KabarMakassar.com – Kualitas udara di Kota Makassar dan sekitarnya kian memburuk dalam dua pekan terakhir.
Konsentrasi partikel halus PM2,5 meningkat hingga melampaui 150 mikrogram per meter kubik dan masuk kategori sangat tidak sehat berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 13 hingga 14 Oktober 2026.
Ketua Tim Meteorologi Makassar, Rizki Yuda, mengatakan penurunan kualitas udara telah terpantau sejak 30 September 2026 lalau.
Kondisi tersebut berlanjut hingga pertengahan Oktober, dengan konsentrasi PM2,5 yang meningkat dari kategori tidak sehat menjadi sangat tidak sehat hingga saat ini.
“Sejak tanggal 30 September, kualitas udara di wilayah Makassar dan sekitarnya turun ke level tidak sehat. Sampai hari ini meningkat menjadi sangat tidak sehat dengan konsentrasi lebih dari 150 mikrogram per meter kubik,” ujar Rizki Yuda, Rabu (14/10)
Menurut Rizki, memburuknya kualitas udara dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya meningkatnya kebakaran hutan dan lahan di Sulawesi Selatan (Sulsel) maupun di luar wilayah tersebut. Kondisi ini menyebabkan udara kabur atau haze yang berdampak pada penurunan jarak pandang hingga kurang dari lima kilometer.
"Jadi awalnya itu kabut asap merupakan sebaran udara dari Kalimantan tapi kemudian ada perubahan angin sehingga asap kebakaran dari Maluku hingga Papua juga ke Makassar," ujarnya.
Sebaran partikel PM2,5 juga terpantau meluas ke hampir seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Kondisi udara kabur turut dilaporkan terjadi di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Utara. Berdasarkan hasil pemantauan, konsentrasi PM2,5 yang tercatat di Maros menjadi yang tertinggi dibandingkan wilayah lainnya.
Rizki mengungkapkan, konsentrasi PM2,5 cenderung mencapai tingkat tertinggi pada pukul 07.00–08.00 Wita dan kembali meningkat pada pukul 19.00–20.00 Wita. Masyarakat diminta mewaspadai kondisi tersebut, terutama saat beraktivitas di luar ruangan pada jam-jam tersebut.
“Kami mengimbau masyarakat Makassar maupun Sulawesi Selatan secara umum untuk mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan dan memakai masker, khususnya bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, orang tua, dan anak-anak,” ujarnya.
Terkait kemungkinan pemulihan kualitas udara, Rizki mengatakan waktunya belum dapat dipastikan karena bergantung pada sumber polutan. Hujan diprediksi mulai terjadi di Makassar dan sekitarnya pada akhir November hingga awal Desember 2026. Hujan berpotensi membantu membersihkan partikel polutan yang berada di udara.
Sebagai langkah koordinasi, pihaknya telah menerbitkan dua surat edaran kepada Gubernur Sulawesi Selatan dan Wali Kota Makassar serta berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terkait peningkatan konsentrasi PM2,5 dan penurunan kualitas udara.
Penulis: Nursinta