KabarMakassar.com -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat baru 12,7 persen penderita depresi di Indonesia yang menerima pengobatan. Kemenkes menyatakan kesehatan jiwa harus menjadi perhatian utama dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Pernyataan itu disampaikan Wakil Menteri Kesehatan Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono saat membuka talkshow "Sehat Jiwaku, Unik Caraku: Keluarga Merangkul, Kesehatan Jiwa Terjaga, Neurodivergen Berdaya" di Jakarta, Minggu (11/10/2026). Talkshow itu bagian dari Festival Suara Jiwa.
"Hari ini saya menyaksikan bagaimana masalah kejiwaan itu sangat penting. Masalah kejiwaan bukan lagi isu yang terpinggirkan, tetapi menjadi isu utama. Kesehatan jiwa yang lebih kuat mendukung terwujudnya sumber daya manusia Indonesia yang lebih unggul," ujar Dante.
Dante menekankan, penanganan kesehatan jiwa dan kondisi neurodivergen, seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan disleksia, harus inklusif dan dimulai dari keluarga.
Ia mencontohkan Jacques Dubochet, peraih Nobel Kimia 2017 yang merupakan penyandang disleksia. Menurut Dante, tantangan belajar pada masa kecil tidak boleh menghalangi anak meraih masa depan yang lebih baik.
"Kesulitan yang dialami anak saat ini tidak menentukan masa depannya. Kita ingin mereka yang mengalami masalah kejiwaan tidak lagi dimarginalisasikan, tetapi kita rangkul," tegasnya.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi mengatakan beban gangguan jiwa di Indonesia masih tinggi. Kesenjangan penanganan (treatment gap) juga masih menjadi tantangan.
Mengutip data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) 2023, gangguan jiwa berada di posisi kedua penyebab terbesar Years Lived with Disability (YLD) di Indonesia. Penyumbang terbesarnya adalah depresi, gangguan kecemasan, dan skizofrenia.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun sebesar 1,4 persen. Prevalensi gangguan jiwa berat mencapai 4 per 1.000 anggota rumah tangga.
"Pada kasus depresi, baru 12,7 persen penderita yang menerima pengobatan. Artinya, hampir 9 dari 10 orang dengan depresi di Indonesia belum tersentuh penanganan medis," jelas Endang.
Jumlah dan sebaran tenaga kesehatan jiwa turut memperberat kesenjangan itu. Data Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan (SISDMK) per 1 September 2026 mencatat Indonesia memiliki 1.495 psikiater. Rasionya satu psikiater untuk setiap 180 ribu penduduk, sedangkan acuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) satu untuk setiap 30 ribu penduduk.
Dari 3.513 psikolog klinis yang terdata, hanya 213 orang yang bertugas di Puskesmas.
Kemenkes memperkuat upaya promotif dan preventif melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta layanan bagi ibu hamil dan ibu pascapersalinan. Skrining kesehatan jiwa lewat program Kemenkes sejauh ini telah menjangkau lebih dari 71,8 juta jiwa.
Hasilnya, dugaan gejala depresi ditemukan pada 1,2 persen sasaran dan gejala kecemasan pada 0,9 persen sasaran.
Untuk mempercepat tindak lanjut hasil skrining di fasilitas kesehatan primer, Kemenkes meluncurkan empat seri buku saku skrining kesehatan jiwa. Buku itu ditujukan bagi ibu hamil dan ibu pascapersalinan, anak dan remaja, dewasa, serta lansia.
"Buku saku ini disusun bersama para ahli dari organisasi profesi sebagai panduan praktis bagi tenaga kesehatan di Puskesmas dalam menindaklanjuti hasil skrining di lapangan," pungkas Endang.
Penulis: Syamsi Nur Fadhila