KabarMakassar.com -- Perusahaan asal Australia mulai menjajaki peluang investasi dalam pengembangan Kereta Api Trans Sulawesi di Sulawesi Selatan. Ketertarikan tersebut mencakup pengembangan jaringan perkeretaapian yang sudah dibangun hingga potensi pengoperasian kereta khusus untuk mengangkut barang.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Sulsel, Asrul Sani, mengungkapkan perusahaan tersebut telah mendatangi Sulawesi Selatan bersama perwakilan konsulat. Kunjungan itu dilakukan untuk melihat peluang keterlibatan mereka dalam proyek infrastruktur transportasi kereta api.
"Terakhir ada perusahaan dari Australia dan bersama konsulatnya datang. Sebenarnya mereka berminat," ungkap Asrul, saat ditemui di Kantor DPMPTSP Sulsel, Senin (02/11).
Menurut Asrul, ketertarikan investor asing tersebut menjadi peluang untuk memperluas sumber pembiayaan pengembangan perkeretaapian di Sulsel. Keterlibatan pihak swasta diharapkan dapat mendukung keberlanjutan pembangunan sekaligus membuka peluang pengembangan layanan transportasi barang.
Pemprov Sulsel sendiri telah mempertemukan calon investor dengan Kementerian Perhubungan dan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Fasilitasi tersebut diperlukan karena kebijakan pembangunan dan pengelolaan jaringan kereta api merupakan kewenangan pemerintah pusat.
"Kami hanya sebatas memfasilitasi karena memang kewenangannya ada di Kementerian Perhubungan," jelasnya.
Asrul menjelaskan, pembangunan Kereta Api Trans Sulawesi sejak awal tidak hanya ditujukan untuk melayani perjalanan penumpang. Infrastruktur tersebut juga dirancang sebagai sarana distribusi logistik, terutama untuk menghubungkan Makassar dengan daerah-daerah penghasil komoditas.
Berdasarkan dokumen perencanaan Kementerian Perhubungan, pengembangan perkeretaapian bahkan diarahkan untuk membentuk jaringan yang terintegrasi di seluruh Pulau Sulawesi. Rencana tersebut membuka peluang konektivitas antardaerah melalui transportasi kereta api.
Di Sulawesi Selatan, selain lintasan Makassar-Parepare, terdapat pula kajian awal pembangunan jalur khusus untuk kawasan Mamminasata. Jalur ini diproyeksikan mendukung aktivitas pengangkutan barang dan kebutuhan logistik di kawasan metropolitan tersebut.
Namun, rencana pembangunan jalur Mamminasata masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut. Besarnya kebutuhan investasi menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan sebelum proyek tersebut dilanjutkan ke tahap berikutnya.
Asrul menilai penyelesaian jalur Makassar-Parepare masih lebih mendesak dibandingkan pengembangan jaringan baru. Salah satu bagian yang perlu dituntaskan adalah lintasan Maros-Makassar sepanjang sekitar 12 kilometer yang masih masuk dalam proyek strategis nasional.
Sebagai informasi, pembangunan tahap pertama Kereta Api Trans Sulawesi di Sulsel memiliki panjang sekitar 145 kilometer. Jalur yang telah beroperasi menghubungkan Stasiun Mandai di Kabupaten Maros dengan Stasiun Palanro di Kabupaten Barru.
Ke depan, pengembangan jaringan kereta api juga diharapkan menjangkau Makassar New Port. Konektivitas dengan pelabuhan tersebut berpotensi memperkuat distribusi komoditas, memperlancar arus barang, serta mendukung kegiatan ekonomi di Sulawesi Selatan.
Penulis: Syamsi Nur Fadhila