News

Kran Ekspor Lada Non Pestisida Lutim Diminati

Kran Ekspor Lada Non Pestisida Lutim Diminati

Kabar Makassar, Malili-- Potensi komoditi lada yang dikembangkan di kabupaten Luwu Timur terus dilirik pasar tidak saja dalam negeri, tapi juga luar negeri melalui ekspor.

Hanya saja, jenis lada yang mendapat perhatian khusus merupakan lada yang diproduksi menggunakan non pestisida atau yang ramah lingkungan. Hal itu menjadi salah satu fokus bahasan dalam diskusi bertajuk “Membuka Pasar Ekspor Lada Melalui Budidaya Pertanian Ramah Lingkungan” yang digelar di Bukit Agro Tabarano.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pembicara Eksportir Lada dari PT Pelangi Cahaya Mustika Divisi Agro Syariah Sainab Husain, Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian Dr Wiratno, Perwakilan The Institute Arotop Food & Environment Jerman, Iris Cordero. Lembagai ini merupakan lembaga penelitian dan analisis konsultan pasar rempah luar negeri.

Hadir pula Pengurus Asosiai Petani Lada (APLI) Luwu Timur, Pengurus Masyarakat Organik (AKAR) Luwu Timur dan PT VAle Indonesia Tbk yang selama ini telah mendorong pertanian sehat ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Menurut Eksportir PT Pelangi Cahaya Mustika Divisi Agro Syariah, Sainab Husain, potensi bisnis pasar ekspor lada ramah lingkungan sangat besar khususnya di pasar Eropa, meski memang konsekuensinya harga komoditi ini jauh lebih mahal dari komoditi yang menggunakan pestisida.

Dia menjelaskan, potensi produksi lada non pestisida di Luwu Timur sangat besar, apalagi memang setelah dilakukan proses screening ke petani yang menerapkan pola pertanian yang ramah lingkungan hasilnya bebas dari pestisida.

“Jadi, lada yang non pestisida kualitasnya baik dan dapat diterima oleh pasar Eropa dan permintaan saat ini terbuka,” ujarnya Selasa 29 Agustus 2017 via ponselnya.

Makanya, kata dia, untuk menjaga agar produksi lada non pestisida dari Luwu Timur dapat bersaing dan memiliki brand image produk saat ini pihaknya telah memperkenalkan branding Sorowako Pepper ke pasaran Eropa.

“Kami sudah melakukan branding produk Sorowakko Pepper non pestisida ke pasar Eropa, dari sini sangat diharapkan agar kualitas dan kuantitinya dapat terus terjaga,”katanya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, sangat diperlukan upaya bersama untuk mendorong pola pertanian ramah lingkungan pada perkebunan lada di kabupaten Luwu Timur.

Alasannya, saat ini konsumsi lada meningkat di pasar tradisional benua Eropa, yang berarti menjadi pasar empuk bagi petani lada di Lutim yang berkomitmen mengembangkan pola pertanian ramah lingkungan.

“Di Eropa, harga lada naik sebesar 15% dan 45% di Amerika Utara sebagai negara yang warganya menggunakan lada sebagai bumbu untuk menambah rasa pada masakan mereka. Meski menjadi salah satu negara penghasil komoditas lada terbesar dunia, namun hingga saat ini Indonesia hanya mampu memasok rata-rata sekitar 20-30% kebutuhan lada dunia jauh dibawah Vietnam. Dengan produk bebas pestisida diharapkan komoditas luwu timur ini bisa bersaing di pasar dunia,”ungkapnya.

Pentingnya menjaga kualitas produk lada Sorowako Pepper memang harus dikedepankan.

Menurut Perwakilan The Institute Arotop Food & Environment Jerman, Iris Cordero, menjaga kualitas produk itu menjadi hal wajib, makanya semua sample yang masuk dilakukan uji laboratorium dan analisis secara ketat mulai dari zat dan sifat kimiawi pada lada.

“Proses uji laboratorium dilakukan dengan mengambil sample dari berbagai spot pengembangan budidaya lada. Lada Sorowako pepper memiliki kualitas yang baik, tinggal menjaga agar residu racun akibat pola budidaya menggunakan pestisida bisa dinihilkan,”tuturnya.

Sementara itu, Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Kementan, Dr Wiratno menjelaskan, pestisida merupakan sarana untuk membunuh hama-hama tanaman, dan dengan cepat dapat menurunkan populasi hama hingga meluasnya serangan dapat dicegah, dan kehilangan hasil panen dapat dikurangi.

“Benefit bagi produksi pertanian tanaman tersebut bukan tidak menimbulkan dampak, Pestisida sintetik yang paling banyak menyebabkan kerusakan lingkungan dan mengancam kesehatan manusia, Tingkat kerusakan yang disebabkan oleh pestisida sintetik lebih tinggi karena tidak mudah terurai,”paparnya.

Citizen Report
Penulis: Arni

Redaksi

Related Articles

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close