KabarMakassar.com — Filosofi Pappasang atau petuah leluhur menjadi inspirasi utama dalam desain logo Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Makassar ke-419.
Konsep yang diusung pemenang sayembara logo, Agung Alfata dari Tudob Studio, memadukan kearifan lokal dengan pesan pelestarian alam dan semangat optimisme.
Agung menjelaskan, Pappasang dipilih karena mengandung nilai-nilai warisan leluhur tentang hubungan manusia dengan alam.
Petuah tersebut diwariskan secara turun-temurun sebagai pedoman hidup, termasuk mengenai tanggung jawab manusia dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
“Pappasang itu merupakan petuah, pantangan, dan larangan dari leluhur kita yang diwariskan secara tradisi atau verbal. Di dalamnya ada kebijaksanaan tentang menjaga stabilitas alam dan tanggung jawab manusia,” jelas Agung, Jumat (09/10).
Menurutnya, gagasan tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap berbagai persoalan lingkungan yang menjadi perhatian dunia, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, gempa bumi, hingga fenomena El Niño yang dapat memicu kekeringan.
Kondisi tersebut kemudian dipadukan dengan pendekatan ekologi berbasis tradisi. Melalui konsep Pappasang, Agung ingin mengangkat kembali nilai-nilai lokal sebagai pesan yang relevan dengan tantangan masa kini.
“Kami menggabungkan dua premis, yakni krisis iklim dan ekologi berbasis tradisi. Dari situ, kami menjadikan Pappasang sebagai sorotan utama dalam tema logo,” ungkapnya.
Dalam pengembangan visual, tim Tudob Studio mengadaptasi elemen pita dan aksara Lontara sebagai bagian dari identitas logo. Unsur tersebut dirancang untuk merepresentasikan pewarisan nilai, perkembangan, dan karakter budaya Makassar.
Agung menjelaskan, bentuk pita pada bagian angka dalam logo melambangkan proses pewarisan. Sementara itu, garis yang bergerak naik ke arah kanan merepresentasikan progresivitas atau semangat untuk terus berkembang.
Tim juga mengadaptasi karakter garis tipis dari huruf Lontara untuk memperkuat hubungan desain dengan identitas budaya setempat.
“Kami mengadaptasi bentuk pita dan unsur Lontara, lalu mengolahnya menjadi bentuk yang lebih modern agar pesan yang dibawa tetap terasa dekat dengan masyarakat,” ujarnya.
Proses pengembangan logo berlangsung sekitar satu bulan dengan dukungan rekan-rekan dari Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI) Makassar.
Agung mengatakan, proses tersebut tidak hanya berfokus pada bentuk logo, tetapi juga bagaimana desain dapat diterapkan dalam berbagai media dan dirayakan bersama masyarakat.
Selain unsur budaya, pemilihan warna menjadi bagian penting dari konsep visual logo HUT Makassar ke-419.
Agung menyebut penggunaan warna-warna yang beragam bertujuan membangun suasana perayaan sekaligus menyampaikan pesan harapan dan optimisme.
Konsep warna tersebut diberi nama Soro Pakminas, yang dimaknai sebagai cahaya harapan. Dalam penerapannya, identitas visual juga mengangkat unsur Lontara, Lamo-lamo, Mangkasara’, dan gau’.
“Tujuan dari warna-warna ini adalah bagaimana menumbuhkan harapan dan sikap optimistis,” kata Agung.
Tudob Studio turut menyiapkan berbagai contoh penerapan identitas visual agar logo tidak berhenti sebagai simbol seremonial. Desain tersebut dirancang untuk digunakan dalam beragam media, mulai dari umbul-umbul, papan reklame, layar LED, hingga materi media sosial.
Konsep visual juga diperluas ke berbagai produk, seperti kaus polo, topi, kartu identitas, tali lanyard, tumbler, dan pin. Penerapan tersebut diharapkan membuat identitas perayaan lebih mudah dijumpai dalam aktivitas masyarakat.
Agung mengatakan, tim sengaja menggunakan latar dan elemen visual yang berkaitan dengan Makassar agar desain terasa dekat dengan kehidupan warga.
“Kami ingin desain ini bisa dirayakan bersama masyarakat Kota Makassar, termasuk ketika diterapkan di lorong-lorong dan ruang publik,” tuturnya.
Bagi Tudob Studio, pengangkatan Pappasang bukan sekadar pilihan estetika, melainkan cara menghubungkan warisan leluhur dengan persoalan lingkungan dan kehidupan masyarakat masa kini.
Melalui logo HUT Makassar ke-419, nilai-nilai tradisi dihadirkan dalam bentuk visual modern dengan harapan pesan tentang tanggung jawab terhadap alam, optimisme, dan identitas budaya dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
"Kita tak ingin hanya menghadirkan logo tetapi ada pesan dan menjaga kebudayaan mendalam didalamnya," tukasnya.
Penulis: Nursinta