News

Mengidap Penyakit Liver, Bocah 4 Tahun Ini Butuh Bantuan

Mengidap Penyakit Liver, Bocah 4 Tahun Ini Butuh Bantuan

Kabar Makassar-- "Orang miskin tidak boleh sakit", kalimat ini mungkin mewakili kondisi sebagian masyarakat di Sulawesi Selatan. Seperti halnya yang saat ini menimpa keluarga Aqila, bocah 4 tahun asal Kabupaten Jeneponto, Sulsel.

Aqila (4 tahun) sejak berusia satu tahun dua bulan terkena penyakit liver/kanker hati. Mirisnya, setelah hampir tiga tahun mengidap penyakit tersebut. Si bocah malang yang hidup serba kekurang tersebut tak kunjung mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Bahkan kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang diperuntuhkan bagi masyarakat kurang mampu ini, tidak dimilikinya.

Ibu Aqila, Indri (32 tahun) yang dikonfirmasi melalui telephone selularnya menerangkan kondisi Aqila (4 tahun) yang lemah. Dan berdasarkan pernyataan dari dokter di salah satu rumah sakit di kota Makassar, tempat Aqila (4 tahun) memeriksakan kesehatannya mengatakan bahwa penyakit yang diderita Aqila membutuhkan biaya yang sangat besar karena perlu penanganan yang serius.

"Pernah saya periksa dulu, tapi itu masih pake KTP. Saya kasi masuk pertama di rumah sakit, dokter bilang penyakit kanker/liver, jadi harus di operasi tapi lemah sekali fisiknya sering pingsan pingsan," kata Indri. Jumat 22 September 2017.

lebih lanjut Indri (32 tahun) menjelaskan kondisi awal saat penyakit tersebut mengrogoti tubuh kecil anaknya, bermula dari benjolan kecil dibagian tubuh Aqila (4 tahun).

"Awalnya pembengkakan itu kecil dan tidak terlalu keras,tapi lama kelamaan makin membesar dan agak mengeras dan kata dokter ini penyakit sudah berakar dan menjalar, dan memang harus cepat di operasi, karena ditakutkan nanti penyakit ini menjalar ke bagian hati, kalau sudah sampai ke hati maka ia tidak bisa makan," terangnya.

Sementara biaya yang dibutuhkan untuk operasi Aqila (4 tahun) sebesar Rp 27 juta untuk perawatan bagian umum, sedangkan jika menggunakan jasa BPJS kesehatan, orang tua Aqila (4 tahun) harus menyiapkan dana sebanyak Rp 11 juta untuk obat obatan.

Biaya yang terbilang fantastis bagi kedua orang tua Aqila (4 tahun), menambah duka yang kian pahit. Pasalnya, Ayah Aqila yang berprofesi sebagai supir pete pete (angkot) di Makassar penghasilan sehari harinya tidak menentu. Jika sedang ramai penumpang, kadang ia bisa mendapat Rp 50 ribu.

Penghasilan tersebut adalah upah yang diperolehnya setelah terpotong dari beberapa hal karena mobil yang digunakan bukan miliknya.

"Saya urus anak anak ji di rumah, bapaknya bekerja sebagai sopir pete pete (bukan mobilnya) penghasilannya setiap hari itu tidak menentu, paling banyak Rp 50 ribu, kadang 20,000 kadang 10,000 dan terkadang tidak ada sama sekali," beber Indri.

Kondisi yang diderita keluarga balita Aqila ini diketahui berdasarkan investigasi yang dilakukan oleh Tim Makasar Peduli (MKP), yang hingga saat ini terus melakukan upaya agar balita Aqila mendapat keringanan dalam berobat.

"Dulu itu ada salah seorang keluarganya Aqila sempat posting di sosial media soal kondisinya Aqila tapi ada beberapa warga yang beranggapan kalau itu hanya dijadikan sebagi ajang untuk mencari uang, makanya postingannya di hapus karena kedua orang tua Aqila takut kalau itu gunakan dalam memanfaatkan anaknya yang sakit," kata salah seorang anggota Tim MKP.

Aqila yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, saat ini telah berada di kota Makassar dan tinggal di sebuah rumah kost di bilangan Dg. Ngande 2, tepat di depan mesjid Haqulyakin Makassar.

Indri (32 tahun) harus rela berpanas panasan membawa kedua buah hatinya, Aqila dan adiknya yang masih berumur satu tahun berkeliling kota Makassar mencari penumpang pete pete bersama sang suami karena rasa takutnya jika tinggal dirumah dan terjadi sesuatu dengan Aqila.

"Sekarang saya di Makassar, sama Aqila dengan adenya. Ikut k' sama suamiku cari penumpang karena takut k' di itu kost bertiga sama anak anak nanti ada apa apa sama Aqila, anakku yang pertama saya simpan sama orangtuaku di kampung," kata Indri.

Arini Wulandari

Journalist

Aktifis mahasiswi ini mulai aktif menulis sejak 2014 lalu. Kemampuan komunikasi personalnya di ekspresikan dalam bentuk karya jurnalistik.

 

Redaksi

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close
%d bloggers like this: