Medsos Dan Hukum Rimba

Medsos Dan Hukum Rimba

Medsos Dan Hukum Rimba

Sekonyong-konyong saya jadi teringat kata-kata seorang kawan pada cakap dua arah di medsos ini. Kurang lebih berbunyi: kamu tidak tahu kisah di balik layar-nya -yang kata kawan saya itu hanya konsumsi kalangan khusus saja- bahwa orang yang ditangkap itu sampe teriak-teriak dalam tahanan. Atas alasan "kemanusiaan"-lah kasusnya "dihentikan".

Ya, itulah kasus Yulianus "Ongen" Paonganan yang didakwa menyebarkan konten pornografi, tahun lalu. Di pengadilan, dalam putusan sela (putusan sebelum masuk pokok perkara), para pengadil menerima keberatan pengacara Ongen bahwa dakwaan kabur. Dakwaan tidak jelas. Para pengadil memutuskan sidang tidak diteruskan ke pokok perkara. Kalau toh perkara harus diteruskan, Joko Widodo harus dihadirkan dalam persidangan. Ongen terlepas dari dakwaan.

Tapi, ya seperti di paragraf pertama di atas. Kata kawan saya: alasan kemanusiaan. Faktanya, Sistem memang "mengalah". Ongen bebas, demi hukum. Bukan karena Ongen tidak melanggar hukum (karena pengadilan dihentikan), tetapi karena secara hukum dakwaan kepada Ongen tidak jelas.
Saya percaya pada ungkapan kawan ini, melihat aktivitas medsos-nya yang sekian kali memberitakan keberadaannya dalam ring-1 kepresidenan (hal mana saya sendiri heran, dalam kapasitas apa (?), dan sudah saya tanyakan pada beliau sendiri dengan balikan jawaban: urusan pekerjaan. Pun, saya tetap masih "susah" menerimanya dengan akal sehat. Kerap berada dalam ring-1 kepresidenan dengan status "urusan pekerjaan" tetapi status pekerjaan bukan dalam kabinet, bukan pula paspampres, apalagi bukan anggota keluarga istana, tentu membuat akal sehat susah menerima. Tetapi saya kemudian dicap "ngeyel" he he he).

Kawan saya ini mungkin tidak menyadari, atau baru menyadari belakangan, bahwa memberi pernyataan tersebut sebenarnya sama dengan memberi info kunci bahwa tindakan penahanan pada akhinya telah membuat orang "menyerah" dan memilih "berdamai" dengan keadaan. Yaitu, keadaan dirinya yang tak tahan ditahan. Belum kalau kita masukkan faktor ruang tahanan yang pengap, saban malam nyamuk berpesta, dan sesak berbagi tempat dengan tahanan lain. Apalagi kalau sel tahanan dipilihkan yang berpenghuni para tersangka maling ayam, pencuri jemuran, atau para pembuat onar karena mabuk. Harga diri (self esteem) terusik. Tersiksa.

Ya, siksaan adalah cara. Itu ada dalam sejarah. Para raja di Eropa abad pertengahan menggunakan teknik siksaan (fisik) untuk membuat tahanan politik mereka mengaku bersalah. Di Inggris, raja/ratu akan selalu meminta informasi: apakah tahanan sudah mengaku bersalah? Kalau belum, siksaan berlanjut. Kalau tahanan pada akhirnya takluk pada siksaan dan mengaku bersalah, bisa dua kemungkinan: mendapat "mercy" alias pengampunan dari sang raja, atau, sang raja terbebas dari rasa bersalah untuk menjatuhkan hukuman mati-nya pada si tahanan.

Cara dengan menyiksa (torture) ini seiring zaman akhirnya dihapus. Tidak manusiawi. Mengapa? Cara seperti itu berarti menyiksa manusia. Sementara, para raja/ratu itu adalah manusia juga. Karena sama-sama manusia, maka tidaklah manusiawi kalau menyiksa manusia. Tidak baik mendapatkan "kemenangan" dengan cara menyiksa orang.
Itulah mengapa rakyat Amerika di kehidupan modern ini marah besar ketika mulai terungkap pemerintah mereka ternyata menggunakan teknik torture saat menginterogasi para tahanan terduga teroris, meskipun yang diserang para teroris adalah Amerika sendiri. Terlebih saat terbongkar ke publik bahwa pemerintah AS mendirikan berbagai penjara rahasia di luar Amerika yang menjadi sarana eksekusi siksaan itu.
Sejauh ini berbagai tuduhan dan sangkaan yang menyebabkan sejumlah orang ditangkap lalu ditahan terkait dengan kekuasaan Jokowi pada akhirnya berakhir dengan kebebasan tanpa sampai pada pengadilan pokok. Ongen bebas pada pengadilan-sela. Al-Khattath juga bebas (status penangguhan), Ahmad Dhani juga. Sejumlah nama dalam kasus tuduhan makar yang katanya akan "menunggangi" demo umat pada akhirnya bebas.

Jika penangkapan dan penahanan orang-orang ini benar didasarkan pada argumen hukum, maka semestinya kita akan menyaksikan bagaimana hukum ditegakkan di arena pengadilan. Yang terjadi sekarang adalah kita belum tahu apa mereka-mereka itu ditangkap dan ditahan karena memang melanggar hukum, atau memang hukum ternyata sudah disalahgunakan demi kepentingan penguasa. Kebebasan mereka secara hukum belumlah bebas sepenuhnya karena pokok perkara sama sekali belum pernah dipertarung-sidangkan di depan para pengadil hukum. Dengan kaca mata yang sama dapat dipandang: penyangkaan pelanggaran hukum kepada mereka belum pernah dibuktikan kebenarannya.

Satu yang pasti: raga mereka pernah dirampas kebebasannya. Batin mereka, saya yakin: juga tersiksa. Pada saat yang sama, mulai gencar dikabarkan: hukuman menanti bagi yang posting "nganu" di medsos.

Penulis : Canny Watae

Redaksi

Related Articles

Leave a Reply

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close