Langsung ke konten
News

Makna 19 Oktober 1669 dalam Sejarah Hari Jadi Sulawesi Selatan

Penetapan 19 Oktober 1669 sebagai Hari Jadi Sulawesi Selatan berkaitan dengan sejarah Perang Makassar, perlawanan terhadap kolonialisme, dan pesan pentingnya menjaga persatuan.

Nofisari Diperbarui
Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Winarno Eka Putra (Dok: Ist)
Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Winarno Eka Putra (Dok: Ist)

KabarMakassar.com -- Penetapan 19 Oktober 1669 sebagai Hari Jadi Sulawesi Selatan memiliki makna sejarah yang berkaitan dengan perjuangan melawan kolonialisme, pembentukan pemerintahan, dan upaya menjaga persatuan masyarakat.

Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Winarno Eka Putra, mengungkap alasan dipilihnya tanggal tersebut sebagai hari jadi Sulawesi Selatan, dalam rapat paripurna peringatan Hari Jadi ke-357 Sulsel di Gedung DPRD Sulsel, Jalan A.P. Pettarani, Makassar, Senin (19/10).

Kata Winarno, tanggal tersebut tidak dipilih semata-mata untuk menandai sebuah peristiwa masa lalu. Angka 19, bulan Oktober, dan tahun 1669 masing-masing memiliki latar sejarah yang menjadi bagian dari identitas Sulawesi Selatan.

Angka 19 merujuk pada tanggal yang juga memiliki arti dalam sejarah awal kemerdekaan Indonesia. Pada 19 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengambil keputusan terkait pembentukan pemerintahan daerah setelah Indonesia merdeka. Sejarah tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pemaknaan tanggal Hari Jadi Sulsel.

Sementara itu, pemilihan bulan Oktober berkaitan dengan sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Sulawesi Selatan. Salah satunya dukungan terhadap Sam Ratulangi sebagai gubernur pertama Provinsi Sulawesi pada 15 Oktober 1945.

Bulan yang sama juga dikaitkan dengan upaya rekonsiliasi di antara para raja yang sebelumnya terlibat dalam Perang Makassar. Proses perdamaian pada Oktober 1674 menjadi bagian dari rangkaian sejarah yang melatarbelakangi pemaknaan bulan tersebut.

Adapun tahun 1669 merujuk pada berakhirnya Perang Makassar, salah satu peristiwa besar dalam sejarah perlawanan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan terhadap kekuatan kolonial. Peristiwa itu ditandai dengan jatuh dan hancurnya Benteng Somba Opu setelah melalui pertempuran selama 40 hari 40 malam.

Kekalahan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan sejarah kawasan ini. Sejumlah tubarani atau pejuang kemudian melanjutkan perjuangan melawan kolonialisme ke Pulau Jawa. Peristiwa itu memperlihatkan bahwa perlawanan tidak berhenti pada satu wilayah, meskipun pusat kekuatan Kerajaan Gowa telah jatuh.

Penetapan tahun 1669 juga membawa pesan agar masyarakat Sulawesi Selatan terus belajar dari sejarah konflik dan perpecahan. Pengalaman masa lalu menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga kebersamaan di tengah perbedaan.

Dalam penjelasan sejarah Hari Jadi Sulsel, tahun tersebut dimaknai sebagai pengingat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman perpecahan. Pesan itu sekaligus menekankan pentingnya merawat persatuan sebagai landasan pembangunan daerah.

"Pilihan tahun yang bersejarah itu, juga dimaksudkan menggugah hati nurani dan kesadaran masyarakat Sulawesi Selatan sampai kapanpun, untuk tetap meningkatkan kewaspadaan secara terus menerus dari bahaya perpecahan, dengan tetap menjaga potensi kebersamaan serta mengembangkan persatuan di kalangan warga masyarakat Sulawesi Selatan, untuk terus melanjutkan Pembangunan yang bertujuan pada masyarakat sejahtera dan cinta pada tanah air," ungkap Winarno.

Dengan demikian, Hari Jadi Sulawesi Selatan tidak hanya menjadi penanda usia daerah. Peringatan setiap 19 Oktober juga menjadi momentum untuk mengingat perjalanan sejarah sekaligus meneguhkan komitmen menjaga persatuan dan melanjutkan pembangunan bagi masyarakat.

 

Penulis: Syamsi Nur Fadhila

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua