KabarMakassar.com — Perjalanan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dari dunia militer, politik hingga pemerintahan dinilai menunjukkan kemampuan kepemimpinan adaptif.
Diketahui, pria yang akrab disapa AHY itu kini menjadi Ketua Umum (Ketum) Partai berlogo Mercy Demokrat.
Perubahan lintas sektor tersebut membutuhkan karakter kuat, bekal pendidikan, serta kemampuan menyesuaikan diri dalam menghadapi tantangan dan tanggung jawab baru.
Penilaian itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, saat diskusi bedah buku Kepemimpinan AHY dalam Beragam Sudut Pandang Tokoh Muda Indonesia, di Cafe Fireflies jalan Pattimura Makassar, Sabtu (07/11) malam.
Achi Soleman hadir sebagai pembicara untuk menilai apakah isi buku Kepemimpinan AHY dapat diterima oleh kalangan pendidikan dikota Makassar, hingga memberikan pandangan dari sudut pandang pemangku kebijakan (regulator) terhadap isi buku yang dibedah.
Ia melihat perjalanan AHY sebagai gambaran kepemimpinan transformatif yang tidak hanya dibentuk oleh pengalaman, tetapi juga pendidikan dan kapasitas intelektual.
"AHY ini adalah gabungan antara kepemimpinan yang lahir karena warisan dan karena ilmu. Kita bisa melihat pendidikan yang diperoleh, baik di dalam maupun luar negeri, serta pengalaman dari karier militernya," ujar Achi.
Menurut Achi, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu aspek penting dalam kepemimpinan AHY. Peralihan dari karier militer ke politik, kemudian memasuki pemerintahan hingga menjabat sebagai menteri dan menteri koordinator, memperlihatkan tuntutan kemampuan menghadapi lingkungan kerja dan tanggung jawab yang berbeda.
Ia menilai, kemampuan tersebut harus tercermin dalam ketepatan mengambil keputusan serta kebijakan yang menghasilkan nilai publik (public value). Kepemimpinan tidak cukup hanya menunjukkan kemampuan mengelola organisasi, tetapi juga harus menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat secara luas.
"Kepemimpinan itu bagaimana bisa beradaptasi secara cepat. Pengambilan keputusan harus menghasilkan nilai publik melalui kebijakan-kebijakan yang berdampak luas kepada masyarakat," jelasnya.
Achi juga menyoroti pentingnya keberlanjutan kebijakan. Menurutnya, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya dilihat ketika masih menduduki jabatan, tetapi juga dari manfaat program yang tetap dirasakan masyarakat setelah masa kepemimpinannya berakhir.
"Kebijakan yang diambil harus berdampak terhadap perubahan yang dirasakan masyarakat. Ketika dampaknya masih terus dirasakan dan kebijakan itu tetap berjalan, itulah salah satu gambaran pemimpin yang mampu menghasilkan perubahan," ungkapnya.
Perspektif tersebut, lanjut Achi, juga relevan diterapkan dalam sektor pendidikan.
Keberhasilan pembangunan pendidikan tidak semata-mata diukur dari besarnya anggaran infrastruktur atau megahnya bangunan sekolah, melainkan dari kemampuan pemerintah memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
"Di Dinas Pendidikan, bukan diukur dari seberapa besar sarana dan prasarana yang dibangun atau cantik tidaknya bangunan sekolah. Tetapi bagaimana anak-anak yang tidak sekolah bisa kembali bersekolah, serta bagaimana meningkatkan literasi dan numerasi," tegasnya.
Achi menambahkan, buku tersebut memberikan gambaran mengenai karakter, kapasitas, dan tanggung jawab seorang pemimpin dalam melahirkan kebijakan yang membawa perubahan. Ia berharap pemikiran dan pengalaman yang diulas dalam buku itu dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
"Saya bisa membayangkan jika beliau menjadi pemimpin besar di tahun-tahun mendatang. Saya yakin bukan hanya perubahan kecil yang berdampak besar, tetapi bagaimana mengubah wajah Indonesia menjadi lebih baik lagi," tukasnya.
Penulis: Nursinta