Museum La Galigo Dulunya Adalah Hunian Gubernur Belanda

flickr.com

Kabar Makassar— Kota Makassar menyimpan banyak peninggalan penjajahan yang syarat akan nilai sejarah, salah satunya adalah Museum La Galigo yang merupakan peninggalan zaman kerajaan Gowa yang terletak di Benteng Ujung Pandang yang saat ini lebih dikenal dengan nama Fort Rotterdam.

Museum Sulawesi Selatan ini tercatat telah ada pada tahun 1938 yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda. Museum ini, dulunya adalah kediaman Gubernur Admiral C. J. Speelman.

Di dalam Museum La Galigo banyak dipamerkan keramik-keramik yang digunakan pada jaman penjajahan, piring-piring emas, mata uang, permainan rakyat, peralatan rumah tangga, peralatan dapur tradisional, peralatan kesenian seperti kecapi, gandrang bulo, puik puik, dan kapal phinisi khas Sulsel.

Baca juga :   Euforia F8, Nginap 5 Malam Bayar 4 Malam di Hotel Makassar

Setelah pemerintahan Hindia Belanda, Jepang menduduki kota Makassar dan membentuk Selebes Museum yang menggunakan tiga gedung di dalam kompleks Fort Rotterdam yang menambah koleksi pada Museum.

Namun, pada masa kependudukan Jepang Museum Selebes terhenti sampai pembubaran Negara Indonesia Timur dan tahun 1966 kalangan Budayawan merintis kembali pendirian museum yang dinyatakan berdiri secara resmi pada tanggal 1 Mei 1970 berdasarkan SK Gubernur Tingkat 1 Sulsel nomor 182/V/1970 dengan nama Museum I La Galigo.

Pertimbangan nama La Galigo pada Museum atas saran dari cendekiawan dan budayawan atas dasar La Galigo atau I La Galigo adalah sebuah karya sastra klasik dunia serta kenyataan kultural dalam bentuk naskah tertulis bahasa Bugis yang disebut Sure’ Galigo.

Baca juga :   BPPD Sulsel Tertarik Kembangkan Pulau Cambang-cambang

Dalam budaya bugis Sure ini mengandung nilai luhur bagi tata kehidupan nyata yang suci, dan menjadi tuntunan hidup masyarakat Sulsel zaman dahulu seperti ajaran kosmos, religi, adat
istiadat, sistem ekonomi, kemasyarakatan, pemerintahan, keadaan geografis wilayah, dan peristiwa penting yang terjadi dalam kehidupan manusia.

Pada masa dahulu masyarakat memandang naskah atau sure sebagai sesuatu yang suci dan di sakralkan serta hanya dibaca pada waktu-waktu tertentu.

Pertimbangan lain dari penamaan Museum La Galigo ialah, nama La Galigo yang sangat popular dikalangan masyarakat Sulsel.

Baca juga :   ReFIT: Peluang Bisnis Kebugaran Hadir Di Sulsel

La Galigo sendiri adalah putra dari Sawerigading Opunna Ware dari perkawinannya dengan We Cudai Daeng Ri Sompa, La Galigo dikenal sebagai seorang tokoh legendaris yang dinobatkan menjadi Payung Lolo atau Raja Muda di Kerjaaan Luwu sebagai kerajaan tertua Di Sulsel.

Foto: flickr.com

[divider sc_id=”sc458851803716″]divider-3[/divider]

[team layout=”4″ staff=”1694″ sc_id=”sc1012589936500″]