Model Makassar Ini Terinspirasi Sosok Abraham Samad

Perwakilan Komunitas Andara Makassar, Putri Aminda saat berinteraksi dengan MC Aksi Kamisan Makassar, Humaerah di sela-sela acara Peluncuran Amnesty Internasional di Taman Macan Makassar, Kamis, (17/12/2017). Foto : Imran Arief

KabarMakassar.com — Seorang model asal Makassar, Putri Aminda mengaku sangat senang dengan sosok pemberani Abraham Samad saat mendampingi tokoh idolanya itu dalam Aksi Kamisan Perdana Makassar dan Launching Amnesty Internasional yang berpusat di Taman Macan atau Harimau Makassar, Kamis 17 Desembr 2017.

“Saya sangat senang dengan bapak Abraham Samad. Sosoknya yang pemberani menyuarakan kebenaran menjadi inspirasi saya,” kata Putri Aminda saat menjawab pertanyaan MC Humaerah di sela-sela kegiatan Aksi Kamisan Perdana di Makassar.

Putri Aminda mengaku senang terlibat dalam aksi kamisan yang secara massive memperjuangkan hak-hak dasar manusia khususnya hak-hak kaum perempuan Indonesia.

Orasi dan pembacaan puisi Abraham Samad didampingi perwakilan milenial komunitas Andara Makasar dan Makasar Tourism Community dalam Aksi Kamisan Pertama Makassar dan peluncuran Amnesty Internasional di Taman Macan Makassar, Kamis (17/12/2017). Foto : Imran Arief

Dalam kegiatan itu, Putri Aminda juga diberikan kesempatan oleh pihak penyelenggara untuk mendampingi Abraham Samad membawakan orasi dan puisi karya Taufik Ismail yang berjudul “Kami Muak dan Bosan” di aksi perjuangan kebebasan berekspresi dan perjuangan HAM itu.

Baca juga :   Komeng, 10 Tahun Menderita Gizi Buruk

Anggota komunitas Andara Makassar ini tampil memikat seluruh pengunjung dan peserta yang berasal dari berbagai elemen masyarakat itu. Aminda menggunakan payung hitam yang menjadi simbol perlawanan bersama perjuangan HAM dan kebebasan berekspresi.

Selain Aminda, Ketua Makassar Tourism Community Irham Samad dan Aldri juga mendampingi tokoh pejuang kebebasan berekspresi dengan menggunakan baju hitam bertuliskan Tumbuh Bineka Cinta.

Dalam orasinya , Abraham Samad menyampaikan ada perbedaan bentuk dan karakter pelanggaran antara rezim orde lama dan orde reformasi. “Masa lalu mengenal pelanggaran HAM dengan kasat mata contohnya penculikan ataupun perampasan hak. Sedangkan rezim reformasi tidaklah berwujud dan berkarakter yang mudah dengan kasat mata kita melihat bentuk penindasan dan kekerasannya. Tetapi pelanggaran sekarang lebih ke kriminalisasi terhadap kebijakan yang ada di pemerintahan dan juga penekanan terhadap kebebasan, yang menyebabkan masyarakat menjadi tidak berdaya,” ucapnya

Baca juga :   Malam Ini, Band ini Hibur Warga Makassar

Abraham Samad memberikan contoh rakyat di pedesaan tidak bisa menguasai tanah secara pribadi. Bayangkan saja, kata dia terdpat 341 perusahaan besar di Indonesia bisa menguasai lahan seluas 26 juta hektar.

“Jumlah petani di Indonesia hanya 23 juta orang, tetapi hanya 21 juta yang diberikan petani yang memiliki lahan. Artinya setiap petani hanya memiliki 1 hektar lahan dan masih ada 13,7juta petani kita tidak memiliki lahan. Inilah bentuk pelanggaran HAM jaman sekarang,” ungkapnya

Abraham menjelaskan bangsa yang beradab adalah bangsa yang menghargai hak asasi manusia di negeri ini. Untuk menghancurkan sebuah bangsa, kata dia yang paling mudah adalah menghancurkan hak asasi setiap warganya. Menurutnya setiap hak asasi warganya di langgar, maka peradaban sebuah negara menjadi hilang.

Baca juga :   Polemik Harga Kios di New Makassar Mal

Mantan ketua KPK periode 2011-2015 ini mengajak semua yang hadir untuk bergabung dan meneriakkan pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia.

“Mari kita melawan pelanggaran HAM yang ada di negeri kita. Marilah kita bersama terus menghadapi apa yang terjadi walaupun itu mengancam diri kita.

Penulis Andi Lasinrang