KabarMakassar.com — Rencana Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menghadirkan teknologi desalinasi air laut untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan air minum di wilayah kepulauan mendapat dukungan penuh dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Makassar.
Anggota DPRD Makassar Ray Suryadi Arsyad menilai desalinasi menjadi salah satu solusi yang relevan bagi masyarakat kepulauan yang selama ini membutuhkan akses air bersih.
Menurutnya, teknologi tersebut dapat mengolah air laut menjadi air tawar hingga air yang siap digunakan masyarakat.
“Ini memang salah satu hal yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kita tahu sendiri jumlah populasi yang cukup padat di beberapa pulau seperti Barrang Lompo, Barrang Caddi, Kodingareng, Lumu-lumu, Bone Tambung, dan Langkai,” kata Ray Suryadi, Jumat (02/10).
Meski mendukung, Ray mengingatkan Pemkot Makassar tidak hanya menyiapkan perangkat desalinasi, tetapi juga memastikan keberlanjutan operasionalnya.
Ia menyoroti potensi kerusakan alat akibat paparan air laut yang dapat menyebabkan korosi. Karena itu, biaya pemeliharaan dinilai perlu masuk dalam perencanaan anggaran.
“Yang perlu kita sama-sama berikan masukan, bagaimana alat ini bisa disiapkan juga biaya maintenance-nya. Alat-alat seperti itu yang bersentuhan dengan air laut mempunyai tingkat korosi yang cukup tinggi,” ujarnya.
Ray meminta peralatan yang digunakan memiliki kualitas yang memadai sehingga teknologi desalinasi dapat berfungsi secara optimal dan mampu memasok kebutuhan air masyarakat pulau secara berkelanjutan.
“Kita berharap alat-alat yang digunakan adalah alat-alat yang proper, yang memungkinkan proses desalinasi ini bisa berjalan secara maksimal untuk bisa memberikan suplai air bersih dan air minum kepada masyarakat di kepulauan,” katanya.
Selain biaya perawatan, DPRD juga meminta Pemkot memperhitungkan kebutuhan tenaga operasional yang akan menjalankan fasilitas tersebut.
Politisi Demokrat itu mengatakan dukungan anggaran perlu dilihat dari keseluruhan kebutuhan, mulai dari pengoperasian hingga pembiayaan apabila terjadi kerusakan pada peralatan.
“Kita coba lihat di mana pemerintah Kota Makassar melakukan cantolan di pagu anggarannya. Kalau desalinasi ini jalan di kepulauan, diperlukan tenaga-tenaga operasional, kemudian persiapan untuk membiayai mungkin perawatan atau kerusakan yang terjadi di situ,” jelasnya.
Ia menilai program tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat pelayanan dasar bagi warga kepulauan. Namun, ia berharap inovasi tersebut tidak berhenti pada pengadaan alat, melainkan memiliki dukungan anggaran dan sistem operasional yang jelas.
Di sisi lain, Ray menyebut kebutuhan warga kepulauan tidak hanya berkaitan dengan air bersih. Infrastruktur dermaga juga dinilai mendesak karena menjadi akses utama masyarakat menuju dan dari wilayah kepulauan.
“Di kepulauan itu yang pertama dibutuhkan adanya pembangunan dermaga. Dermaga menjadi salah satu aspek utama dalam hal mengakses ke kepulauan,” katanya.
Menurut Ray, keberadaan dermaga berkaitan langsung dengan aktivitas warga, termasuk akses pendidikan, pekerjaan hingga pelayanan kesehatan dalam kondisi darurat.
Ia menyebut pembangunan infrastruktur di wilayah perairan membutuhkan koordinasi lintas pemerintahan karena kewenangan tidak seluruhnya berada di Pemkot Makassar.
“Ini perlu ada kolaborasi yang berkelanjutan, bukan hanya sekadar memberikan aspirasi, namun kemudian aspirasi ini bisa dijemput oleh pemerintah kota untuk dikirimkan ke pemerintah provinsi di Sulawesi Selatan,” tukasnya.
Sebelumnya, Program yang digagas Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, ini menjadi salah satu upaya menghadirkan pelayanan dasar yang lebih merata bagi masyarakat di Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, khususnya warga yang selama ini menghadapi keterbatasan akses air tawar.
Melalui sistem desalinasi berbasis Reverse Osmosis (RO), air laut diolah menjadi air tawar yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber air minum setelah melalui proses pemurnian dan memenuhi standar kualitas air minum.
Rencana penerapan teknologi ini dibahas Munafri saat menerima audiensi PT Prolink Intidata Nusantara terkait teknologi pengolahan air laut menjadi air minum di Rumah Jabatan Wali Kota Makassar, Selasa (29/9).
Appi mengatakan, inovasi tersebut diharapkan dapat menjawab persoalan keterbatasan air bersih yang masih dihadapi masyarakat di sejumlah pulau.
"Ini adalah solusi jangka panjang, air bersih yang mandiri berbasis energi matahari. Kita mau hadirkan program air langsung minum bagi warga di pulau," ujar Munafri, usai menyimak paparan dari pihak PT Prolink Intidata Nusantara.
Teknologi tersebut dirancang menggunakan energi matahari sebagai sumber tenaga, sehingga dapat menjadi alternatif penyediaan air bersih yang lebih mandiri di wilayah kepulauan.
Menurutnya, penyediaan air bersih merupakan kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi pemerintah, termasuk bagi masyarakat di pulau yang tinggal jauh dari pusat perkotaan.
Oleh sebab itu, Appi menegaskan bahwa Pemkot Makassar ingin memastikan masyarakat di wilayah kepulauan mendapatkan akses air bersih dan air minum yang layak, sebagaimana masyarakat yang tinggal di daratan Kota Makassar.
"Untuk memastikan bahwa air minum yang dikonsumsi oleh saudara-saudara kita yang ada di pulau itu bisa mendapatkan layanan air bersih sama dengan yang didapatkan saudara-saudara kita yang ada di kota," jelasnya.
Penulis: Nursinta