Laju Pertumbuhan Ekonomi Bantaeng Terbaik Keempat di Indonesia

Bupati Bantaeng, Ilham Azikin bersama Kepala BPS Bantaeng, Arifin, saat menggelar konferensi pers terkait data angka laju pertumbuhan ekonomi, di kantor Bupati Bantaeng, Jumat (20/3). (IST)

KabarMakassar.com — Badan Pusat Statistik (BPS) melansir laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bantaeng pada tahun 2019 menyentuh angka 10,75 persen. Angka ini meningkat menjadi dua digit dalam kurun waktu satu tahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Bantaeng, Ilham Azikin-Sahabuddin.

Dari data BPS, laju pertumbuhan ekonomi Bantaeng pada 2017 mencapai 7,32 persen. Angka ini bertambah menjadi 8,07 persen di 2018 dan pada 2019 angkanya melonjak tajam menjadi 10,75 persen.

Posisi ini membuat Bantaeng menjadi daerah urutan pertama di Sulsel dengan tingkat laju pertumbuhan ekonomi tertinggi. Secara nasional, Bantaeng berada di urutan keempat. Bantaeng disejajarkan dengan Morowali, Kulon Progo dan Halmahera Selatan.

Prestasi ini dinilai cukup luar biasa. BPS menyebut, secara umum kondisi laju pertumbuhan ekonomi di sejumlah daerah mengalami penurunan. Sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan terpuruk sepanjang 2019 karena musim kemarau yang berkepanjangan.

“Secara umum, sektor-sektor pertanian dan perkebunan yang menjadi andalan semua daerah mulai terpuruk karena musim kemarau yang panjang. Tetapi, Bantaeng tetap kokoh dan bertahan melalui masa itu,” kata Kepala BPS Bantaeng, Arifin, di kantor Bupati Bantaeng, Jumat (20/3).

Dia mengatakan, hal ini adalah yang pertama kalinya terjadi di Bantaeng. Menurut dia, sektor yang memperkuat Bantaeng salah satunya adalah sektor pengolahan. Dimana sepanjang 2019, PT Huady memproduksi 43 ribu ton nikel. Jumlah ini, kata dia, ternyata mendorong peningkatan perputaran ekonomi yang ada di Bantaeng.

Tidak hanya itu, lanjut Arifin, peningkatan produksi ini juga menopang peningkatan penggunaan listrik di Bantaeng. Konsumsi listrik yang meningkat dengan ditopang suplai listrik yang baik juga ikut mendorong peningkatan kesejahteraan masyrakat.

“Poin yang ketiga adalah penerimaan pegawai yang dilakukan pada 2018 dan 2019. Di situ ada belanja barang dan pegawai yang menjadi support peningkatan laju pertumbuhan ekonomi,” paparnya.

Arifin menambahkan, hal yang unik di Bantaeng adalah sektor pertanian, perkebunan, perikanan dan kelautan yang tidak terpengaruh dengan kondisi kekeringan. Sektor-sektor ini tetap kokoh meski kondisi cuaca yang tidak stabil di sejumlah daerah.

“Ini juga ditopang dengan kebijakan pemerintah yang tetap menjaga kestabilan sektor-sektor ini,” jelasnya.

Smentara, Bupati Bantaeng, Ilham Azikin mengatakan, data laju pertumbuhan ekonomi yang dilansir oleh BPS adalah sebuah prestasi yang luar biasa untuk Bantaeng. Hal ini akan menjadi dasar pemerintah untuk mendorong kebijakan-kebijakan yang pro terhadap kepentingan rakyat.

Pada dasarnya, kata dia, laju pertumbuhan ekonomi yang menyentuh angka 10,75 persen ini sudah melampaui target RPJMD Kabupaten Bantaeng yang menargetkan laju pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 8,8 sampai 9 persen.

Ilham menambahkan, data dari BPS ini juga menunjukkan keberhasilan pemerintah. Indikator lainnya adalah PDRB Bantaeng yang meningkat dari Rp7,7 Triliun menjadi Rp8,7 Triliun. Selain itu, PDRB Perkapita Bantaeng juga mengalami peningkatan dari Rp41,64 juta perkapita menjadi Rp46,80 juta perkapita.

“Indikator-indikator ini menunjukkan jika ekonomi masyarakat Bantaeng mengalami peningkatan. Tentu ini adalah bagian dari keberlanjutan pemerintahan,” jelas dia. (*)

Reporter :

Editor :

Fitriani

Firdaus

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

REKOMENDASI