Maestro Musik Campursari, Didi Kempot Tutup Usia

KabarMakassar.com — Penyanyi kondang asal Solo, Didi Kempot meninggal dunia, pada pukul 07.45 WIB, Selasa (5/5).

Dikabarkan jika pemilik nama lengkap Dionisius Prasetyo ini sempat dilarikan ke rumah sakit Kasih Ibu, Kota Solo, Jawa Tengah pada pukul 07.25 WIB, namun selang beberapa menit, Penyanyi yang dijuluki The Godfather of Broken Heart ini meninggal dunia.

Asisten Manajer Humas RS Kasih Ibu, Solo, dr. Divan Fernandes melalui layanan perpesanan Whastapp, Selasa, mengatakan Didi Kempot sampai di RS tersebut pukul 07.25 WIB dalam kondisi henti jantung.

Menurut dia, pihak RS sudah melakukan berbagai upaya pertolongan.

“Pukul 07.25 WIB ke IGD dalam keadaan henti jantung. Sudah dilakukan pertolongan dengan maksimal. Tapi, kondisi tidak tertolong. Almarhum dinyatakan meninggal dunia pukul 07.45 WIB,” kata dr. Divan, dikutip dari Suara.com jaringan KabarMakassar.com

Karier Didi Kempot

Maestro campursari dan penulis lagu yang populer, ia memulai karirnya sebagai musisi jalanan di kota Surakarta sejak tahun 1984 hingga 1986, kemudian mengadu nasib ke Jakarta pada tahun 1987 hingga 1989. Nama panggung Didi Kempot merupakan singkatan dari Kelompok Pengamen Trotoar, grup musik asal Surakarta yang membawanya tenar hingga ke Jakarta.

Didi merupakan adik dari pelawak dan seniman Mamiek Prakoso, namun berbeda dengan sang kakak, jalur musik ditempuh Didi yang memiliki sebagian lagu yang ditulisnya bertemakan patah hati dan kehilangan.

Alasan sengaja memilih tema tersebut karena rata-rata orang pernah mengalaminya dan ingin dekat dengan masyarakat, juga menjadi alasan Didi Kempot menggunakan nama-nama tempat sebagai judul atau lirik lagunya.

Didi Kempot telah menulis sekitar 700 lebih judul lagu. Hampir sebagian lagu-lagu yang diciptakan Didi Kempot menggunakan bahasa jawa bertemakan patah hati dan kesedihan. Dia beralasan sengaja memilih tema tersebut karena setiap orang pernah mengalami.

Di beberapa lagunya Didi Kempot juga kerap menggunakan nama-nama tempat di lagu-lagunya. Misalnya saja lagu Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, Kopi Lampung, Perawan Kalimantan, Parangtritis, Pantai Klayar, Tanjung Perak, Tanjung Mas Ninggal Janji, Magelang Nyimpen Janji, Ademe Kutho Malang, Kangen Magetan, Kangen Nickerie yang lirik-liriknya tetap menceritakan tentang patah hati.

Ternyata Didi Kempot secara tidak langsung ingin mempromosikan tempat-tempat tersebut melalui lagu ciptaannya. Walaupun tidak semua tempat yang dijadikan lagunya punya pengalaman khusus dengan dirinya, melainkan pernah mengunjungi tempat tersebut.

Ide membuat lagu dengan nama tempat tersebut juga ada yang datang ketika Didi Kempot sedang berjalan-jalan dan mendengar tentang cerita-cerita dari warga setempat. Ketertarikan ia membuat lagu dengan menyebut nama-nama tempat karena ia juga yakin sebuah tempat pasti punya kenangan tersendiri bagi setiap orang.

Selamat jalan sang Maestro Campursari Didi Kempot.

Reporter :

Editor :

Fritz V Wongkar

Redaksi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

REKOMENDASI