News

Keresahan Pedagang Kakilima Dibalik Meriahnya F8

Keresahan Pedagang Kakilima Dibalik Meriahnya F8

Kabar Makassar-- Sisi lain di balik euforia Makassar International Eight Festival & Forum (MIEFF) 2017. Jajaran pedangan kaki lima atau penjual pisang epe yang biasa menjajakan dagangan mereka di sepanjang lokasi anjungan merasa resah dengan adanya festival internasional yang di adakan di Anjungan Pantai Losari, Makassar. Rabu 6 September 2017.

Jejeran pedagang pisang epe yang bisanya menghiasi bahu jalan penghibur kota Makassar sebagian besar menelan pil pahit karena harus gulung tikar terhitung mulai tanggal 1 September 2017 hingga berakhirnya acara F8 pada 10 September 2017 medatang.

Pedagang yang ditemui oleh KabarMakassar.com, Marindah mengeluhkan adanya biaya pajak jika ingin membuka lapak selama perhelatan akbar Makassar International Eight Festival & Forum (MIEFF) 2017 tersebut.

Lantaran tak sanggup membayar sejumlah uang yang dipatok oleh panitia pelaksana Makassar International Eight Festival & Forum (MIEFF), sebagian pedagang pisang epe harus menganggur selama 10 hari.

"Saya disini membayar pajak Rp 3,5 juta selama 10 hari dan hanya difasilitasi tenda, ada diantara temanku yang jual pisang epe juga harus menganggur dulu karna tidak ada uangnya bayar pajak, harapan ku semoga penghasilan selama 5 hari bisa tertutupi uang dan ada lebihnya," tuturnya.

Senada dengan penuturan Dg Baji yang juga adalah pedagang pisang epe, menyampaikan keluhan berbeda dengan Marindah. Dg Baji mengaku telah membayar pajak kepada panitia pelaksana even sebanyak Rp. 2 juta selama F8 berlangsung namun hingga saat ini ia belum mendapat fasilitas apa apa dari panitia.

"Saya pribadi agak resah ka' karna harus membayar uang Rp 2 juta, terus belum adapi' tenda disiapkan dari panitia kalaupun ada pasti sempit dan cukup hanya untuk 1 kursi," akunya.

Tidak hanya itu, lanjut Dg.Baji. Adanya festival F8 ini mengharuskan ia memikirkan budged yang lebih diluar dari perencanaan sebelumnya.

"Semoga nantinya akan tertutupi biayanya dan ada lebihnya untuk kumakan karna uang yang saya pake bayarki dari utang ji juga," ujarnya.

Dari keluh kesah yang mereka tuturkan, para pedagang pisang epe ini tetap optimis dan berharap agar pengunujung masih melirik jajanan lokal meskipun banyak stand baru dari luar kota dan negeri.

"Kalo menjual ki orang itu ibarat main judi ada menang ada kalah, ada untung ada rugi. Kita mami tanggung nanti resikonya kalo rejeki sudami dibagi-bagi," imbuhnya.

Penulis: Sriwati Ilyas

 

Redaksi

Related Articles

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close