Makassar Jadi Gerbong Peredaran Narkoba

Makassar Jadi Gerbong Peredaran Narkoba

Makassar Jadi Gerbong Peredaran Narkoba

Kabar Makassar ----- Makassar menjadi gerbong masuknya narkotiba di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Hal ini dibenarkan oleh Kasat Narkoba Polrestabes Makassar, Kompol Diari yang mengakui peredaran narkotika di wilayahnya tergolong masih tinggi.

Ini diakuinya pasca BNN Sulsel menyebut Makassar menjadi salah satu pusat peredaran narkotika di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

"Memang masih ada. Upaya yang kita lakukan adalah memburu para bandar dan para pengedarnya," ungkapnya.

Meski fokus melakukan pengejaran bandar dan pengedar, kata Diari, pemberantasan narkotika bukan menjadi perkara mudah. Sistem jaringan yang dilakukan oleh para pelaku kejahatan semakin canggih untuk lepas dari hukum dan terhindar dari penangkapan petugas.

"Kita melakukannya secara pelan-pelan namun tetap fokus," katanya.

Selain itu, penyelesaian kasus peredaran narkotika di Kota Makassar tetap menjadi hal utama. Meski demikian, pihaknya juga berusaha untuk melakukan pencegahan terhadap penculnya pengguna atau pengedar baru.

"Bagaimanapun juga kasus narkotika adalah kejahatan luar biasa, harus diberantas. Aka tetapi kita juga berusaha untuk mencegah munculnya pemakai, pengedar ataupun bandar yang baru," pungkasnya.

Sebelumnya Kepala BNN Sulsel, Brigjen Pol Mardi Rukmianto mengatakan, saat ini Sulawesi Selatan termasuk Makassar menjadi pusat peredaran narkotika di Kawasan Timur Indonesia (KTI)

"Dari laporan yang kita terima, seluruh daerah di Kawasan Indonesia Timur termasuk Papua, Sulawesi. Semua narkoba se-KTI berasal dari Sulsel," kata Mardi Rukmianto.

Mardi Rukmianto menyebutkan, pada tahun 2016 ada sebanyak 131.000 pemakai narkoba di Sulsel. Sementara ada 1.428 yang telah direhabilitasi, baik dari isntansi pemerintah maupun swasata. Dengan angka peredaran dan pemakai yang ada di Sulsel, Rukmianto mengaku pihaknya akan berusaha menurunkan angka peredaran narkoba di Sulsel.

"Sementara untuk pecandu berat 40 persen, sedangkan yang menggunakan jarum suntik 15 persen. Rata-rata pemakai di Sulsel mengonsumsi narkoba 3 kali sehari. Peredarannya sangat cepat di masyarakat, artinya kita mengejar dengan berjalan, sementara peredarannya bekerja dengan cara berlari," bebernya.

 

Redaksi

Related Articles

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close