“Mappacci” Dalam Adat Bugis

Prosesi Mappacci Pada Adat Bugis [Foto: Imran Alrief]
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Kabar Makassar– Dalam adat istiadat Bugis, kata “mappaci” sangat tidak asing lagi. Sebelum melaksakan prosesi pernikahan, ada dua hal yang melandasi pernikahan masyarakat Bugis, yakni niat yang lurus dan jiwa yang suci bersih, dimana hal itu tergambar dalam prosesi Mappacci.

Mappacci adalah salah satu rangkaian dari upacara pernikahan Bugis yang bermakna “pensucian diri”. Sebuah pantun Bugis (elong ugi) menyatakan “Duami kuala sappo unganna panasae na belo-belona kanukue” Yang artinya “Ada dua yang kuambil sebagai pagar diri dalam rumah tangga, yaitu “kembangnya buah nangka dan perhiasannya kuku jari”.

Perangkat Yang Digunakan pada Prosesi Mappacci [Foto: Imran Alrief]

“Unganna panasae” atau kembang buah nangka dalam bahasa Bugis disebut “lempu” bermakna lurus dan merupakan simbol niat yang lurus. Sedangkan “belo-belona kanukue” atau hiasannya kuku disebut ’pacci’ yang artinya bersih, melambangkan kesucian atau jiwa yang jernih.

Daun pacci itu dikaitkan dengan kata ‘paccing‘ yang maknanya adalah kebersihan dan kesucian. Dengan demikian pelaksanaan mappaci mengandung makna kebersihan raga dan kesucian jiwa.

Inti dari upacara ini adalah pemberian daun pacci atau daun pacar pada calon mempelai, maka daun pacar atau pacci menjadi sesuatu yang harus ada dalam acara itu. Tata cara pelaksanaannya yaitu para kerabat atau beberapa tamu yang telah dipilih, satu per satu mengambil sedikit daun pacci yang telah dihaluskan lalu diletakkan di telapak tangan calon mempelai.

Adat “mappacci” merupakan prosesi yang dilakukan calon pempelai baik itu perempuan maupun laki laki, yang dilaksanakan di tempat yang berbeda. Dalam melaksanakan adat mappacci menggunakan 6 (enam) macam alat perlengkapan yang terdiri dari bantal, sarung 4 lembar, daun pisang, daun nangka, daun pacci, dan lilin. Keenam alat perlengkapan tersebut masing-masing mengandung makna filosofi.

Bantal adalah simbol sipakatau atau saling menghargai, itu tergambar dari fungsinya sebagai pengalas kepala saat tidur. Kepala merupakan bagian tubuh yang paling mulia dan dihargai. Begitu pula, sosok manusia baru dapat dikenal bilamana dilihat wajahnya, dan wajah adalah bagian dari kepala.

Sarung merupakan simbol mabbulo sipeppa atau persatuan, itu tergambar jalinan dan kumpulan lembaran benang yang disatukan kemudian diolah dan ditenun, sarung sebagai simbol persatuan dan penutup aurat.

Mappacci Pihak Mempelai Pria

Penggunaan empat lembar sarung yang disusun dalam suatu lingkaran mengandung makna kesiapan calon mempelai memasuki kehidupan berumah tangga dengan terlebih dahulu membersihkan 4 hal, yaitu mapaccing ati artinya bersih hati, mapaccing nawa-nawa artinya bersih fikiran, mapaccing pangkaukeng artinya bersih/baik tingkah laku, dan mapaccing ateka artinya bersih hati.

Daun pisang, Pisang adalah simbol serbaguna karena seluruh bagian dari pohon pisang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Pisang merupakan tanaman produktif karena sekali kita menanam pisang, akan tumbuh dan berkembang, patah tumbuh hilang berganti. Sama halnya dengan manusia hidup dan berkembang dari generasi ke generasi melalui perkawinan.

Daun nangka, Nangka adalah simbol cita-cita yang dalam bahasa Bugis disebut ‘panasa’ yang mengandung makna mamminasa, yang memiliki arti tekad dan cita-cita. Setiap pasangan suami istri ingin menjadikan rumah tangganya senantiasa dalam keadaan tenteram dan bahagia didampingi oleh istri dan anak-anak yang saleh dan sakinah sebagaimana hadist Nabi Muhammad SAW: “baiti jannati” yang artinya rumahku adalah surgaku.

Daun pacci/pacar adalah simbol kebersihan atau kesucian karena daun pacci itu digunakan sebagai pemerah kuku atau penghias kuku, belo-belo kanuku. Sebagaimana yang tercantum dalam pantun Bugis tadi yang berbunyi “dua mi uwala sappo, belona kalukue, unganna panasae”. Terjemahan bebasnya “hanya dua kujadikan perisaiku yaitu pacci (kesucian) dan lempu’ (kejujuran)” Peribahasa ini berlaku bukan hanya dalam hal pernikahan, tetapi hadir dalam setiap dimensi kehidupan masyarakat Bugis.

Lilin adalah simbol penerangan dan pengabdian digunakan sewaktu gelap sebagai penerang dan sebagai simbol pengabdian terhadap keluarga, masyarakat, agama, bangsa, dan negara.

Simbol-simbol yang disebutkan di atas diharapkan dalam melayarkan bahtera hidup dan kehidupan calon pengantin selalu didasari dengan Etos, Etis, dan Estetika dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sekalipun Mappacci bukan merupakan suatu kewajiban agama dalam Islam, tapi mayoritas ulama di daerah Bugis menganggapnya sebagai sennu-sennungeng ri decengnge (kecintaan akan kebaikan).

[divider sc_id=”sc1100369349637″]divider-3[/divider]

[team layout=”4″ staff=”2349″ sc_id=”sc671814371349″]

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.