KabarMakassar.com — Penilaian terhadap seorang pemimpin tidak semestinya hanya bertumpu pada popularitas, pencitraan, maupun kemenangan dalam kontestasi politik.
Rekam jejak, gagasan, kapasitas, dan hasil kerja harus menjadi ukuran utama dalam menentukan kualitas kepemimpinan.
Pesan tersebut mengemuka dalam bedah buku Kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam Beragam Sudut Pandang Tokoh Muda Indonesia di Makassar, di cafe Fireflies dijalan Pattimura Makassar, Sabtu, (07/11) malam.
Buku ini menghadirkan berbagai perspektif tokoh muda untuk membedah sosok dan kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) melalui latar belakang keilmuan, pengalaman, serta sudut pandang yang berbeda.
Buku ini ditulis oleh 27 tokoh muda dari berbagai latar belakang (akademisi, praktisi, dokter, aktivis, hingga mahasiswa). Disusun sebagai sebuah kejutan (surprise) oleh para penulis muda tanpa sepengetahuan AHY.
Penyunting buku, Herzaky Mahendra Putra, mengatakan, kehadiran buku tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap perubahan pola masyarakat dalam menilai pemimpin, terutama di tengah derasnya arus informasi media sosial dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Menurutnya, citra yang dibangun melalui media belum tentu menggambarkan kapasitas dan kenyataan sebenarnya dari seorang tokoh. Popularitas digital bahkan berpotensi menggeser penilaian publik dari substansi kepemimpinan menuju penampilan dan persepsi.
"Apa yang kita konsumsi setiap hari, apa yang kita lihat hari ini, belum tentu merupakan kenyataan yang sebenarnya. Bisa jadi itu adalah realitas yang dibentuk untuk membangun citra tertentu," ujar Herzaky.
Staf Khusus Bidang Komunikasi dan Informasi Publik di Kemenko Infra itu menilai, pemimpin tidak seharusnya diukur hanya dari kemampuan memenangkan pemilu atau memperoleh dukungan besar di media sosial. Masyarakat perlu melihat kontribusi dan pekerjaan nyata yang telah dilakukan selama memegang amanah.
"Bagaimana kita bisa menilai seorang pemimpin dari gagasan, dari jejak rekam, dan dari apa yang sudah dilakukan. Kalau menang saja, tetapi selama lima tahun tidak berbuat sesuatu, apakah itu masih bisa disebut pemimpin terbaik?" tegasnya.
Kepala Bakomstra DPP Partai Demokrat itu menjelaskan, buku tersebut melibatkan penulis dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, aktivis, hingga profesional yang memiliki kompetensi di bidang masing-masing. Mereka diberikan kebebasan menyampaikan penilaian tanpa arahan untuk menghasilkan pujian terhadap AHY.
"Semua berbasis data dan fakta. Kita ingin mengembalikan tradisi lisan dan tradisi tulisan, bagaimana mendiskusikan sesuatu secara jernih, terbuka, dan transparan," ungkapnya.
Sementara itu, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar, H. Ray Suryadi Arsyad, menilai AHY memiliki karakter kepemimpinan yang menarik untuk dipelajari, khususnya oleh kalangan generasi muda. Ia mengaku mengenal AHY sejak 2018 ketika keduanya berada dalam satu partai politik.
Ray menyebut, kesan awalnya terhadap AHY terbentuk dari kepribadian, energi, dan pengalaman yang dimiliki mantan perwira TNI tersebut. Menurutnya, AHY mempunyai sejumlah karakter yang dapat menjadi referensi bagi anak muda dalam memahami kepemimpinan.
"AHY yang kami kenal adalah figur yang begitu energik. Ketika pertama kali melihat sosok beliau, kami langsung takjub dan kagum karena kepribadian yang dimiliki begitu lengkap," kata Ray.
Ia juga menyoroti keteguhan mental AHY dalam menghadapi dinamika dan berbagai tantangan politik. Pengalaman tersebut, menurut Ray, menjadi salah satu sisi kepemimpinan yang menarik untuk dibahas lebih jauh.
"Beliau memiliki keteguhan mental yang begitu kuat. Saya berharap pengalaman dan pemikiran AHY bisa ditransfer kepada generasi muda, sehingga menjadi bekal untuk membangun kepemimpinan ke depan," ujarnya.
Ray berharap, pembahasan mengenai kepemimpinan AHY tidak berhenti pada penilaian terhadap figur, tetapi juga dapat melahirkan gagasan yang bisa diterapkan dalam kehidupan pemerintahan dan pembangunan, termasuk di Kota Makassar.
Kegiatan bedah buku tersebut turut menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Achi Soleman serta profesional MC dan public speaking Nurul Annisa sebagai narasumber.
Forum ini menjadi ruang diskusi untuk membedah kepemimpinan dari berbagai perspektif sekaligus mendorong budaya literasi dan keberanian menyampaikan pandangan secara terbuka.
Penulis: Nursinta