Langsung ke konten
News

Empat Peneliti FKG Unhas Paparkan Riset Celah Bibir dan Lelangit di Kongres Dunia

Empat peneliti FKG Unhas memaparkan riset celah bibir dan lelangit pada CLEFT 2026 di Praha, bersama peneliti dan klinisi dari 46 negara.

Nofisari Diperbarui
Dosen FKG Unhas memaparkan hasil riset tentang celah bibir dan lelangit (CBL) pada 18th World Congress of the International Cleft Lip and Palate Foundation (Dok: Ist)
Dosen FKG Unhas memaparkan hasil riset tentang celah bibir dan lelangit (CBL) pada 18th World Congress of the International Cleft Lip and Palate Foundation (Dok: Ist)

KabarMakassar.com – Empat dosen Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Hasanuddin (Unhas) dari empat disiplin ilmu berbeda memaparkan hasil riset tentang celah bibir dan lelangit (CBL) pada 18th World Congress of the International Cleft Lip and Palate Foundation (CLEFT 2026), 30 September sampai dengan 3 Oktober 2026 di Praha, Republik Ceko.

Kongres yang digelar yayasan internasional ini mengusung tema "Bridging Specialties, Transforming Lives", yang menekankan kerja sama lintas spesialisasi. Kongres diikuti peneliti dan klinisi dari 46 negara di lima benua, antara lain Amerika Serikat, Inggris, Jepang, India, Brasil, dan Afrika Selatan. Hadir pula organisasi nirlaba yang menangani CBL secara gratis, seperti Smile Train sebagai sponsor utama, Cleft Prevention International Foundation, Noordhoff Craniofacial Foundation, CLAPA dari Inggris, serta Celebes Cleft Center (CCC) dari Makassar.

Beban CBL di Negara Kepulauan

CBL adalah kelainan bawaan wajah dan mulut yang paling sering ditemukan di dunia, sekitar 1 dari 700 kelahiran. Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2024 mencatat 240 kasus per 100.000 kelahiran, dua kali lipat dibanding 2018, atau sekitar 7.500 bayi per tahun. Tanpa penanganan tuntas, CBL mengganggu fungsi makan, bicara, pendengaran, dan psikososial anak.

Dengan sekitar 17.380 pulau, akses layanan kesehatan di Indonesia masih sulit. Penelitian tim Unhas (2024) menunjukkan kurangnya pengetahuan orang tua, kekhawatiran akan keamanan tindakan, serta biaya transportasi antarpulau dan penginapan menjadi hambatan utama. Mobilitas keluarga yang tinggi juga kerap memutus rujukan, sementara dokter spesialis masih terkonsentrasi di perkotaan.

Menjawab tantangan ini, Prof. Muhammad Ruslin, Dr. Andi Tajrin, dan tim mendirikan Yayasan CCC pada 2011. Yayasan ini menghimpun berbagai dokter spesialis, terapis wicara, dan mitra pendanaan untuk memberikan penanganan CBL yang komprehensif, berbasis riset, dan gratis hingga ke pelosok Indonesia timur.

Empat riset, Empat Disiplin Ilmu

Husni Mubarak, drg., Sp.BMM. memaparkan faktor risiko CBL di Indonesia Timur dari studi terhadap 497 partisipan. Usia ibu di bawah 20 tahun, pendidikan ibu yang rendah, konsumsi obat flu saat hamil, dan konsumsi air sumur berkaitan dengan peningkatan risiko, sedangkan konsumsi susu, vitamin di awal kehamilan, dan aktivitas fisik teratur berkaitan dengan risiko lebih rendah.

Rifaat Nurrahma, drg., Sp.Pros.(K) memaparkan penggunaan alat presurgical nasoalveolar molding (PNAM) dan lip taping pada bayi baru lahir di RSGM Unhas. Metode ini mempersempit celah bibir dan memperbaiki kesimetrisan hidung sebelum operasi, meski keberhasilannya bergantung pada kepatuhan orang tua.

Ita Purnama Alwi, drg., Sp.Ort. menampilkan poster tentang perawatan ortodonti tanpa operasi rahang pada pasien 19 tahun yang belum pernah menjalani operasi lelangit. Dengan teknik kawat MEAW, gigitan terbalik dikoreksi dan senyum membaik. Kasus ini menunjukkan pasien yang terlambat ditangani tetap memiliki pilihan perawatan.

Hasanuddin, M.Sc. memaparkan hambatan dan strategi penanganan CBL berdasarkan analisis 1.610 kasus dari misi operasi CCC. Selain kendala biaya dan geografis, penelitian ini menemukan anggapan budaya bahwa CBL tidak dapat diobati, serta kekurangan spesialis yang membuat operasi bibir lebih diprioritaskan dibanding operasi lelangit yang lebih penting secara fungsi. Kunci model CCC adalah kerja sama lintas sektor yang melibatkan LSM, universitas, dan pemerintah, termasuk Polri dan TNI yang membantu logistik.

Selain pertemuan ilmiah, kongres ini dirangkaikan dengan penggalangan dana pencegahan CBL bertajuk Run for Cleft Prevention.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua