kabarbursa.com
kabarbursa.com
banner 728x250
News  

Kopi Leluhur, Merawat Warisan dan Rasa

banner 468x60

KabarMakassar.com — Siapa yang tak kenal dengan sajian minuman legendaris Kopi Toraja yang kini bisa didapatkan dengan mudah dimana saja.

Sajian minuman satu ini menjamur di kedai-kedai ataupun coffee shop di Indonesia khususnya di Kota Makassar bahkan bisa didapatkan dalam kemasan praktis yang mudah dibawa kemana pun dan hanya perlu diseduh.

Pemprov Sulsel

Ade Sri Rahayu, pelaku UMKM yang mengembangkan usaha produk kopi kemasan yang sudah ada sejak tahun 1993 dengan bisnis usaha bernama 'Kopi Leluhur'.

Perempuan yang akrab disapa Ibu Ade itu merupakan generasi kedua dari neneknya yang sudah dulu mengembangkan usaha kopi dengan mengandalkan bahan utama dari lahan kopi miliknya di Toraja.

"Usaha sejak tahun 1993 kebetulan sudah dari nenek saya jadi makanya namanya Kopi Leluhur," ungkapnya, Rabu (24/05).

Ade meneruskan usaha Kopi Leluhur sejak tahun 2015 dan telah mengekspor ke berbagai daerah di Indonesia mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku serta mengeskpor produknya ke sejumlah negara seperti Hongkong, Australia hingga Arab Saudi.

Omset yang diterimanya pun tak tanggung-tanggung dengan nilai minimal Rp60 juta per bulannya.

"Kita sudah go internasional sudah pernah ekspor atas permintaan dari Hongkong, Australia dan Arab Saudi," sambungnya.

Ade menuturkan usaha Kopi Leluhur miliknya mengandalkan bahan utama kopi dari Toraja dengan jenis kopi robusta dan arabika.

Proses dilakukan dengan mengolah biji mentah dari petani hingga menjadi kopi bubuk yang siap diseduh.

Adapun proses pengolahan dilakukan langsung di Toraja sementara pengemasan dikerjakan di Makassar.

"Jadi kamu mengelola dari biji mentah hingga jadi bubuk kopi," ucapnya.

Hasil produk yang dihasilkan berupa kopi kemasan dengan varian rasa kopi robusta, arabika dan kopi blen yang merupakan perpaduan antara kopi robusta dan arabika.

Bahkan Ibu Ade juga memproduksi bubuk minuman seperti greentea dan cokelat bagi calon konsumen yang tidak begitu menyukai kopi.

"Kami juga ada sediakan seperti bubuk green tea dan cokelat karena tidak semua orang suka sama kopi," bebernya.

Hingga kini Ibu Ade telah mempekerjakan sebanyak empat karyawan tetap untuk mengemas kopi bubuk dan 10 sampai 15 buruh harian yang melakukan pengolahan biji, pengeringan hingga sortir.

"Kalau karyawan tetap ada empat sementara buruh harian itu 10 sampai 15 orang," pungkasnya.

Ibu Ade menyebut rasa kopi dari produknya tak pernah berubah sejak dulu dan memiliki ciri rasa yang khas yang berbeda dari lainnya yang terus dijaga.

Kopi Leluhur juga mudah didapatkan di berbagai toko oleh-oleh di Makassar dan platform digital seperti Shopee dan Tokopedia yang dibandrol dengan harga Rp25 ribu hingga Rp58 ribu per kemasan dan Rp125 ribu per kilogram untuk grade A.

Namun untuk lokasi produksinya sendiri berada di Jalan Asrama Haji Sudiang Makassar.

Ibu Ade juga mengaku perkembangan usahanya dibantu dengan modal dana KUR dan pendampingan dari Bank BRI

Ia pun berharap agar terus dapat bekerjasama dengan Bank BRI dan mendapatkan berbagai bimbingan untuk mengembangkan usahanya.

"Selalu pelaku usaha tentu haus akan ilmu jadi selalu membutuhkan bimbingan untuk usaha kami jadi besar," harapnya.

PDAM Makassar