News

‘’Lontarak’’, dari Daun Jadi Tulisan

‘’Lontarak’’, dari Daun Jadi Tulisan

Kabar Makassar--- Jika suku Bugis dan suku Makassar menyebut kata ‘’lontarak’’, itu bermakna tulisan yang terdapat pada daun lontar menggunakan huruf Bugis-Makassar. Salah satu kisah ‘’lontarak’’ (maksudnya yang ditulis pada daun lontar menggunakan huruf tersebut) terpanjang di dunia adalah epos ‘’I La Galigo’’. Menurut Christian Pelras dalam ‘’Manusia Bugis’’ (2006), ‘’La Galigo’’ bercerita tentang ratusan keturunan dewa yang hidup pada suatu masa selama enam generasi turun temurun pada berbagai kerajaan di Sulawesi Selatan dan daerah atau pulau-pulau di sekitarnya.

Naskah bersyair ini ditulis dalam bahasa Bugis Kuno dengan gaya bahasa sastra tinggi. Hingga abad XX Masehi, naskah ini secara luas oleh masyarakat Bugis dipandang sebagai suatu kitab sakral dan tidak boleh dibaca tanpa didahului upacara spiritual tertentu. Banyak orang Bugis yang masih yakin, kata Pelras, peristiwa yang dituturkan dalam naskah ini benar-benar terjadi pada suatu saat di masa lalu. Ketika keadaan masih berbeda dengan zaman ‘’now’’. Yakni, ketika manusia masih berhubungan langsung dengan para ‘’dewata’’.

Ahli paling berjasa yang menumpahkan jerih payahnya mengkaji naskah ini adalah R.A.Kern berkebangsaan Belanda. Dialah yang menerbitkan katalog paling lengkap mengenai seluruh naskah ‘’La Galigo’’ yang kini tersimpan di beberapa perpustakaan Eropa (khususnya di Universitas Leiden, Belanda) dan perpustakaan Mathes di Makassar.

Dari 31.500 halaman, Kern menyaring dan membuat ringkasan setebal 1.356 halaman yang merinci ratusan tokoh yang tertuang di dalam cerita (Kern, Catalogus I dan II, 1931 dan 1954). Epos ‘’La Galigo’’ ini terpanjang di dunia melebihi panjangnya epos ‘’Mahabarata’’.

Kisah ‘’La Galigo’’ ini dituturkan dalam bahasa Bugis Kuno menggunakan tulisan yang sekarang kita kenal dengan ‘’lontarak’’. B.F.Matthes di dalam Kamus Bahasa Bugis-Belanda yang diterbitkan Martinus Mijhoff di Gravenhage pada tahun 1874, mengutip Zainal Abidin Farid dalam ‘’Kapita Selekta Kebudayaan Sulawesi Selatan’’ (Hasanuddin University Press, 1999) berpendapat, istilah ‘’lontarak’’ berasal dari ‘’luar’’, Bali dan Jawa. ‘’Lontarak’’ sesuai dengan kata ‘’lontar’’ (Jawa/Melayu), transposisi kata ‘’rontal’’ yang berasal akar (suku) kata ‘’ron’’ (daun) dan ‘’tal’’ (pohon ‘’berassus flabeliformis, yang daunnya dipakai untuk menulis dengan kalam). Pohon ini dalam bahasa Bugis ‘’tale’’ dan ‘’talak’’ di dalam bahasa Makassar. ‘’Lontarak’’ pertama berarti daun lontar. Dalam arti luas bermakna setiap karya tulis.

Zainal Abidin Farid mengatakan, seorang berkebangsaan Belanda, A,A.Cense, pernah menjadi pegawai bahasa di Makassar dan – hebatnya – menguasai beberapa daerah di Sulawesi Selatan. Cense sependapat dengan Matthes yang memaknai ‘’lontarak’’ sebagai ‘’handschrift manuscript’’ (terjemahannya kira-kira, manuskrip atau naskah tulisan tangan), daun dan pohon lontar. Daun ini digunakan sebagai tempat menulis. Huruf yang digunakan menulis di daun tersebut dalam bahasa Makassar disebut ‘’anrong-lontarak’’ dan ‘’ukirik lontarak’’, adalah tulisan dengan huruf Latin, serta ‘’ukirik serang’’ tulisan dengan huruf Arab.

Orang Bugis, Makassar, Mandar, dan Massenrempuluk jika menulis di daun lontar, kemudian di kertas, menggunakan huruf yang disebut ‘’urupuk lontarak’’. Beberapa orang tua yang sempat diwawancarai Zainal Abidin Farid menyebut huruf itu dengan ‘’urupuk sulapak eppak’’, yang secara harafiah berarti huruf segi empat. Menurut mereka huruf itu diciptakan dengan meniru ‘’walasuji’’ atau ‘’lawa suji’’, yakni sejenis dinding terbuat dari bambu yang dipasang bersilang.

Berdasarkan ‘’Lontarak Sejarah Gowa’’ (Noordyun, 1965:153, dalam Zainal Abidin Farid) orang Makassar berpendapat, tulisan ‘’lontarak’’ diciptakan Daeng Pamatte, seorang menteri merangkap syahbandar Gowa pada masa pemerintahan Raja Gowa Tumapaksirik Kallona (gelar, yang berarti ‘’orang yang sakit lehernya), yang di dalam silsilah Raja Gowa bergelar Daeng Matanre. Ia memerintah pada akhir abad XVI. Sesuai ‘’lontarak Gowa’’ ini tidak banyak diketahui ihwal para raja Gowa sebelumnya, lantaran tidak adanya naskah tulisan pada masa itu.

Di dalam ‘’lontarak Gowa’’ tersebut juga tidak diketahui huruf yang mana dibuat oleh Daeng Pamatta itu. Sebab, B.F.Matthes pernah menemukan tiga jenis huruf, yang juga pernah dilihat penulis lain. Huruf itu, jenis yang sering digunakan oleh penulis ‘’lontarak (ka ga nga ngkak) kemudian tambahan orang Bugis (pa ba ma mpak). Zainal Abidin Farid mengungkapkan, selain tiga jenis huruf itu, dia juga menemukan ada huruf jenis lain yang dipakai di dalam sebuah ‘’lontarak’’ miliki keluarga Kaimuddin Salle (Prof.Dr., S.H.,M.H., almarhum), yang isinya menceritakan keluarga Sultan Hasanuddin bergelar ‘’Tomenanga ri Balllakpangkana’’, raja Gowa yang berperang melawan Arung Palakka dan VOC dan memerintah tahun 1653-1669.

Huruf tersebut menurut keterangan beberapa orang Makassar (masih menurut Zainal Abidin Farid), adalah huruf rahasia yang hanya dapat dibaca oleh orang-orang kepercayaan raja dan para menteri. Huruf yang ketiga, semula dipakai berkorespondensi dan tampaknya dipengaruhi huruf Arab.

Sebaliknya, orang Bugis dan Luwu berpendapat, huruf ‘’lontarak’’ sudah lama dikenal oleh orang-orang Sulawesi Selatan. Ini dibuktikan dengan adanya ‘’Surek Selleng I La Galigo’’ yang tebalnya seperti dikemukakan R.A.Kern di awal tulisan ini.

Di dalam masyarakat Bugis istilah yang lebih tua untuk ‘’lontarak’’ ialah ‘’surek’’ (surat, tulisan, buku, dan lain-lain, misalnya ‘’Surek Selleng I La Galigo, buku sastra ‘’I La Galigo’’ yang dibaca sambil dinyanyikan). ‘’I La Galigo’’, kata Zainal Abidin Farid, adalah nama raja yang kedua di Kerajaan Cina (bukan Tiongkok) atau Kerajaan Tana Ugik, yakni Kerajaan Negeri Bugis.

Sejarah di daerah Bugis disebut ‘’Surek Attoriolong’’ (sejarah tentang orang-orang dahulu kala), ‘’Surek Allaonrumang’’ (‘’lontarak’’ pertanian), ‘’Surek Pabbura’’ (buku tentang obat-obatan), ‘’Surek Panguriseng’’ (buku silsilah raja-raja), ‘’Surek Meong Palo Karellae’’ (buku cerita tentang kucing belang berwarna-warni yang dipercaya sebagai penjaga Sang Hyang Sri (padi).

H.kern berpendapat (dari Zainal Abidin Farid) , huruf yang dipakai menulis ‘’lontarak’’ berasal dari India, yaitu huruf ‘’Pallawa’’. Bila diperhatikan, huruf ‘’lontarak’’ memang mirip dengan huruf Batak dan Lampung. Barangkali orang Bugis-Makassar telah mengubah huruf ‘’Pallawa’’ ini sedemikian rupa, sehingga tidak dapat dikenali lagi. Dari seorang pedagang kayu asal Taiwan, Mr.Cheng, Zainal Abidin Farid memperoleh keterangan bahwa huruf-huruf ‘’lontarak’’ pernah juga dipakai oleh penduduk asli Taiwan. Seorang teman mendiang Zainal Abidin Farid di Toonan Ajia Kekyuu di Kyoto memperoleh informasi kalau orang Filipina pernah juga mengenal huruf yang mirip dengan huruf ‘’lontarak’’.

Jenis ‘’lontarak’’

Selain jenis-jenis ‘’lontarak’’ yang disebutkan terdahulu, juga dikenal ‘’Lontarak Kotika’’, yakni menguraikan hari-hari baik untuk berangkat atau melakukan suatu upacara. Ada juga ‘’Lontarak Bilang’’, yakni buku catatan harian para raja. Misalnya, ‘’Lontarak Bilang Gowa-Tallo’’ yang ditranskripsi dan diterjemahkan oleh A.Ligtvoet (1877) yang memakai tahun ‘’Hera’’ (Masehi) dan ‘’Sanna’’ (Hijriah). Ada juga ‘’lontarak’’ yang mencatat nama-nama benda ‘’arajang’’ (Bugis), ‘’anrosao’’ (Luwu), dan ‘’kalampoang’’ (Makassar), yaitu segala ‘’regalia’’ atau ‘’ornament’’ selain dikeramatkan, juga menjadi simbol kerajaan. Barangsiapa memegangnya, dialah yang dianggap sebagai pemilik kerajaan dan bukan raja atau bukan rakyat.

‘’Lontarak’’ lain yang penting diketahui, ialah ‘’Lontarak Adek/Adak’’, yaitu hukum adat. Di dalamnya termasuk ‘’Lontarak Ulu Ada’’ (Bugis) atau ‘’Lontarak Ulu Kanaya’’ yang berisi perjanjian antarkerajaan di Sulawesi Selatan atau kerajaan/negara di luar. Di dalamnya termasuk ‘’lontarak’’ Hukum Pelayaran dan Perniagaan yang disusun oleh seorang kepala kampung Wajo di Makassar pada tahun 1679, yang sebagian kaidahnya masih berlaku sampai sekarang di kalangan para pelaut Sulawesi Selatan. Kumpulan hukum ini kemudian terkenal dengan Hukum Pelayaran Amana Gappa. ‘’Lontarak’’ inilah yang menurut Zainal Abidin Farid, digunakan oleh Dr.L.J.J.Caron untuk menyusun disertasi yang diterbitkan oleh NV.Uitg.Mij.C.A.Dishcek, Bussum, pada tahun 1937 dan sangat terkenal di Eropa Barat. Juga ada ‘’Lontarak Adek’’ yang berisi berbagai bidang hukum.

Hasil penelitian Cense mengungkapkan, sebagian besar ‘’lontarak’’ Sulawesi Selatan berisi sejarah. ‘’Lontarak’’ yang pernah ditemukan Matthes dan Cense pada umumnya tidak melebihi 50 halaman, kecuali ‘’Lontarak Sukkuknya Wajo’’ yang tampaknya belum pernah dipelajari oleh para ahli ‘’lontarak’’ di Nederland. ‘’Lontarak’’ itu pernah disalin dengan tebal 454 halaman. Tiap halaman berukuran 35 cm, lebar 24 cm, dan terdiri atas 30 baris tulisan kalam.

Salah satu ‘’Lontarak Adek’’ yang paling menarik adalah ‘’Lontarak Latoa’’ Kerajaan Bone, yang menjadi pegangan hampir semua raja di Sulawesi Selatan. Isinya, merupakan pelengkap perjanjian atau ‘’janci’’ antara raja yang dilantik dan wakil rakyat yang rumusannya juga ditulis di dalam ‘’Lontarak’’ sejarah. Isi ‘’Latoa’’ tersebut sebagian besar menyangkut ajaran ‘’La Mellong Kajau Laliddong’’ yang bergelar ‘’Tau Tongeng Maccae ri Bone’’ (cendekiawan pintar yang selalu menegakkan kebenaran), Penasihat Raja Bone pada abad XVI, serta ajaran ‘’La Waniaga’’ Arung Bila, Mangkubumi Kerajaan Soppeng. Ajaran keduanya mengandung ketentuan adat pemerintahan, bagaimana seharusnya raja dan para pejabat menjalankan pemerintahan. Juga, bagaimana seharusnya rakyat menghadap raja dan para pembantunya.

Di Gowa, ‘’lontarak’’ seperti ini disebut ‘’Rapang’’. Di Kedatuan Luwu (menurut Andi Pangerang Opu Tosinalele, mantan Opu Pabbicara – salah seorang anggota Dewan Pembantu Raja ) dikenal dengan ‘’pappang’’ (petuah-petuah orang pandai) di Luwu pada abad XV-XVI, bernama ‘’To Ciung Tau Tongeng Maccae ri Luwu’’, yang mengajarkan bagaimana seharusnya raja bersikap terhadap orang-orang yang diperintahnya.

Kisah tentang ‘’lontarak’’ ini cukup panjang, sepanjang dan se-lama sejarahnya. Yang masih menjadi misteri dan pertanyaan sekarang ini, apakah Daeng Pamatte yang menciptakan huruf ‘’lontarak’’ itu bukan sapaan ‘’padaengan’’ B.F.Matthes, si Belanda itu yang menemukan ‘’lontarak’’ itu sendiri? Entahlah! (MDA).

Foto : google.com

M. Dahlan Abubakar

Executive Editor

Mantan Kabag Humas Unhas ini kembali ke 'habitatnya, menjadi seorang (guru) jurnalis, penulis, dan pengajar. Beliau adalah tokoh penggerak jurnalisme Indonesia di Sulsel.

Redaksi

Related Articles

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close
%d bloggers like this: