KabarMakassar.com -- Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan (Sulsel) menyebut kondisi infrastruktur sekolah mulai membaik selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Perbaikan tersebut didorong program revitalisasi sekolah yang terus bertambah serta penyaluran perangkat pembelajaran digital dari pemerintah pusat ke sekolah-sekolah di Sulsel.
Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Iqbal Nadjamuddin, mengatakan kebijakan pemerintah pusat memberikan perhatian terhadap peningkatan sarana dan prasarana pendidikan di daerah. Ia menilai, perubahan kondisi bangunan sekolah mulai terlihat seiring pelaksanaan program perbaikan dalam dua tahun terakhir.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan apresiasi dari kebijakannya Pak Presiden. Artinya ada perubahan yang terjadi terkait dengan sarana-prasarana pendidikan di Sulsel," ungkap Iqbal, Rabu (21/10/2026).
Selain perbaikan fisik bangunan, Iqbal menyebut dukungan pemerintah pusat juga mencakup pembelajaran digital. Menurut dia, sekolah-sekolah di Sulsel telah menerima pembagian perangkat untuk mendukung kegiatan belajar mengajar berbasis teknologi.
“Jadi sudah banyak sekolah yang sekarang dalam keadaan baik, terutama selama 2 tahun ini, apalagi sekarang juga dengan adanya pembelajaran digital yang sudah ada pembagian (smart tv) dari pusat, seluruh sekolah di sulsel itu dapat semua pembagian itu," katanya.
Iqbal mengatakan, perubahan yang paling terasa saat ini berada pada sektor infrastruktur sekolah, terutama melalui program revitalisasi. Jumlah sekolah yang masuk dalam program tersebut juga bertambah dibandingkan pelaksanaan sebelumnya.
Ia menyebut sebelumnya terdapat 272 sekolah yang mengikuti program revitalisasi. Jumlah itu kini bertambah, dengan harapan cakupan program dapat terus diperluas hingga menjangkau lebih banyak sekolah di Sulsel.
Dengan jumlah sekolah yang mencapai lebih dari 400, termasuk sekolah swasta, Iqbal berharap program revitalisasi dapat menjangkau lebih banyak satuan pendidikan. Ia juga meminta agar program tersebut tidak berhenti di tengah jalan dan dapat diselesaikan sesuai sasaran yang telah ditetapkan.
“Secara infrastrukturnya sudah mulai ada perubahan membaik semua sekolah yang dilakukan proses terkait dengan program revitalisasi ini. Itu yang paling terasa sekarang, karena kita ini kemarin 272 sekolah, ini bertambah lagi. Mudah-mudahan bisa sampai 200 sekolah. jadi dengan total jumlah sekolah kita kan 400 lebih, termasuk juga sekolah swasta juga," harapnya.
Menurut dia, skema pelaksanaan revitalisasi sekolah melalui swakelola berpotensi memperluas jumlah penerima manfaat karena anggaran yang tersedia dapat digunakan untuk menjangkau lebih banyak sekolah. Ia menilai pola tersebut memungkinkan perbaikan dilakukan dengan biaya yang lebih terukur tanpa mengabaikan kualitas hasil pekerjaan.
“Saya harapkan ke depan semoga program ini tetap dijalankan dan dituntaskan. Saya kira bisa tuntas karena program ini program yang bisa masif sebenarnya karena penganggaran yang dilakukan lagi bukan lagi penganggaran yang melibatkan mungkin ada penyedia mungkin, ya. Tapi kalau sesuai swakelola, itu bisa lebih banyak sekolah yang mendapatkan penganggaran. Jadi anggarannya kecil tapi sekolah banyak yang dapat dan kualitasnya bagus," ungkapnya.
Terkait anggaran revitalisasi sekolah yang ditarik ke pemerintah pusat, Iqbal menyatakan pihaknya tidak mempermasalahkan kebijakan tersebut. Ia menjelaskan, anggaran itu tetap diperuntukkan bagi kebutuhan perbaikan sekolah.
“Tidak ada masalah kita sebenarnya. Karena kan pusat menarik ini peruntukannya juga untuk balik ke sekolah masing-masing," tukas Iqbal.
Penulis: Syamsi Nur Fadhila