kabarbursa.com
kabarbursa.com
banner 728x250
News  

Beras Analog : Inovasi Pangan Padat Gizi Sebagai Solusi Ketahanan Pangan

banner 468x60

KabarMakassar.com — Ketahanan pangan di era modern menjadi semakin mendesak dengan pertumbuhan populasi yang pesat, memunculkan tantangan serius di tingkat global.

Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), pada tahun 2050, jumlah penduduk dunia diproyeksikan mencapai 9,8 miliar jiwa.

Pemprov Sulsel

Ketahanan pangan menjadi krusial untuk kelangsungan hidup manusia, semua individu harus memiliki akses fisik, sosial, dan ekonomi yang memadai terhadap makanan aman, bergizi, sesuai dengan kebutuhan serta selera mereka, untuk menjalani kehidupan yang aktif dan sehat.

Di Indonesia, situasinya tak jauh berbeda. Data terbaru pada bulan September 2023 menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi beras per kapita mencapai 6,81 kg per bulan. Ini menandakan peningkatan sebesar 0,87% dibandingkan dengan data pada September 2021.

Sementara itu, jumlah penduduk Indonesia terus tumbuh pesat, mencapai 278,69 juta jiwa pada pertengahan tahun 2023, meningkat 1,05% dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan penduduk yang tinggi menjadi tantangan nyata dalam menjaga ketersediaan pangan dan potensial menciptakan defisit produksi beras yang harus diatasi melalui impor.

Dalam menghadapi kompleksitas ketahanan pangan, ahli pangan memegang peran utama dengan menghadirkan solusi inovatif, seperti beras analog. Produk ini, terbuat dari bahan non-beras seperti biji-bijian dan kacang-kacangan, memberikan kandungan nutrisi dan serat yang tinggi, serta memberikan kontribusi berharga dalam menjaga kesehatan dan mengatasi tantangan kesehatan (Budijanto, 2017).

Studi mengenai beras analog menunjukkan manfaat kesehatannya, terutama dalam pencegahan penyakit degeneratif seperti diabetes. Beras analog dengan penambahan tepung kedelai 10% menunjukkan indeks glikemik rendah (IG 50) dan kandungan antioksidan yang signifikan, seperti total fenol (0,18-0,25 mg GAE/g) serta serat pangan (5,35%-6,14%) (Noviasari et al., 2015).

Formula optimal beras analog (57.8% umbi garut, 5.1% bunga sepatu, 12.6% mocaf, 0.6% GMS, dan 23.9% air) terbukti efektif menurunkan kadar glukosa darah serta mendukung kesehatan penderita diabetes melitus. Keunggulan ini terlihat dari sifatnya yang tidak bersifat toksik dan mampu mempertahankan berat badan, serta meredakan kerusakan pada pankreas, hepar, dan ginjal melalui mekanisme penghambatan enzim α-amilase oleh α-amilase inhibitor (Leniseptaria et al., 2023).

Beras analog dari biji nangka dan singkong, dengan komposisi 30% biji nangka dan 70% singkong, serta tambahan pigmen daun bayam, menonjolkan keunggulan kesehatan dengan kandungan karbohidrat (56.21%) dan protein (12.19%) yang tinggi (Khilmi et al., 2020). Studi tentang beras analog berbasis ubi kayu dan kacang hijau menyimpulkan bahwa formula terbaik (60% tepung ubi kayu dan 40% tepung kecambah kacang hijau) memberikan karakteristik fisik dan profil kimia yang memuaskan, menjadikannya sebagai sumber nutrisi optimal untuk ibu menyusui (Sulfi, 2021).

Pengembangan beras analog menggunakan teknologi ekstruder ulir ganda dari bahan non-beras seperti umbi-umbian, serealia, dan kacang-kacangan, memberikan keunggulan gizi dan diterima dengan baik oleh masyarakat (Noviasari et al., 2017).

Beras analog juga memiliki potensi besar dalam memperkuat ketahanan pangan, terutama di tengah tantangan perubahan iklim dan keterbatasan lahan pertanian. Diversifikasi sumber pangan dengan beras analog dapat mengurangi ketergantungan pada beras konvensional dan membantu mengelola risiko ketidakstabilan pasokan pangan. Inovasi teknologi pangan juga berperan penting dalam menghasilkan beras analog yang berkualitas tinggi, memastikan aspek gizi dan cita rasa yang mirip dengan beras asli.

Dalam mengatasi tantangan ketahanan pangan, kolaborasi erat antara ahli pangan, industri pangan, konsumen, dan pemerintah menjadi keniscayaan. Ahli pangan adalah penggerak utama dalam pengembangan beras analog, memastikan tingkat gizi yang tinggi dan keamanan pangan.

Industri pangan bertanggung jawab untuk mengubah konsep dan resep beras analog menjadi produk nyata yang tersedia untuk konsumen. Peran penting konsumen dalam edukasi dan pemahaman tentang manfaat beras analog sangat menentukan permintaan dan adopsi produk ini. Pemerintah juga memiliki peran penting dengan memberlakukan regulasi yang mendukung pengembangan produk dan mengatur standar keamanan pangan, serta memberikan insentif dan subsidi untuk merangsang produksi beras analog yang berkualitas.

Melalui sinergi erat antara semua pihak, aplikasi beras analog menjadi alat penting dalam mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan, dengan dampak positif pada kesehatan dan lingkungan. Keberlanjutan ini adalah langkah progresif dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan yang semakin meningkat di tengah pertumbuhan populasi yang cepat. (Andi Tenri Nurunnisa, Program Studi Ilmu Pangan, Sekolah Pascasarjana IPB).

PDAM Makassar