Langsung ke konten
News

CIL Ungkap 19.300 Kematian Diproyeksi Terjadi di Indonesia Akibat Super El Nino

Climate Impact Lab memproyeksikan El Niño dapat menyebabkan tambahan 19.300 kematian di Indonesia akibat paparan suhu ekstrem.

Nofisari
Ilustrasi kemarau (Dok: Ist)
Ilustrasi kemarau (Dok: Ist)

KabarMakassar.com — Indonesia diproyeksikan mengalami tambahan 19.300 kematian akibat suhu ekstrem yang berkaitan dengan fenomena Super El Niño yang terjadi belakangan ini.

Proyeksi tersebut merupakan bagian dari laporan terbaru dari Climate Impact Lab (CIL) yang memperkirakan Super El Niño tahun ini dapat menyebabkan sekitar 451.000 kematian akibat paparan hari-hari dengan suhu ekstrem secara global atau seluruh dunia.

Di Asia Tenggara, peningkatan suhu akibat El Niño diproyeksikan menyebabkan 19.400 kematian di Filipina, Vietnam, Thailand, dan Kamboja. Sementara Indonesia sendiri diproyeksikan mengalami tambahan 19.300 kematian pada El Nino kali ini.

Proyeksi tersebut belum memasukkan dampak lain yang dapat muncul akibat El Niño, seperti kekeringan, kebakaran hutan, dan banjir akibat perubahan pola curah hujan yang sedikit.

Salah satu pendiri Climate Impact Lab, Michael Greenstone, dengan lantang mengatakan jumlah kematian tersebut merupakan proyeksi yang dapat diperkirakan dari dampak suhu ekstrem yang terjadi saat ini.

“Kita sudah lama dapat memprediksi dampak suhu terhadap tanaman pangan, dan sekarang kita dapat memprediksi dampaknya terhadap hasil terburuk kematian. Hasilnya, kita sekarang dapat memperkirakan bahwa 451.000 orang mungkin meninggal dalam beberapa bulan mendatang akibat El Niño,” kata Greenstone, dilansir dari lama resmi CIL, Selasa (29/09).

Menurut laporan tersebut, proyeksi 451.000 kematian mencakup sembilan bulan pertama El Niño, yakni Juni hingga Februari. Dampak kematian akibat panas diperkirakan terutama terkonsentrasi di negara-negara Global South.

Climate Impact Lab menyebut tindakan darurat yang tepat sasaran berpotensi mencegah puluhan ribu kematian. Langkah yang dapat dilakukan antara lain sistem peringatan dini, penyediaan pusat pendinginan atau cooling centers, serta perlindungan bagi pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.

Greenstone mengatakan data tersebut dapat membantu pemerintah menentukan wilayah yang membutuhkan tindakan darurat.

“Laporan ini memungkinkan para pengambil keputusan melihat dengan tepat di mana tindakan darurat dapat dilakukan sekarang untuk menyelamatkan puluhan ribu nyawa dalam beberapa bulan mendatang,” terangnya.

Laporan tersebut juga menggambarkan El Niño sebagai 'kartu pos dari masa depan' karena kondisi suhu yang terjadi diproyeksikan menyerupai kondisi yang dapat menjadi lebih umum akibat perubahan iklim sekitar 20 tahun mendatang.

Sementara itu, Peneliti Climate Impact Lab Tamma Carleton mengatakan respons darurat perlu dibarengi dengan persiapan jangka panjang agar masyarakat tidak terus berada dalam kondisi darurat akibat suhu ekstrem.

“Peningkatan respons darurat dan penargetan upaya yang lebih baik dapat menyelamatkan banyak nyawa tahun ini. Namun, 20 tahun dari sekarang, ketika suhu ekstrem yang terjadi saat ini menjadi kondisi normal baru, kita tidak ingin terus-menerus berada dalam keadaan darurat,” kata Carleton.

“Kita perlu memobilisasi sumber daya sekarang untuk merancang, menerapkan, dan mengevaluasi berbagai perangkat persiapan dan perencanaan yang akan menyelamatkan nyawa pada tahun-tahun mendatang,” tukasnya.

 

Penulis: Nursinta

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua