KabarMakassar.com -- Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Andi Sudirman Sulaiman, melanjutkan program pendampingan keluarga dalam penanganan stunting dengan melibatkan 3.060 kader desa dan kelurahan. Ribuan kader yang telah mengikuti pelatihan tersebut ditugaskan mendampingi keluarga sasaran selama dua bulan hingga akhir Desember 2026.
Andi Sudirman mengatakan, pelibatan kader merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memastikan anak-anak yang membutuhkan intervensi gizi mendapatkan pendampingan secara langsung. Program ini juga meneruskan kegiatan serupa yang telah dilaksanakan Pemprov Sulsel pada tahun sebelumnya.
Pada 2025, pemerintah mengintervensi sebanyak 15.120 anak melalui pemberian makanan tambahan. Kegiatan tersebut disertai edukasi pemenuhan gizi, pendampingan keluarga, serta kunjungan langsung ke rumah penerima manfaat untuk memastikan bantuan menjangkau sasaran.
"Jadi tahun lalu kita laksanakan intervensi untuk 15.120 anak yang diberikan PMT, kemudian ada pendampingan, edukasi dan door to door kita kasih makan ya," ujar Andi Sudirman.
Pada pelaksanaan tahun ini, pemerintah memperluas keterlibatan masyarakat dengan menyiapkan ribuan kader di tingkat desa dan kelurahan. Sebanyak 3.060 kader telah menjalani pelatihan sebelum mulai melakukan pendampingan kepada keluarga yang masuk dalam daftar penerima manfaat.
Andi Sudirman menjelaskan, pemerintah tidak menetapkan target penurunan prevalensi stunting dalam bentuk persentase tertentu hingga akhir 2026. Hal itu karena angka prevalensi diperoleh melalui survei sehingga perubahan kondisi di lapangan tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi angka penurunan dalam periode pendampingan yang relatif singkat.
Menurutnya, pemerintah lebih mengutamakan perbaikan kondisi anak dan keluarga yang menjadi sasaran intervensi. Keberhasilan program diharapkan dapat dilihat dari kemampuan keluarga keluar dari persoalan yang selama ini membuat mereka membutuhkan bantuan dan pendampingan.
"Target kita adalah bagaimana masyarakat yang menjadi sasaran penerima manfaat bisa keluar dari kondisi yang membutuhkan pendampingan atau permasalahan yang mereka hadapi," katanya.
Ia menilai penanganan stunting harus dilakukan secara berkesinambungan karena kebutuhan gizi anak dapat kembali menjadi persoalan apabila intervensi dihentikan. Oleh sebab itu, pemerintah perlu menjaga konsistensi program, termasuk memastikan keluarga sasaran tetap memperoleh pemantauan setelah menerima bantuan.
Untuk mendukung pelaksanaan di lapangan, Pemprov Sulsel menyiapkan sistem pendataan yang memuat identitas dan alamat keluarga penerima manfaat. Data tersebut diperbarui dan divalidasi secara berkala agar kader mengetahui secara jelas siapa yang harus didampingi serta lokasi tempat tinggalnya.
Andi Sudirman menyebut para kader juga telah menjalani pengujian setelah mengikuti pelatihan. Mereka diharapkan menguasai informasi keluarga sasaran dan memahami tanggung jawab selama program berlangsung, sehingga kunjungan lapangan tidak dilakukan tanpa arah yang jelas.
"Kita sudah menguji para kader. Mereka sudah hafal nama-nama sasaran karena sebelumnya telah mengikuti pelatihan. Dashboard juga sudah lengkap, mulai dari nama hingga alamat. Datanya sudah valid dan terus diinput serta divalidasi secara kontinu setiap tahun," ungkapnya.
Selain pendampingan oleh kader, pemerintah juga mengandalkan dukungan Kementerian Kesehatan dalam penyediaan makanan tambahan. Bantuan tersebut disiapkan melalui rumah-rumah produksi yang mengolah menu khusus untuk memenuhi kebutuhan anak-anak penerima intervensi.
Andi Sudirman berharap keterlibatan ribuan kader dapat memberikan hasil yang lebih baik bagi penanganan stunting di Sulsel. Ia meminta para pendamping tetap aktif menjalankan tugas, terutama dalam memantau perkembangan anak dan mendatangi keluarga sasaran secara langsung.
"Saya rasa ini akan memberikan hasil yang lebih baik. Harapan saya, para kader tetap semangat karena ini merupakan pekerjaan yang memang membutuhkan banyak tenaga. Ini adalah kerja untuk negara dan Merah Putih, serta menyangkut anak-anak kita semuanya," tuturnya.
Penulis: Syamsi Nur Fadhila