Langsung ke konten
News

Kisah Kapten Ashari Bertahan dari Penyanderaan Perompak Somalia

Kapten MT Honour 25 asal Gowa, Ashari Samadikun, akhirnya kembali ke Indonesia setelah hampir enam bulan disandera perompak di Somalia.

ardiyanti Diperbarui
(Foto : IST)
(Foto : IST)

KabarMakassar.com -- Setelah hampir enam bulan berada dalam penyanderaan perompak di perairan Somalia, Afrika Timur, Kapten MT Honour 25 asal Kabupaten Gowa, Ashari Samadikun, akhirnya selamat dan kembali berkumpul bersama keluarganya.

Di kediamannya di Dusun Moncongloe, Kabupaten Gowa, Ashari menceritakan kembali pengalaman mencekam ketika kapal yang dinakhodainya dibajak kelompok bersenjata di perairan Somalia pada April 2026.

Ashari bersama belasan awak kapal lainnya harus menjalani berbulan-bulan dalam penguasaan kelompok perompak sebelum operasi pembebasan dilakukan pada akhir September 2026.

Kapal MT Honour 25 diketahui membawa awak dari sejumlah negara. Empat di antaranya merupakan warga negara Indonesia, termasuk Ashari dan Adi Faizal asal Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Ashari mengungkapkan, selama penyanderaan para awak kapal berada dalam tekanan dan ancaman kelompok bersenjata.

Menurut penuturannya, kelompok perompak sempat meminta uang tebusan sebesar 7 juta dolar Amerika Serikat dan mengancam keselamatan para sandera apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi.

Pengalaman paling berat bagi Ashari terjadi saat operasi pembebasan berlangsung.

“Dari 16 anggota kru kapal, lima di antaranya tewas terkena tembakan dan satu orang mengalami luka tembak,” ujar Ashari sambil meneteskan air mata saat menceritakan kembali peristiwa tersebut di hadapan kedua orang tuanya.

Lima awak kapal dilaporkan meninggal dunia ketika terjadi baku tembak antara kelompok perompak dan pasukan yang melakukan operasi pembebasan.

Sementara empat WNI yang berada di atas MT Honour 25 berhasil selamat.

Mereka adalah Ashari Samadikun asal Gowa, Wahudinanto asal Pemalang, Adi Faizal asal Bulukumba, serta Fiki Mutakin asal Bogor.

Upaya pembebasan para sandera mencapai titik akhir pada 29 September 2026.

Pasukan keamanan Puntland, wilayah semi-otonom di Somalia, melakukan operasi bersenjata untuk mengambil alih kapal dan menyelamatkan para awak yang masih berada dalam penyanderaan.

Operasi tersebut berlangsung menegangkan karena terjadi baku tembak antara pasukan keamanan dengan kelompok perompak.

Ashari bersama tiga WNI lainnya berhasil selamat dari operasi tersebut.

Setelah dibebaskan, para WNI menjalani proses pemulihan terlebih dahulu di Puntland sebelum akhirnya dipulangkan ke Indonesia.

Keempatnya tiba di Terminal VIP Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Selasa (06/10/2026), dan dipertemukan kembali dengan keluarga.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri sebelumnya melakukan komunikasi dengan pemerintah federal Somalia, otoritas Puntland, serta sejumlah pihak terkait selama proses pembebasan berlangsung.

Pemerintah Indonesia juga menegaskan tidak memenuhi tuntutan yang diajukan kelompok pembajak dalam proses penyelamatan para WNI.

Masih Trauma Ingat Rekannya Tewas

Meski telah berhasil kembali ke tengah keluarga, Ashari mengaku pengalaman selama penyanderaan masih meninggalkan trauma.

Terlebih, ia menyaksikan situasi ketika sejumlah awak yang selama berbulan-bulan menjalani penyanderaan bersamanya kehilangan nyawa dalam operasi pembebasan.

Ingatan terhadap lima rekannya yang tewas membuat Ashari belum sepenuhnya lepas dari tekanan psikologis setelah kembali ke rumah.

Kendati demikian, kepulangan Ashari disambut penuh rasa syukur oleh keluarga setelah berbulan-bulan menanti kepastian nasibnya.

Sebelumnya, keluarga Ashari di Gowa terus berharap pemerintah dapat membantu proses pembebasan dan pemulangannya setelah MT Honour 25 dilaporkan dibajak di wilayah perairan Somalia pada April 2026.

Kini, setelah hampir enam bulan berada dalam penyanderaan, Ashari akhirnya dapat kembali bersama keluarganya di Kabupaten Gowa.

 

Penulis: Soleh Sibali 

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua