Komunitas Ruang Seni Kreatif Tanggapi Polemik Ukiran Toraja di Four Point

KabarMakassar.com — Ukiran yang mirip ukiran Toraja yang terdapat di karpet salah satu hotel di Makassar menimbulkan polemik karena dikritik oleh pemerhati budaya Toraja.

Hal ini juga mendapat perhatian Komunitas Ruang Seni Budaya Topadatindo Makassar yang mulai angkat bicara soal polemik itu.

Menurut Abednego yang mewakili Komunitas Kreatif Anak Muda Topadatindo, Kasus seperti ini kembali lagi ke pribadi masing-masing untuk menilainya. Dia sendiri menilai budaya yang sebenarnya harus fleksibel dan harus mengikuti perkembangan zaman.

Baca juga :   Komeng, 10 Tahun Menderita Gizi Buruk

“Kembali lagi ke masing-masing pribadi, budaya sebenarnya tidak kaku. Budaya itu harus fleksibel dan mengikuti perkembangan agar tidak ditelan oleh zaman, seperti budaya Jepang yang tetap ada sampai sekarang karena mengikuti perkembangan dunia modern tanpa mengurangi nilai dari budaya itu sendiri,” ujar aktifis Gereja Toraja ini saat dikonfirmasi di Makassar, Kamis 11 Januari 2018.

Terkait persoalan salah satu hotel di Makassar yang dianggap tida etis memakai ukiran Toraja, Abet mengatakan bahwa ukiran tersebut tidak murni melambangkan simbol Toraja. Apalagi hotel berbintang, lanjutnya pasti memiliki pertimbangan yang matang jika membuat hal seperti itu.

Baca juga :   Jelang Pendaftaran Bakal Paslon, KPU Makassar Gelar Simulasi Bersama Kepolisian

“Ukiran tersebut tidak murni etnik budaya Toraja, karena sudah ada klarifikasi dari pihak hotel. Hotel juga tidak serampangan dalam membuat hal-hal seperti itu, budaya tidak bisa kaku, dan tetap mengikuti perkembangan zaman” tuturnya.

Dia berpesan kepada seluruh masyarakat terutama pengelola hotel agar membuat sesuatu yang berkaitan dengan budaya daerag bisa melakukan kajian yang melibatkan orang-orang yang paham mengenai kearifan lokal daerah.

Baca juga :   Peninjauan Mega Proyek ini, Batal Dikunjungi Jokowi

“Pihak hotel dalam membuat sesuatu apalagi yang berhubungan dengan budaya, harus terlebih dahulu kaji baik-baik. Ini juga pelajaran bagi pihak pengelola hotel agar tidak sembarang menggunakan simbol-simbol yang berkaitan dengan budaya lokal,” tutupnya. (*)

Penulis Enggra Mamonto