Jumlah Kasus DBD di Pinrang Meningkat Drastis

Ilustrasi - INT

KabarMakassar.com — Kementerian Kesehatan mencatat, selama medio Januari hingga awal Maret 2020 jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia sudah menembus angka 16 ribu, dengan jumlah korban meninggal dunia lebih dari 100 orang.

Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi daerah dengan jumlah kasus DBD tertinggi dengan total lebih dari 1000 kasus

Khusus untuk di Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat, sepanjang medio Januari hingga pertengahan Maret 2020, tercatat ada sebanyak 22 kasus DBD yang terjadi di wilayahnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pinrang, Dyah Puspita Dewi merincikan dari total 22 kasus tersebut, 10 diantaranya terjadi di bulan Januari (Puskesmas Bungi 2 orang, Leppangang 1 orang, Teppo 1 orang, Sulili 1 orang, Salo 4 orang, Ujung Lero 1 orang; 8 kasus di bulan Februari (Puskesmas Leppangang 1orang, Sulili 1 orang, Mattiro Deceng 1 orang, Salo 4 orang, Lanrisang 1 orang).

“Sementara untuk bulan Maret, dari awal hingga pertengahan Maret ada sebanyak 4 kasus. Rinciannya: 1 orang di Kecamatan Suppa; 1 orang di Watang Sawitto; 1 orang di Paleteang; dan 1 orang di Cempa,” papar Dewi, Kamis (19/3).

Menurut Dewi, angka kasus DBD di Pinrang selama Januari hingga pertengahan Maret ini sudah melebihi angka kasus dalam setahun pada 2017, 2018 dan 2019.

“Tahun 2017 itu total ada 12 kasus; 2018 ada 13 kasus; dan 2019 ada 13 kasus. Jadi jumlah jumlah kasus selama Januari hingga pertengahan Maret 2020 ini sudah cukup tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.

Olehnya itu, lanjut Dewi, untuk mencegah agar tidak semakin banyak warga Pinrang yang terjangkit DBD sejumlah upaya telah dilakukan Dinas Kesehatan. Mulai dari melibatkan TNI/Polri dan pemerintah maupun masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), hingga melakukan fogging di beberapa kecamatan yang menjadi daerah endemik penularan wabah DBD.

“Tiap tahun dilakukan fogging, tahun ini sudah 34 kali di beberapa titik endemik. Tentu sebelum fogging, ya dilakukan PSN melibatkan masyarakat dan beberapa elemen termasuk TNI/Polri,” jelasnya.

Dewi juga menyarankan agar masyarakat secara mandiri melakukan gerakan 3 M, yaitu menutup tempat penampungan air; menguras dan mengosongkan genangan air; dan mengubur sampah yang berpotensi menimbulkan genangan air.

“Masyarakat juga harus sadar menciptakan lingkungan yang bersih dengan gerakan 3M,” imbaunya.

Reporter :

Editor :

Rudi Hartono

Firdaus

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

REKOMENDASI