kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Elsa Sulap Hama Eceng Gondok di Makassar Jadi Produk Internasional

banner 468x60

KabarMakassar.com — Elsa perempuan asal Makassar menyulap Eceng Gondok yang kerap dianggap hama menjadi produk internasional yang tembus ke berbagai negara.

Saat ditemui, Elsa membagikan cerita inspiratifnya membangun usaha kerajinan anyaman Eceng Gondok menjadi produk yang bernilai seperti tas, tempat tisu, vas bunga, dompet hingga keranjang.

Pemprov Sulsel

Elsa mendirikan usaha 'Rumah Anyaman' yang memproduksi kerajinan anyaman Eceng Gondok sejak tahun 2017 bermodalkan pengetahuan yang didapatkannya dari nonton tv dan internet.

Selain itu, alasan yang paling kuat membuatnya mendirikan usaha tersebut yakni untuk memberdayakan tetangga sekitar rumahnya yang berpenghasilan minim dan pengangguran serta ditambah dengan bahan baku utama yakni Eceng Gondok yang melimpah di Kota Makassar.

"Saya melihat tetangga-tetangga saya itu hanya pengangguran, suaminya tukang ojek, buruh bangunan jadi saya ingin membangun usaha ini dimana saya bisa melibatkan banyak orang dan orang mendapatkan sumber ekonomi," ungkapnya, Sabtu (20/05).

Elsa menjelaskan proses produksi kerajinan anyaman Eceng Gondok dimulai dari membersihkan bahan baku yang telah diambil dari pengepul.

Selanjutnya mengeringkan bahan baku selama kurang lebih 7 hari dibawah sinar matahari lalu kemudian ketika telah benar-benar mengering, bahan baku siap untuk dianyam sesuai dengan model produk yang diinginkan.

"Dikeringkan 7-8 hari harus dibawah sinar matahari jadi kendalanya adalah saat musim hujan," jelasnya.

Usaha yang berlokasi di Jalan Paccerakkang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar itu rupanya telah mengekspor berbagai produk ke luar negeri seperti Vietnam, Malaysia, Kairo, Finlandia hingga Afrika Selatan.

Namun, siapa sangka Elsa melewati banyak kendala dalam proses pembuatan produk anyaman Eceng Gondok.

Diutarakan Elsa, usahanya masih terkendala dari segi Sumber Daya Manusia (SDM) dan suplay bahan baku.

Bahkan saat pertama kali merintis usaha tersebut, Elsa nekat turun langsung ke rawa-rawa untuk mengambil Eceng Gondok yang kemudian disulap menjadi produk yang bernilai.

Elsa mengaku usahanya saat ini memperkerjakan sebanyak 15 karyawan dari latarbelakang ibu rumah tangga, mahasiswa, ibu tunggal hingga lansia yang sekedar mencari aktivitas.

Meski begitu, 15 karyawan tersebut tidak bisa mencapai permintaan pasar yang biasanya hingga ribuan karena setiap karyawan hanya mampu memproduksi maksimal dua produk dalam sehari.

"Saya pernah dapat pesanan 5000 pcs dari Turki untuk tas terpaksa saya tolak karena tidak terpenuhi ki SDMnya," sambungnya.

Elsa mengaku usahanya hanya bisa memproduksi sekitar 400 hingga 500 produk dalam sebulan sehingga biasanya konsumen yang menginginkan banyak produk harus memesan jauh-jauh hari.

"Kami ada pesanan 300 godiebag untuk kegiatannya nanti provinsi di bulan Juli dan itu sudah dipesan dari Maret karena memang SDMnya kami kurang," ujarnya.

Meski begitu, omset hasil usahanya setiap bulan tak tanggung-tanggung mencapai 25 hingga 35 juta perbulan dan tembus 300 juta dalam setahun.

Berkat usahanya ini, Elsa dan 15 karyawannya mendapat bantuan KUR dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebagai bantuan modal dan pelatihan pengembangan wirausaha untuk lebih mengembangkan produknya.

Bahkan, beberapa kali produk anyaman Eceng Gondok milik Elsa dipamerkan dalam agenda Dekranasda mewakili Provinsi Sulsel maupun kegiatan pameran BRI.

"Alhamdulillah semua dapat fasilitas KUR, semua anggota saya dapat kredit usaha, pelatihan juga dan keuntungannya itu bisa dapat modal dan pelatihan," ucapnya.

Ia pun merasa sangat bersyukur dengan adanya bantuan dari pihak BRI dan berharap kedepannya untuk selalu didukung serta diberikan pelatihan-pelatihan yang menambah wawasan dan pengetahuan terutama peningkatan skill untuk kerajinan anyaman Eceng Gondok.

"Harapannya nanti ada pelatihan untuk peningkatan SDM, karena kami mau punya desain produk baru atau misalnya pelatihan magang dan studi banding," harapnya.

PDAM Makassar