Langsung ke konten
News

Bapanas Tambah 150 Ribu Ton Jagung Pakan, Target Salur 23 November

Bapanas menambah alokasi 150 ribu ton jagung pakan SPHP melalui Bulog dengan harga Rp5.000 per kg untuk membantu peternak unggas menghadapi kenaikan harga pakan.

ardiyanti Diperbarui
Jagung pakan (dok. Ist)
Jagung pakan (dok. Ist)

KabarMakassar.com --  Badan Pangan Nasional (Bapanas) memberi Perum Bulog tambahan alokasi 150 ribu ton jagung pakan untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Penyaluran tahap kedua ini sudah dimulai sejak Selasa (20/10/2026) dan ditargetkan rampung paling lambat 23 November 2026, guna membantu peternak unggas yang tertekan harga jagung di atas acuan pemerintah.

Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan sudah meminta Bulog mempercepat distribusi.

"Ada tambahan SPHP jagung, itu Bulog. Kami minta Bulog untuk distribusi cepat," kata Amran, Kamis (22/10/2026).

Bapanas menetapkan harga jagung pakan SPHP sebesar Rp 5.000 per kilogram (kg) untuk pengambilan di Gudang Bulog. Harga maksimal sampai di tingkat peternak adalah Rp 5.500 per kg.

Jagung disalurkan lewat koperasi atau asosiasi kepada peternak yang terdaftar dalam Surat Keputusan (SK) Kementerian Pertanian.

Per 20 Oktober, penyaluran SPHP jagung pakan tahap pertama mencapai 205,49 ribu ton. Angka itu setara 85,2 persen dari target 241,19 ribu ton, sehingga masih tersisa sekitar 35,7 ribu ton. Penyaluran tahap ini melibatkan 151 koperasi dan asosiasi dengan 11.677 peternak di 29 provinsi.

Program ini digulirkan karena harga jagung bergejolak. Bapanas mencatat harga jagung pipilan kering di tingkat peternak per 19 Oktober secara nasional mencapai Rp 7.173 per kg. Angka itu 23 persen di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) peternak sebesar Rp 5.800 per kg.

Di Jawa, rata-rata harganya berkisar Rp 6.475 sampai Rp 7.250 per kg. Di Bali dan Nusa Tenggara, harganya Rp 6.960 sampai Rp 7.550 per kg. Harga tertinggi tercatat di Sumatera, yakni Rp 6.400 sampai Rp 8.460 per kg.

Di sisi lain, Bapanas mencatat harga telur ayam dan ayam hidup di tingkat peternak masih di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) produsen.

Per 19 Oktober, rata-rata harga telur ayam Rp 23.332 per kg, padahal acuannya Rp 26.500 per kg. Ayam hidup dihargai Rp 23.912 per kg berat hidup, sedangkan acuannya Rp 25.000 per kg.

Artinya, peternak membeli pakan lebih mahal, sementara harga jual hasil ternak belum mencapai batas bawah acuan pemerintah.

Amran menyebut pemerintah berupaya membangun ekosistem perunggasan dari hulu ke hilir, mulai dari produksi sampai penyerapan hasilnya.

"Yang terpenting adalah bagaimana membangun ekosistem. Contoh peternakan kita rancang, petani jagung berproduksi jagung, offtaker-nya peternak," ujarnya.

Ia menyebut jagung yang berlebih bisa ditampung Bulog lewat skema resi gudang. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga disebut sebagai salah satu penyerap atau offtaker.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, pihaknya akan menyasar peternak unggas skala mikro. Bulog juga akan menuntaskan sisa penyaluran tahap pertama.

“Bulog berkomitmen memastikan penyaluran SPHP jagung berjalan optimal dan tepat sasaran. Kami terus mempercepat penyelesaian sisa penyaluran SPHP jagung tahap pertama, sekaligus menjalankan tambahan penugasan tahap kedua sebanyak 150 ribu ton yang mulai disalurkan hari ini,” ujar Rizal.

 


Penulis: Syamsi Nur Fadhila
 

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua