Langsung ke konten
News

FSIKP UMI Jadikan Bulan Bahasa Ruang Refleksi dan Kolaborasi

FSIKP UMI memperingati Bulan Bahasa 2026 sebagai ruang refleksi akademik dan budaya untuk memperkuat literasi, berpikir kritis, serta pelestarian budaya di era digital dan kecerdasan buatan.

Nofisari Diperbarui
Dekan FSIKP UMI, Nurjannah Abna (Dok: Ist)
Dekan FSIKP UMI, Nurjannah Abna (Dok: Ist)

KabarMakassar.com -- Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) Universitas Muslim Indonesia (UMI) menjadikan Peringatan Bulan Bahasa 2026 sebagai ruang refleksi akademik dan budaya bagi mahasiswa di tengah derasnya arus informasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan. 

Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis, keterampilan berbahasa, serta pemahaman terhadap identitas budaya.

Dekan FSIKP UMI, Nurjannah Abna, mengatakan peringatan Bulan Bahasa perlu melampaui kegiatan seremonial. Menurutnya, bahasa, sastra, dan budaya harus tetap mendapat perhatian ketika masyarakat semakin bergantung pada teknologi untuk berkomunikasi dan mengakses informasi.

"Peringatan Bulan Bahasa tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Kami ingin menjadikannya sebagai ruang refleksi akademik dan budaya, tempat mahasiswa belajar bahwa kemampuan berbahasa bukan hanya persoalan keterampilan menyampaikan pesan, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, memahami makna, menghargai perbedaan, dan menjaga identitas budaya," ungkapnya.

Peringatan Bulan Bahasa 2026 diselenggarakan FSIKP UMI di Aula Teleconference, Fakultas Kedokteran Lantai 5, Kampus UMI Makassar, Senin (19/10). 

Kegiatan tersebut mengangkat tema “Menggali Esensi Bahasa, Sastra, dan Budaya di Tengah Arus Percepatan Digital dan Krisis Refleksi”.

Nurjannah menjelaskan, tema tersebut berkaitan dengan tantangan yang dihadapi generasi muda ketika berinteraksi di tengah arus informasi cepat, penggunaan media sosial, dan semakin luasnya pemanfaatan kecerdasan buatan. Dalam situasi itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk memahami informasi, mengolah gagasan, dan menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab.

FSIKP UMI, lanjutnya, berupaya menggabungkan penguatan pengetahuan dengan pengembangan kreativitas mahasiswa. Kegiatan kebahasaan dan kesastraan juga diarahkan untuk membuka ruang bagi mahasiswa dalam menghasilkan karya serta memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat.

"Kami ingin mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara kreatif dan bertanggung jawab untuk menghasilkan karya, mengembangkan literasi, memperkenalkan kekayaan budaya lokal, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat," tambahnya.

Pembukaan kegiatan dilakukan Rektor UMI, Prof Hambali Thalib. Dalam sambutannya, ia mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan kemudahan teknologi sebagai alasan untuk mengabaikan proses berpikir kritis dan etika komunikasi.

Menurut Hambali, kemampuan berbahasa tidak hanya berkaitan dengan kefasihan berbicara atau penguasaan kosakata, tetapi juga kesantunan, ketepatan, dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Ia juga mendorong mahasiswa memanfaatkan teknologi untuk mendokumentasikan bahasa daerah, mengembangkan karya sastra, dan memperkenalkan kebudayaan lokal.

Peringatan Bulan Bahasa 2026 turut menghadirkan akademisi, praktisi kebahasaan, sastrawan, serta mitra dari dalam dan luar negeri. Sejumlah undangan yang hadir di antaranya Ketua Yayasan Wakaf UMI, Prof Masrurah Mokhtar, Wakil Rektor IV UMI, KH Ishaq Shamad; Wakil Rektor V UMI, Setyawati Yani, serta Assoc Prof Mohd Azmir bin Mohd Nizah dari Universiti Sains Islam Malaysia (USIM).

Hadir pula Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan periode 2025–2026, Toha Machsum, sastrawan Faisal Oddang, dan Direktur Alekawa LCC, Nur Rahmat Hidayat, bersama dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa FSIKP UMI, serta mahasiswa asing dan pendamping dari Kantor Urusan Internasional UMI.

Melalui kegiatan ini, FSIKP UMI berharap pengembangan bahasa, sastra, komunikasi, dan pendidikan dapat berjalan seiring dengan pemanfaatan teknologi. Kolaborasi dengan akademisi dan mitra juga diharapkan memperluas ruang pembelajaran serta mendukung pengenalan budaya lokal di tengah perkembangan komunikasi digital.

 

Penulis: Syamsi Nur Fadhila

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua