Langsung ke konten
News

BMKG Rekomendasikan Pulau Sapuka Pangkep untuk Pemasangan Sensor Gempa

BMKG Wilayah IV Makassar merekomendasikan Pulau Sapuka, Pangkep, sebagai lokasi pemasangan sensor gempa dan alat pemantau cuaca untuk memperkuat pemantauan serta penyampaian informasi kebencanaan.

Nofisari Diperbarui
Ilustrasi gempa bumi (Dok: Ist)
Ilustrasi gempa bumi (Dok: Ist)

KabarMakassar.com -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar merekomendasikan Pulau Sapuka, Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), sebagai lokasi pembangunan perangkat pemantauan gempa bumi dan cuaca.

Usulan tersebut akan disampaikan kepada BMKG pusat setelah tim melakukan peninjauan di empat pulau di wilayah kepulauan Pangkep.

Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV, Rizky Yudha Pahlawan, mengatakan Pulau Sapuka menjadi lokasi yang paling direkomendasikan berdasarkan hasil pengamatan lapangan.

Rencana pembangunan perangkat tersebut ditujukan untuk memperkuat pemantauan kondisi alam dan penyampaian informasi kebencanaan kepada masyarakat kepulauan.

“Setelah berkeliling di empat pulau, kami melihat Pulau Sapuka paling direkomendasikan untuk dibangun alat deteksi gempa bumi dan cuaca. Rencananya kami usulkan ke pusat BMKG agar bisa direalisasikan,” ujarnya.

Rizky menjelaskan, fasilitas yang direncanakan terdiri atas dua perangkat utama, yakni sensor pendeteksi gempa bumi dan alat pemantau cuaca.

Kedua perangkat tersebut memiliki fungsi berbeda, tetapi diharapkan dapat mendukung pengamatan kondisi lingkungan di kawasan pesisir dan kepulauan.

Sensor gempa direncanakan memiliki ukuran sekitar 5 x 5 meter. Sementara perangkat pemantau cuaca akan berbentuk antena yang dilengkapi sejumlah parameter pengukuran, termasuk suhu, curah hujan, dan kondisi arus laut.

Alat pemantau cuaca tersebut direncanakan ditempatkan di bibir pantai. Posisi ini diharapkan memungkinkan perangkat mengamati kondisi cuaca dan lingkungan laut secara berkelanjutan.

Menurut Rizky, perangkat pemantauan yang direncanakan menggunakan tenaga surya atau panel surya sebagai sumber energi. Sistem tersebut memungkinkan alat bekerja tanpa bergantung sepenuhnya pada pasokan listrik konvensional.

“Alatnya sangat canggih dan menggunakan tenaga surya atau panel surya. Perangkat pemantau cuaca dapat memonitor kondisi selama 24 jam,” jelasnya.

Selain memantau cuaca, sensor gempa akan menangkap getaran ketika terjadi gempa bumi. Data tersebut kemudian dikirimkan sebagai sinyal kepada petugas BMKG di Makassar untuk dianalisis sebelum informasi diteruskan kepada masyarakat.

Rizky menyebut proses penyampaian informasi gempa melalui sistem tersebut diperkirakan dapat berlangsung sekitar tiga menit setelah sinyal diterima dan dianalisis oleh tim BMKG.

“Ketika terjadi gempa, sinyal yang masuk langsung dianalisis oleh tim di Makassar. Informasinya bisa disampaikan kepada masyarakat dalam waktu sekitar tiga menit,” ungkapnya.

Rencana pemasangan perangkat BMKG di Pulau Sapuka berkaitan dengan kondisi geografis kepulauan Pangkep. Wilayah Liukang Tangaya terdiri atas pulau-pulau yang berjauhan dari daratan utama, sehingga penyampaian informasi kebencanaan menjadi salah satu tantangan dalam penanganan risiko bencana.

Keberadaan sensor gempa dan alat pemantau cuaca di wilayah tersebut diharapkan dapat membantu mempercepat penerimaan data kondisi alam. Informasi yang diperoleh juga berpotensi menjadi bahan bagi BMKG dalam memantau perkembangan cuaca dan aktivitas gempa di kawasan kepulauan.

 

Penulis: Syamsi Nur Fadhila

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua