Langsung ke konten
News

Ma'pabendan Bate Warnai Merok Tongkonan Potoksia dan Kamiri di Toraja Utara

Ritual Ma'pabendan Bate dalam Merok Tongkonan Potoksia dan Kamiri menjadi bagian Toraja Highland Festival 2026 untuk merawat budaya dan persaudaraan.

Nofisari Diperbarui
Pemasangan Kandaure pada Bate yang sudah berdiri di antara Tongkonan Potoksia dan Kamiri di Buntu Pune Kecamatan Kesu' Toraja Utara (Dok: Ist)
Pemasangan Kandaure pada Bate yang sudah berdiri di antara Tongkonan Potoksia dan Kamiri di Buntu Pune Kecamatan Kesu' Toraja Utara (Dok: Ist)

KabarMakassar.com — Ritual adat Ma'pabendan Bate menjadi salah satu rangkaian kegiatan Merok Tongkonan Potoksia dan Kamiri di Buntu Pune, Kecamatan Kesu', Kabupaten Toraja Utara, Selasa (03/11).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Toraja Highland Festival 2026, sebuah agenda promosi pariwisata tahunan yang diselenggarakan Masyarakat Sadar Wisata (Masata).

Pelaksanaan Ma'pabendan Bate dipimpin Majelis Gereja Toraja Jemaat Karambé bersama para pemangku adat melalui rangkaian ibadah. Ritual ini tidak hanya menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga menjadi momentum untuk merefleksikan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan kehidupan.

Dalam kegiatan tersebut, Divisi Acara, Alfrias Bunganna, menyampaikan refleksi bertema "Colere, Merok, dan Ma'pabendan Bate: Merawat Kehidupan, Mempertemukan Langit dan Bumi".

Dalam refleksinya, Alfrias menjelaskan bahwa kebudayaan tidak sebatas bentuk fisik maupun praktik adat, seperti tongkonan, bahasa, pakaian, dan upacara. Lebih dari itu, kebudayaan juga mengandung nilai tentang bagaimana manusia merawat kehidupan agar tumbuh dalam martabat, kebijaksanaan, tanggung jawab, dan kasih.

Konsep colere yang berasal dari bahasa Latin menjadi salah satu dasar pemikiran dalam refleksi tersebut. Istilah ini berkaitan dengan tindakan mengolah, merawat, dan memelihara kehidupan, sekaligus memiliki makna penghormatan kepada Yang Ilahi.

Melalui pemahaman itu, budaya dan iman dipandang sebagai dua dimensi yang saling berkaitan. Merawat kehidupan merupakan bentuk tanggung jawab manusia, sedangkan kehidupan yang dijalani dengan nilai-nilai kemanusiaan diarahkan untuk memuliakan Tuhan.

Ma'pabendan Bate dan Makna Perjumpaan

Dalam refleksi tersebut, Bate dimaknai sebagai simbol hubungan antara bumi dan langit, sekaligus menggambarkan kerinduan manusia untuk mengalami perjumpaan dengan Yang Ilahi.

Bate juga dipahami sebagai pendirian ruang liturgis, yakni ruang bagi umat untuk mengungkapkan hubungan dengan Tuhan melalui simbol, tindakan, doa, pujian, dan ungkapan syukur.

Pesan yang ditekankan dalam ritual ini adalah bahwa berkat yang diterima manusia perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

"Jika kita menerima berkat, kita harus menjadi berkat. Jika kita bersyukur atas persatuan, kita harus memelihara persaudaraan," ungkap Alfrias.

Refleksi berikutnya mengangkat tema "Kristus, Eran di Langi' Sejati: Mimpi Yakub, Langit yang Terbuka, dan Pengharapan Baru dalam Ma'pabendan Bate".

Tema tersebut menghubungkan makna Bate dalam tradisi Toraja dengan kisah Yakub dalam Kitab Kejadian 28:10–17 serta perkataan Yesus dalam Yohanes 1:51.

Kisah Yakub tentang tangga yang menghubungkan bumi dan langit dimaknai sebagai gambaran penyertaan Allah terhadap manusia. Sementara itu, perkataan Yesus mengenai langit yang terbuka dan malaikat-malaikat Allah yang naik turun kepada Anak Manusia menjadi dasar refleksi mengenai pribadi Yesus Kristus.

Dalam penghayatan iman Kristen, Kristus dipahami sebagai Eran di Langi' Tongan, yang dimaknai sebagai jalan sejati menuju Bapa.

Refleksi ini menekankan bahwa tradisi Toraja dan iman Kristen dapat dipertemukan melalui dialog teologis-kultural dengan tetap menghormati makna warisan leluhur.

Bate tetap dipahami sebagai simbol budaya dalam tradisi Toraja, sementara Kristus menjadi pusat pengakuan iman Kristen.

Dorong Pelestarian Budaya melalui Semangat 3Re

Selain membahas makna ritual dan hubungan budaya dengan iman, rangkaian refleksi juga mengangkat pentingnya semangat 3Re, yakni Revitalisasi, Reinterpretasi, dan Reedukasi dalam merawat kebudayaan Toraja.

Revitalisasi dimaknai sebagai upaya menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang membangun kehidupan. Reinterpretasi merupakan usaha membaca kembali makna simbol dan praktik adat secara bertanggung jawab.

Adapun reedukasi menjadi proses mendidik generasi muda agar tidak hanya memahami tata cara pelaksanaan suatu ritus, tetapi juga mengerti makna serta tanggung jawab yang terkandung di dalamnya.

Melalui semangat tersebut, Merok dan Ma'pabendan Bate diharapkan tidak sekadar menjadi perayaan warisan leluhur, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, memulihkan hubungan keluarga, dan mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi berikutnya.

Pesan utama dalam refleksi itu menekankan bahwa kebudayaan perlu terus dirawat, iman dihidupi, dan persaudaraan diwujudkan melalui tindakan nyata.

"Hari ini kita mendirikan Bate. Esok dan seterusnya, kitalah yang harus menegakkan persaudaraan," tutup Alfrias.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Merok Tongkonan Potoksia dan Kamiri serta Ma'pabendan Bate diharapkan menjadi momentum untuk mewariskan bukan hanya bangunan dan simbol adat, tetapi juga nilai kebijaksanaan, kepedulian, kasih, dan pengharapan kepada generasi mendatang.

 

Penulis: Jerni Bening

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua