Jelang Musim Panen, Petani di Pinrang Khawatirkan Ketersediaan Solar

Combine harvester atau alat pemotong padi yang bahan bakarnya menggunakan BBM jenis solar. (INT)

KabarMakassar.com — Jelang musim panen padi di sejumlah wilayah di Kabupaten Pinrang, Wakil Ketua DPRD Pinrang, Syamsuri mengaku menerima sejumlah keluhan masyarakat terkait kekhawatiran perihal penyaluran BBM jenis solar yang menjadi bahan bakar combine harvester atau mesin perontok padi.

Syamsuri pun mewanti-wanti pihak terkait untuk melakukan antisipasi dan memastikan penyaluran solar untuk petani benar-benar tepat sasaran.

“Ada beberapa petani datang ke kami, dan mengeluhkan penggunaan solar yang tidak tepat sasaran. Termasuk pengusaha combine, yang diarahkan untuk beralih dari yang sebelumnya menggunakan solar ke dexlite,” kata Syamsuri saat di temui di ruang kerjanya, Selasa (3/3).

Ia mengatakan, hal ini tentu akan sangat merugikan petani. Pasalnya, biaya operasional jelas akan membengkak jika aharus menggunakan dexlite yang harganya lebih mahal dari solar.

“Bagi petani maupun pengusaha combine, ini tentu sangat merugikan. Apalagi di saat musim hujan seperti sekarang, dimana padi mereka banyak yang roboh. Otomatis kalau padinya roboh, biaya operasionalnya tinggi,” imbuhnya.

“Padi kondisi normal itu dalam 2 hektare butuh 60 hingga 70 liter per hari. Sedangkan kalau padi kondisi roboh, 1 hektar itu kebutuhan BBM-nya mencapai 90 liter per hari,” terangnya.

Jika hal ini tidak diantisipasi, Syamsuri khawatir kejadian dua tahun lalu akan kembali terulang di Pinrang.

“Saya khawatir kalau ini diberlakukan kejadian dua tahun lalu akan terulang. Karena tidak mungkin pengusaha combine melaksanakan pengerjaannya di lapangan jika kondisi tidak cocok. Secara otomatis mereka akan tarik diri dan beralih ke kabupaten lain. Mereka jugakan butuh uang untuk membayar angsuran cicilan combine harvesternya,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Holtikultura Kabupaten Pinrang, Andi Tjalo Kerrang mengatakan, selama ini belum ada rekomendasi yang mengarahkan peralihan BBM untuk alat pemotong padi (combine harvester) dari solar ke dexlite.

“Kalau industri itukan memang tidak boleh pake BBM subsidi. Tapi selama ini kan alat pemotong padi memang pakai solar, dan belum ada rekomendasi peralihan ke dexlite. Yang saya tahu, cuman dibatasi jumlah pemakaian solarnya. Mungkin ada aturan dari kepolisian waktu solar mengalami kelangkaan beberapa waktu lalu,” ungkapnya.

Sementara, Kapolres Pinrang AKBP Dwi Santoso yang dikonfirmasi mengaku belum mengetahui terkait ada tidaknya atuaran pembatasan penggunaan solar untuk mesin pemotong padi tersebut.

Dwi yang baru beberapa minggu menjabat sebagai Kapolres Pinrang itu berjanji akan menggali informasi tentang hal ini dan mempelajarinya bersama pihak terkait.

“Saya belum mengetahui itu. Kami gali informasi dulu dari pihak-pihak terkait ,dan akan mempelajarinya,” singkat mantan Kapolres Luwu itu.

Reporter :

Editor :

Rudi Hartono

Daus

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

REKOMENDASI