hanya diikuti dua paslon atau head to head.

Demikian itu disampaikan Direktur Eksekutif PT IPI, Suwadi Idris Amir dalam konferensi pers di Makassar, Senin (10/6). Ia menuturkan bahwa, survei ini menggunakan metode multistage random sampling dengan jumlah responden sebanyak 1.440 orang.

“Margin of error-nya 3,8 persen dengan tingkat kepercayaan mencapai 95 persen,” ujar Suwadi Idris Amir.

Menurut survei IPI, jika Sudirman-Fatma head to head Moh. Ramdhan Pomanto-Indah Putri Indriani di Pilgub Sulsel, maka jagoan Nasdem tersebut untuk saat ini unggul dengan tingkat keterpilihan mencapai 56,5 persen.

Persentase keterpilihan tersebut jauh meninggalkan duet Danny Pomanto-Indah Putri dengan elektabilitas 25,2 persen. Dalam simulasi ini, 18,3 persen responden belum memberikan jawaban.

Sudirman-Fatma juga meraih 54,6 persen dukungan jika disimulasikan berhadapan Ilham Arief Sirajuddin yang diduetkan Adnan Purichta Ichsan.

Pasangan IAS-Adnan yang meraih elektabilitas 31,6 persen menurut survei PT IPI. Sebanyak 13,7 responden belum menentukan pilihan dalam simulasi head to head Sudirman-Fatma vs IAS-Adnan.

Menang Jika Lawan Kolom Kosong Bagaimana dengan simulasi Sudirman-Fatma vs Andi Iwan Darmawan Aras (AIA) berpaket Adnan?

Survei PT IPI disebutkan bahwa duet Sudirman-Fatma unggul 59,1 persen atas AIA-Adnan yang meraih 19,9 persen dukungan.

Dimana dirinya menyimpulkan Sudirman-Fatma untuk sementara unggul jika Pilgub Sulsel nantinya hanya diikuti dua pasangan calon.

“Kalau head to head mungkin Danny-Indah paling lemah. Kalau head to head IAS, IAS lebih tinggi. Karena IAS sudah jalan ke banyak daerah, sementara Pak Danny belum. Tapi ini kan data sementara,” jelas Suwadi.

Yang menarik, PT IPI dalam surveinya juga membuat simulasi Sudirman-Fatma melawan kotak kosong. Hasilnya, duet Sudirman-Fatma meraih tingkat keterpilihan 69,8 persen dan kotak kosong 6,2 persen.

Dalam simulasi ini, 24,1 persen responden tidak memberi jawaban. Menurut Suwadi, Sudirman-Fatma akan memenangkan Pilgub Sulsel 2024 jika diikuti tiga paslon. Namun hal lain jika skenarionya adalah dua paslon.

“Saya belum yakin Andi Sudirman akan mengalahkan lawannya kalau head to head per bulan ini. Tidak tahu kalau dua bulan ke depan. Tapi kalau tiga pasang atau kotak kosong, siapapun lawannya pasti menang,” tandas Suwadi.

Sementara itu, jelang pilkada serentak 2024 termasuk Pilgub Sulsel yang dihelat 27 Nopember mendatang, sejumlah figur bakal maju untuk berhadap dengan pasangan Sudirman-Fatmawati yakni Ilham Arief Sirajuddin, Danny Pomanto, Indah Putri Indriani, Adnan Purichta Ichsan dan sejumlah kandidat.

PDAM Makassar