Ini Pernyataan TPF Kasus Allea

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Kabar Makassar— Kasus kematian Allea Ramadhanti hingga saat ini masih meninggalkan beberapa pertanyaan, yang harus diungkap kepada publik. Pertanyaan terbesarnya bagaimana kasus ini terjadi serta antipasi agar kasus yang sama tidak terulanglagi.

Inilah yang mendorong beberapa lembaga kemasyarakatan membentuk tim pencari fakta atas kasus Allea. Setidaknya ada lembaga yang menginisiasi terbentuknya TPF tersebut, yakni Lembaga Perlindungan Anak Sulsel, AJI Makassar,LBH Makassar dan Kabarmakassar.com. Pembentukan TPF ini dianggap penting setelah dalam Diskusi mingguan neswroom kabarmakassar yang gelar Sabtu (7/10)

Banyak hal yang perlu mendapat perhatian bersama dalam peristiwa tenggelamnya Allea di kolam renang sky pool clarion beberapa waktu lalu.

Pemimpin redaksi Kabarmakassar, saat menjadi moderator dalam diskusi tersebut,menegaskan bahwa TPF tersebut bukan mencari siapa yang salah serta siapa yang harus bertanggungjawab. Tapi lebih pada mendorong adanya layanan yang aman dan nyaman pada public space. “Ini masalah kemanusian, dan seorang bocah meninggal tanpa mendapat pertolongan yang layak, ini yang coba kita ungkap kepublik,” ujarnya. Karenanya dia berharap TPF bisa bekerja secara independen dan mengeluarkan rekomendasi pada stakeholder terkait sehingga kedepannya public space bisa memiliki SOP layanan.

Rasa prihatin juga diungkapkan oleh Ketua AJI Makassar, Agam Qordiansyah. Menurutnya jika dilihat dari sudah pemberitaan, kasus Allea tidak ada pemberitaan secara komprehensif dan liputan secara Indefth. Berita yang ada hanya berlomba pada kecepatan, padahal semestinya bisa diperdalam dengan berbagai data yang ada.

Sedang Ketua LPA sulsel Fadiah Mahmud lebih berharap kasus Allea tidak terulang lagi, dengan mendoronnga publik space dan ruang bagi anak yang aman dan nyaman. Perlunya SOP ditempat-tempat keramain dan bermain bagi anak yang bisa menjamin keselamatan anak. “Kota makassar sudah menjadi kota layak anak,karenanya pemerintah dan semua stakeholder harus menjamin rasa nyaman dan aman bagi anak,” ujarnya.

Apa yang diungkapkan oleh Fadiah, dibenarkan oleh A.Sunarno dari LBH Makassar yang juga jadi pembicara dalam diskusi tersebut. Baginya kasus Allea merupakan tragedi kemanusian yang menyebabkan kematian bagi seorang bocah akibat adanya kelalaian oleh semua pihak. Dia menegaskan bahwa kasus Allea telah menyadarkan kita bahwa masih banyak public space dan tempat keramaian yang tidak memiliki SOP yang menjamin keamanan pengunjung. Karenanya dia berharap TFP tersebut bisa lebih mendorong pada kebijakan-kebijakan yang berpihak pada masyarakat.

Berikut pernyataan TPF Allea,

PERNYATAAN SIKAP

Berdasarkan peristiwa meninggalnya ananda Aliyah Ramadhani (4 tahun) di kolam renang Hotel Clarion, Jl AP Petta Rani Makassar pada hari Senin, 2 Oktober 2017, maka kami dari Tim Pencari Fakta (TPF) menyatakan sikap :

1. Menyampaikan duka mendalam kepada keluarga besar ananda Aliyah Ramadhani atas musibah ini, semoga seluruh amalan alm di terima di sisi Alllah SWT, dan seluruh keluarga senantiasa diberikan kekuatan dan ihlas menerima,

2. Sangat menyayangkan peristiwa ini terjadi di Hotel berbintang berkelas seperti Hotel Clarion, dengan korbannya anak. Anak adalah amanah, Karunia Tuhan Yang Maha Esa, memperoleh jaminan dalam Undang-undang atas hak tumbuh dan kelangsungan hidupnya, serta mendapat perlindungan segera dari kejahatan dan pengabaian. Pentingnnya perlindungan terhadap anak perlu dilakukan, karena secara fisik dan mental, mereka belum bisa melindungi dirinya sendiri,

3. Penyelenggara Pemerintahan Kota Makassar agar lebih meningkatkan pembinaan kepada pengelola hotel/tempat yang mempunyai fasilitas kolam renang/tempat bermain anak,

4. Kepada PHRI, hendaknya dapat meninjau kembali sistem pembinaan dan pengawasan yang dilakukan, termasuk perekrutan dan penempatan petugas Sky Pool yang terlebih dahulu harus dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan tentang penanganan insiden tenggelam dalam kolam renang yang responsive anak,

5. Memperketat penerapan Sistem Operasional Prosedual (SOP) untuk kolam renang anak,

6. Menyerukan kepada APARAT PENEGAK HUKUM (Polisi) untuk segera mendalami kasus tersebut dengan mengedepankan prinsip-prinsip Hak Anak yakni Yang Terbaik untuk Anak menjadi Pertimbangan Utama,

7. Kepada Orangtua/wali untuk lebih berhati-hati, mempersiapkan perlengkapan yang diperlukan anaknya 8k untuk berenang, komunikasi dengan petugas sky pool dan mengoptimalkan pendampingan pada saat anak menggunakan fasilitas kolam renang,
Demikian Pernyataan Sikap ini di buat untuk disebarluaskan kepada semua lapisan masyarakat.(na) 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.